Pepatah “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina” rupanya sangat dipahami oleh millenial masa kini. Banyak sekali anak muda yang rela menempuh pendidikan lanjutan di negara lain. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kualitas pendidikan Indonesia.

Tapi itu bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, namun semua kalangan yang peduli dengan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Untuk dijadikan perbandingan, berikut 5 contoh sistem pendidikan negara lain yang mungkin saja bisa diaplikasikan di Indonesia:

Finlandia mewajibkan anak-anak belajar pada usia 7-14 tahun

Para orang tua di Indonesia sibuk untuk menyiapkan anaknya yang baru berusia 3-4 tahun untuk masuk pre-school padahal mental dan pikiran anak-anak di usia tersebut masih ingin bermain.  Sedangkan Finlandia baru mengenalkan sekolah untuk anak saat mereka berusia 7 tahun, karena pola pikir sudah mulai bisa dibentuk untuk belajar saat memasuki usia tersebut.

Amerika Serikat menerapkan sistem pendidikan yang tidak sama rata tapi tetap terukur

Jika di Indonesia masih ribut soal Ujian Nasional sebagai standar keberhasilan pendidikan, Amerika tidak mengenal adanya ujian nasional. Masing-masing daerah juga punya standar kurikulum berbeda sesuai dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing warganya. Ujian masuk kampus juga memiliki standart masing-masing. Jadi setiap siswa dari kota kecil atau besar akan punya kesempatan yang sama untuk mengikuti ujiannya.

TK di Jepang tidak mengajarkan berhitung dan membaca

Sistem pendidikan Jepang juga menganut paham jika masa kanak-kanak adalah saat untuk bermain, bukan belajar memahami angka dan huruf.  Anak-anak di TK hanya diajak bermain, bernyanyi, dan mengenal lingkungan. Mereka baru dikenalkan dengan membaca dan menghitung saat memasuki usia SD.

Tidak ada kesenjangan kualitas pendidikan antara kota besar dan kota kecil di Kanada

Kanada tidak mempunyai peringkat resmi untuk institusi pendidikan tertentu. Kita bisa menemukan berbagai sekolah berkualitas diseluruh pelosok Kanada. Tidak ada lagi perbedaan sekolah di desa dan di Kota.

Jadi murid di Singapura harus selalu bertanya

Banyak dari kita yang malas untuk bertanya dan mengemukakan pendapat saat di kelas karena tidak paham dengan pelajaran atau malah takut dianggap bodoh oleh teman-temannya. Sedangkan di Singapura para siswanya dituntut untuk menanyakan banyak hal dan memikirkan jawabannya bersama-sama. Jadi tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja.

Sistem pendidikan di atas mungkin tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia karena harus melalui banyak proses. Tapi tidak ada salahnya untuk kita para generasi millenials mengadopsi sistem tersebut untuk menularkannya pada orang-orang di sekitar kita melalui sekolah alam atau komunitas sosial lainnya. Jangan pernah menyerah untuk berkontribusi pada pendidikan Indonesia ya!

Tulisan ini ditulis oleh Indriana Putri, millenial yang tertarik dengan bahasa, dunia digital, dan social volunteerism. Pernah menjadi project director IFL Chapter Malang. Saat ini menjadi Social Media Specialist di Sisternet.co.id dan Content Writer Rumah Millennials.