Sejak kecil, saya pemakan setia kastengel. Tiap lebaran maupun di saat lain di mana toples-toples berbagai kue kering tersedia, yang saya raih dahulu adalah kastengel. Namun, ternyata kecintaan kepada cemilan keju ini tidak dibarengi dengan keingintahuan saya tentang namanya, yang tidak terdengar seperti bahasa Indonesia.

Ternyata, kastengel merupakan perpaduan budaya kuliner Belanda dan Indonesia. Nama kue kering ini dalam bahasa Belanda adalah kaasstengels. Kaas berarti keju, dan stengels berarti batangan.

Seperti pada proses kolonialisasi pada umumnya, dua bangsa –koloni dan kolonialis– memengaruhi budaya satu sama lain. Kaasstengels adalah contoh perpaduan budaya kuliner, seperti bagaimana sate dan lumpia (di Belanda dieja loempia) yang hingga kini juga populer di Belanda.

Tak hanya sedikit bergeser pada pengucapan juga ejaan, ukuran fisik pun disesuaikan dengan keadaan lokal. Di Belanda ukuran kaasstengels lebih panjang dari yang biasa dikonsumsi di Indonesia. Konon, penyesuaian ukuran ini disebabkan karena ukuran kebanyakan oven Indonesia tidak sebesar di Belanda.

Kastengel menjadi salah satu bukti bahwa, dalam perpaduan budaya biasanya terdapat penyesuaian dengan keadaan daerah tempat budaya itu bertemu dan terbentuk. Kini, kastengel menjadi bagian perayaan hari raya seperti Lebaran, Natal, dan Imlek; kastengel sudah menjadi bagian dari berbagai budaya Indonesia, bahkan yang tidak berhubungan dengan kolonialisme Belanda.

Dengan mengingat adanya penyesuaian, maka budaya yang tidak (lagi) sesuai mungkin akan terkikis. Rijsttafel, contohnya, adalah cara makan para meneer di masa Hindia Belanda yang tak lulus ujian waktu seperti kue keju. Cara makan ini dianggap tidak nasionalis dan identik dengan kolonialisme, serta tak cocok dengan cara makan Indonesia.

Untuk sesi makan kastengel berikutnya, ingatlah bahwa camilan asinmu itu merupakan produk kolaborasi budaya yang sudah menjadi kue pokok berbagai perayaan, dan bahwa camilanmu itu sebaiknya dibagi juga dengan saudara-saudaramu.

Lalu, menurutmu, kue apa yang benar-benar khas Indonesia?