Kerusuhan Mei 1998 mencapai puncaknya: sederet persitiwa penembakan, penjarahan, dan puncaknya kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa terjadi di, khususnya di Jakarta.

Setelah peristiwa tersebut, laporan Temuan Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Tragedi Mei 1998 dipublikasi Komnas Perempuan pada November 1999 yang dikemas dalam Seri Kunci Komnas Perempuan.

TGPF menyimpulkan bahwa ada unsur kesengajaan dalam pecahnya kerusuhan dan memastikan adanya tindak kekerasan seksual dalam peristiwa tersebut. Kemudian TGPF juga merekomendasikan untuk penyelidikan lanjutan, perlindugan bagi saksi dan korban, serta pemberian kompensasi bagi korban dan keluarganya yang tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah Orde Baru (Orba).

Berikut hasil temuan TGPF yang sedikit kami rangkum:

Pola umum kerusuhan

Berdasarkan keterangan TGPF, kerusuhan mempunyai pola umum yang dimulai dengan berkumpulnya massa pasif yang terdiri massa lokal dan pendatang (tak dikenal), kemudian muncul sekelompok provokator yang memancing massa dengan berbagai modus tindakan seperti membakar ban atau memancing perkelahian, merusak rambu-rambu lalu lintas, dan lain sebagainya.

Para pelaku kerusuhan 13-15 Mei 1998 terdiri dari dua golongan yakni pertama, massa pasif (masa pendatang) yang karena diprovokasi berubah menjadi massa aktif, dan kedua, provokator. Kelompok terakhir, umumnya bukan dari wilayah setempat, secara fisik tampak terlatih, sebagian memakai seragam sekolah seadanya (tidak lengkap), tidak ikut menjarah, dan segera meninggalkan lokasi setelah gedung atau barang terbakar.

Pelaku

Laporan TGPF menemukan pelaku yang dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama provokator, sebagai penggerak massa dengan cara memancing keributan, memberikan tanda-tanda tertentu pada sasaran, melakukan pengerusakan awal, dan lain sebagainya.

Kelompok kedua massa aktif, massa dalam jumlah puluhan hingga ratusan massa pasif pendatang, kemudian terprovokasi sehingga menjadi agresif, melakukan perusakan lebih luas termasuk pembakaran.

Kelompok ketiga massa pasif, yang awalnya berkumpul untuk menonton dan ingin tahu saja, namun kemudian ikut-ikutan merusak dan menjarah setelah dimulainya kerusuhan. Namun, tidak sedikit juga yang tetap menonton.

Kerugian dan korban

Dari segi korban, TGPF mengelompokkan menjadi empat korban, yakni korban kerugian material, kehilangan pekerjaan, meninggal dunia dan luka-luka, dan korban penculikan.

Kekerasan Seksual

TGPF menemukan bentuk-bentuk kekerasan seksual dalam kerusuhan dan dibagi ke dalam beberapa kategori, yakni perkosaan, perkosaan dan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan dan pelecehan seksual.

Demikian gambaran yang hanya diambil sedikit Indonesianyouth.org dalam laporan TGPF. Sebagai Anak Muda Indonesia, sudah selayaknya kita terus mengenang peristiwa tersebut. Bagaimanapun, mereka telah memperjuangkan hak-haknya, dan, langsung ataupun tidak langsung, kita tengah merasakannya manfaatnya saat ini.

Untuk membaca lebih lengkapnya laporan TGPF kamu bisa baca di sini.