Tak mengherankan lagi, salah satu bagian dari seleksi LPDP yang banyak membuat calon awardee takut dan tegang ialah wawancara. Seperti yang diketahui, wawancara memiliki bobot penilaian paling tinggi dan bisa menyumbang poin terbesar dalam akumulasi skor akhir yang mampu menentukan, apakah kita bisa lolos seleksi LPDP atau tidak.

Tak sedikit peserta seleksi yang menceritakan bagaimana pengalamannya saat diwawancarai. Tak sedikit juga yang mengungkapkan kalau ada peserta yang menangis begitu keluar ruang wawancara.

Apakah semenegangkan itu hingga seleksi wawancara LPDP sampai menjatuhkan mental para peserta?

(Baca juga: Begini Cara Mendaftar Beasiswa di LPDP)

Namira Daufina (25), awardee LPDP yang hendak melanjutkan studi di University of Leeds, Inggris, untuk Jurusan New Media ini pun menceritakan pengalamannya saat mengikuti proses wawancara.

Ketika dihubungi IndonesianYouth.org, ia menjelaskan bahwa dirinya diwawancara oleh tiga penanya, yang terdri dari dua orang dosen dan seseorang dengan latar belakang psikologi. Karena mengajukan beasiswa ke luar negeri, maka ia pun diwawancara dalam bahasa Inggris.

“Aku merasa mereka cukup friendly. Mungkin keuntungan tersendiri juga karena aku merupakan orang pertama yang mereka wawancara hari itu. Jadi, masih seger dan belum butek kali, ya,” terangnya.

Nami sendiri mendapat jadwal wawancara jam delapan pagi. Bersamaan dengannya, ada 19 peserta seleksi lainnya yang diwawancarai di waktu yang sama.

Nami, sapaan akrabnya, memulai sesi wawancara dengan menyapa selamat dan menyalami para interviewer satu per satu. Tak lupa ia memohon izin sebelum duduk dan mengucap terima kasih atas kesempatan yang diberikan

“Aku percaya ketika kita datang dengan niatan baik dan ‘menundukkan’ kepala, mereka juga tidak akan ‘menyerang’ balik,” kata perempuan kelahiran Medan, 6 Oktober 1991 itu.

Saat wawancara berlangsung, perasaan Nami campur aduk. Ia menghela napasnya beberapa kali. Ia duduk diam terpaku sembari memegang kertas-kertas dokumen yang wajib dibawa saat proses seleksi. Ia sungguh berharap dirinya mendapat kekuatan dari kertas-kertas yang dipegangnya erat.

“Aku terus mengingatkan dalam diriku bahwa LPDP mencari seorang pemimpin muda di masa depan yang siap bersaing baik nasional maupun internasional. Maka, aku harus mampu menampilkan citra itu,” ujarnya.

Bagi mahasiswi lulusan Universitas Multimedia Nusantara ini, rasa takut dan khawatir yang dirasakan para peserta seleksi adalah hal wajar. Namun, lanjut Nami, jangan sampai hal tersebut membuat kita terlarut.

Maka, guna mencairkan suasana, Nami pun selalu menjawab pertanyaan dengan nada riang dan bersemangat. Untuk beberapa pertanyaan kasual seperti hobi, ia juga menyelipkan jawaban yang santai, tapi berbobot. Tak lupa, ia mengakhiri jawabannya dengan tawa ringan agar dirinya bisa merasa lebih rileks.

(Baca juga: 12 Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Wawancara Beasiswa LPDP)

Memang, sebenarnya proses wawancara tak jauh berbeda dengan mengobrol biasa. Namun, keadaannya akan menjadi berbeda ketika kita berhadapan dengan penjabaran detail mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rencana studi atau alasan-alasan terkait lainnya.

“Kamu harus bisa menyusun kata yang layak dalam bahasa yang bukan bahasa sehari-hari kamu. Menerjemahkannya dalam hitungan detik dan menyampaikannya dengan tegas, namun sopan kepada interviewer,” ujarnya.

Menurutnya, selain persiapan yang matang, kita harus mampu mengendalikan emosi kita. Jangan sampai kita merasa panik atau takut salah bicara.

“Sekali-kali meralat ucapan yang kamu rasa mengganjal, tidak masalah. Intinya, yakinkan hati dan pikiran bahwa kesempatan ini hanya datang sekali dan harus dimanfaatkan dengan sangat baik,” jelasnya.

Nami menambahkan, sebaiknya kita berfokus pada seleksi wawancara yang dijalani. Tidak perlu memikirkan awardee lain di sekitar kita yang mungkin terdengar lebih meyakinkan saat menjawab pertanyaan wawancara dalam bahasa Inggris yang fasih.

“Sekali kamu terkecoh dengan orang lain atau membiarkan ketakutan membayangi, maka proses ke depannya pasti akan semakin sulit,” sebutnya.

Kendati proses wawancara memakan waktu yang cukup panjang, sekitar 50-60 menit, perempuan yang gemar menari tradisional ini mengaku bahwa ia mulai menikmati sesi tersebut di pertengahan wawancara. Suasananya memang sempat menegangkan. Apalagi ketika dirinya ditanya soal rencana studi dan kontribusi ke depan untuk Indonesia.

“Di ruangan ber-AC itu bahkan aku sampai kepanasan. Mungkin karena panik kali, ya. Hahaha,” kenangnya sambil tertawa.

Sedikit gambaran soal tempat seleksi wawancara, waktu itu Nami mengikuti seleksi tersebut di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.

“Ruangannya lengang, soalnya seperti di hall basket gitu. Jadi, enggak ngerasa sumpek sama sekali. Pencahayaan juga terang, kok. Jarak kursi kita dengan interviewer cukup dekat karena cuma dipisahkan oleh meja kecil doang. Interviewer juga duduk dengan laptop dan kertas penilaian mereka,” paparnya.