Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat menempuh Ujian Nasional kepada kamu siapapun dan di manapun, semoga apa yang sudah kamu usahakan dan kerjakan hasilnya sesuai dengan harapan kamu, orang tua kamu, dan pacar kamu.

Menjelang UN, saya jadi teringat pertama kali mengalami ujian nasional saat SMP, lebih dari 10 tahun lalu. Dan masih ingat betul pelajaran pertama yang diujikan ketika itu adalah Bahasa Indonesia, di mana itu adalah mata pelajaran kesukaan saya.

Hari pertama UN, entah mengapa saya sangat rileks dan percaya diri menghadapinya. Tidak seperti kebanyakan teman saya yang deg-deg-an dan tegang. Waktu mengerjakan saya tempuh lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan. Kalau tidak salah ingat, saya murid kedua yang selesai paling cepat.

Begitu selesai, saya menunggu teman-teman yang lain. Mereka pun keluar dengan sumringah. Ini pertanda baik saya pikir. Pembahasan ketika itu cukup seru, membandingkan jawaban teman yang satu dengan yang lain, juntrungannya jelas: agar yang mereka jawab itu benar. Kalau berbeda, mereka saling beragumen demi mencari kebenarannya.

Di sisi lain, yang juga masih teman saya, tampak santai dan cengangas-cengenges. Aura kepercayaan dirinya 100 persen. Rupanya, dia salah satu murid yang mendapat bocoran soal UN dari guru sekolah kami.

“Pas ke kamar mandi ketemua pak X, eh dikasih duit goceng (Rp 5 ribu). Pas dilhiat, kunci jawaban,” katanya sambil tertawa.

Apes nian, saya sudah belajar capek-capek, tapi teman saya yang lain justru dengan mudahnya mendapat kunci jawaban. Tapi saya tidak boleh menyerah, besok saya saya harus lebih berusaha lagi. Untuk apa? Untuk mendapat kunci jawaban!

Iya, saya langsung berpikir begitu. Apalagi ujian selanjutnya adalah matematika. Kamu tahu kan mata pelajaran itu? Mata pelajaran yang tidak pernah memberikan saya kesempatan sekali saja untuk mendapat nilai 5 selama tiga tahun sekolah. Tidak pernah! Matematika adalah momok, dia membuat saya jauh dari cewek-cewek cantik nan aduhai di sekolah, membuat saya menjadi murid paling diingat satu sekolah, dan gara-gara matematika –ini terpenting– saya terpaksa kehilangan begitu saja waktu bermain bola karena harus ikut les tambahan. Duh, malang betul nasibmu, boi!

Singkat cerita, ujian matematika saya lewati dengan tersenyum, begitu juga dengan ujian-ujian selanjutnya. Oh tentu, kunci jawabanlah yang membuat saya cengengesan tak karuan. Hasilnya juga sesuai harapan orang tua –yang tidak tahu kalau nilai anaknya hasil kunci jawaban hingga saat ini. Bayangkan saja, dua mata pelajaran nilainya hampir sempurna. Sedangkan yang saya kerjakan sendiri, Bahasa Indonesia, biasa saja, hanya sedikit di atas standart.

Tak jauh beda ketika saya UN di bangku SMA. Lebih parah bahkan. Tak ada sedikit pun mata pelajaran ujian yang saya pelajari. Saban malam sebelum ujian saya hanya menunggu jawaban dengan bermain play station, sampai jam 1 malam. Iya jam 1 dinihari. Dan lulus! Lagi-lagi dengan nilai hampir sempurna.

Tetapi, dari apa yang semua saya lakukan seperti diceritakan di atas, sejujurnya tidak ada yang saya banggakan. Semuanya bukan dari jerih payah sendiri. Tetapi mengapa saya berbuat demikian?

Ketika itu, ujian nasional, entah mengapa, dikonstruksikan menjadi hal paling menakutkan: berawal dari pemerintah, sekolah, hingga –padahal ini penting– orang tua. Selaiknya, orang tua harus menjadi penenang bagi anaknya agar tidak terlalu stres menghadapi ujian. Anaknya harus diberikan keluwesan menjelang ujian. Misal, ajaklah berlibur singkat yang menyenangkan. Bukan justru melarang dia dan dipaksa belajar tanpa ampun. Bagaimanapun, bagi saya, bermain adalah hal yang tidak boleh dilupakan.

Gara-gara UN semua orang rela berbuat apa saja demi kelulusan: menerima bocoran, patungan beli jawaban hingga puluhan juta, les sana-sini berapapun biayanya.

Tapi sudahlah itu 10 tahun lalu. Beda dulu beda sekarang. Yang mau saya tekankan sebenarnya adalah belajarlah bukan karena ada ujian nasional, belajarlah bukan karena takut tidak lulus. Tetapi belajarlah dengan sungguh-sungguh dengan baik dan benar, karena belajar itu memang menyenangkan meski tidak harus di sekolah dan dari guru saja. Belajarlah karena orang tua kamu.

Terakhir, buat kamu yang akan menempuh ujian nasional besok, saya tegaskan jangan mencontoh saya yang lulus karena bocoran. Belajarlah dengan sebaik-baiknya dan serahkan pada yang kuasa. Dan jangan takut kalau tidak lulus. Kesempatan akan selalu datang bagi kamu yang sungguh-sungguh. Dengan catatan kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, ya.

Kamu juga akan lebih keren kalau tidak lulus karena menolak kunci jawaban, ketimbang lulus dengan kunci jawaban. Tapi yang lebih keren lagi kamu lulus dengan murni hasil usaha kamu.

Sebelum saya benar-benar menyudahi tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada orang tua saya yang memaksa saya sekolah, dan membuat saya mengerti kalau sekolah itu penting: untuk mengetahui kalau sekolah itu tidak penting. Sekian.