Kabar cukup baik datang dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Per Februari 2017, pengangguran terbuka secara umum di Indonesia mengalami penurunan.

Sebelum lebih jauh, pengangguran terbuka merupakan bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan (baik bagi mereka yang belum pernah bekerja sama sekali maupun yang sudah penah bekerja), atau sedang mempersiapkan suatu usaha, mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Lanjut lagi, Februari 2016 pengangguran terbuka berada di angka 5,50 persen, sedangkan Februari tahun ini menurun menjadi 5,33 persen secara keseluruhan.

Sedangkan di bidang pendidikan, angka pengangguran terbuka didominasi para milenial yang mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan angka mencapai 9,27 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Kemudian disusul SMA (7,03 persen), Diploma (6,35 persen), SMP (5,36 persen), Universitas (4,98 persen), dan SD (3,54 persen).

Permasalahan utamanya terletak pada link and match, atau pencocokan antara apa yang diajarkan di SMK dengan kebutuhan dari dunia kerja belum terlalu sesuai.

“Ke depan SMK ini jurusannya perlu diperluas, agar tidak ada kekeliruan link dari yang dipelajari SMK dengan yang dibutuhkan dunia kerja,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto, seperti dikutip dari Detik Finance.

Hal tersebut diperkuat dengan data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 yang menunjukkan 42 persen anak-anak Indonesia –usia 15 tahun– kepayahan dalam tiga bidang yakni sains, matematika, dan membaca ketimbang negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia.

kredit: indonesiaetc.com

Permasalahan lainnya, pemelajar SMK masih banyak belum mengetahui bagaimana gambaran dunia kerja. Libertus S. Pane –yang mengutip pemikiran Andrew Carnegie– dalam bukunya The Winners Attitudes menuliskan, sebuah perusahaan sejatinya menginginkan: (1) Pekerja yang memberikan lebih daripada yang diharapkan; (2) Menetapkan standart-standart yang melebihi prestasi sebelumnya dari seorang pekerja itu sendiri; (3) Menempatkan perusahaan sebagai perusahaan sendiri dan bekerja untuk diri sendiri; (4) Menginvestasikan semangat dan moral kerja secara berkesinambungan.

Lebih jauh, pada poin pertama, Libertus menjabarkan, seorang pekerja diminta untuk meningkatkan nilai-nilai seorang pekerja bagi organisasi (atau perusahaan) jauh melampaui upahnya.

Poin kedua, secara tegas Libertus mejelaskan, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang-orang yang dengan setengah hati, sembrono, hasil kerja yang berantakan, bahkan cuek dalam bekerja.

Poin ketiga, digambarkan Libertus, perusahaan hanya menyediakan tempat, peralatan, serta tunjangan lainnya. Dan poin keempat, dunia kerja itu tidak sekadar memenuhi jadwal, memenuhi buku absen, dan masuk juga pulang kerja tepat waktu. Menurutnya, investasi semangat dan moral kerja adalah kemenangan sikap.

Menjadi pertanyaan, bagaimana caranya untuk bisa seperti itu? Satu yang pasti, menjadi relawan.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa relawan?

Head of Kompas Karier Bimo Wikantiyoso dalam acara IndonesianYouth Pitstop 2017 bertajuk “Gara-gara Jadi Relawan” di Universitas Pertamina, Jakarta, Sabtu (06/05/2017) lalu menuturkan, betapa pentingnya kegiatan kerelawanan sebagai penilaian dalam menerima para pencari kerja yang melamar ke suatu perusahaan.

Volunteering dapat membuat manusia merasakan kerja sama, melatih empati, dan belajar mengenal diri sendiri ketika berhadapan dengan tugas yang harus diemban dan bebas dari ekspektasi pribadi,” katanya.

Senada dengan itu, Activation Organization Manager Indorelawan Maritta Rastuti mengatakan, masih banyak orang yang salah paham terkait relawan dan volunteer. Ada yang berpikiran, relawan harus mapan, punya waktu, juga selalu member tanpa timbal balik. Padahal, menurut Maritta, hal itu tidak benar.

“Jadi relawan, sebenarnya yang penting itu niat. Kita juga bias mempercepat hal-hal yang ingin diselesaikan,” kata Maritta.

“Ketika kita menjadi relawan, kita merasa benefit-nya hanya untuk orang yang menerima saja. Sebenarnya, benefit-nya jauh lebih banyak ke kita. Misalnya, belajar menganalisis masalah, belajar tentang bersyukur,” sambungnya.

Anak Muda Indonesia, dari gambaran di atas jelas bahwa menjadi relawan bisa menjawab tantangan atau permintaan dari dunia kerja. Tingkat pengangguran pada pemelajar SMK bisa dihadapi dengan pengetahuan yang cukup bagaimana dunia kerja dan pentingnya menjadi relawan.

Ah, hampir tertinggal: berdasarkan data World Economic Forum baru-baru ini, tahun 2020 nanti, seseorang dituntut memiliki tiga kemampuan utama untuk mencari kerja, yakni complex problem solving, critical thinking, dan creativity.

Jadi, enggak ada salahnya lho kamu jadi relawan di berbagai kegiatan atau komunitas, sebelum kamu menyelami dunia kerja kemudian.

sumber: Detik Finance, Kata Data, Indonesia Etc, dan The Winners Attitude.