Pertama-tama saya ingin ucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017 yang, memang, sudah berlangsung pada 2 Mei lalu kepada bapak Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia.

Memang, itu sudah amat sangat lama sekali. Awalnya saya tidak ingin menuliskan ini, tapi akhirnya tak kuasa menahan gelisah ini, pak. Kedua, saya tidak ingin merusak suasana Hardiknas kita tahun ini. Dan, tepat jam 10 malam hari ini, barulah saya memberanikan diri menuliskannya.

Pak, pendidikan kita memang saat ini masih cukup tertinggal ketimbang negara-negara lain. Pendidikan kita juga masih berpusat di kota-kota besar saja, belum menyeluruh. Belum lagi, pak, minat baca kita yang rendah dan tingginya angka buta huruf, masih jadi pekerjaan rumah bapak beserta jajaran.

Tak heran, kalau kementerian yang bapak pegang saat ini mengusung tema Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas. Kementerian bapak juga melangsungkan sederet rangkaian kegiatan guna memperingati Hardiknas tahun ini.

Kebetulan, pak, pada puncak rangkaian kegiatan tersebut saya hadir di sana. Acaranya cukup megah nan meriah. Wajar saja, itu diselenggarakan oleh kementerian di sebuah mall kelas atas di Jakarta Barat.

Dalam acara itu ada panggung dan booth yang panjangnya sekian meter. Untuk menyewa tempat seperti itu, apalagi di mall mewah, saya pikir harga sewanya sangat luar biasa mahal. Asumsi saya sekitar puluhan juta.

Dengan uang sebanyak itu saya pikir lebih baik digunakan untuk memberikan buku pelajaran gratis kepada anak-anak tak mampu –siapa tahu bisa meningkatkan minat baca– atau mungkin juga seragam sekolah gratis. Ah, semoga saja sewa tempat itu gratis karena pihak mal ingin berpartisipasi dalam rangka Hardiknas. Semoga ya, pak.

Kendati begitu, saya senang lho pak, melihat susunan acara itu. Ada penampilan musik dari musisi atau musikus cilik dan muda penuh potensi. Ada juga tari-tarian daerah yang diperankan siswa-siwi Sekolah Dasar Singapura. Mereka lucu-lucu. Ada juga pembagian hadiah dari berbagai kategori lomba seperti foto dan menulis, yang hadiahnya lumayan besar. Kalau tahu lebih dulu, saya pasti ikut.

Tapi, pak, ada yang saya tidak suka dari acara itu, yang sayangnya harus saya katakan: bapak sendiri! Iya, bapak sebagai menteri di acara itu. Raut wajah bapak tidak menunjukkan kebahagiaan: datar dan pelit senyum.

Lalu sambutan pembukaan bapak, menurut saya, sangat kurang mencerminkan kegembiraan di Hardiknas sebagai menteri. Dalam hitungan saya, maaf kalau salah, tidak sampai dua menit bapak memberikan sambutan, dan tidak ada isinya sama sekali, menurut saya.

Sebelum selesai acara juga bapak berlalu saja meninggalkan tempat. Tapi, positif saya, bapak masih akan ada agenda lain yang mendadak penting atau sangat penting.

Sebelum sampai di depan lobi mal, saya sempat kejar bapak, dan ingin mengajukan satu-dua pertanyaan. Karena, tepat hari itu pak, salah satu sekolah di Yogyakarta disusupi gerakan radikal dan, kabarnya juga, 30 siswanya sudah dibaiat.

“Ya kalo 30 dari 50 juta (siswa), enggak banyaklah,” demikian kata bapak –yang menurut saya amatlah sangat ngawur— usai menghadiri Pekan Pendidikan dan Kebudayaan di Lippo Mall Puri, Jakarta, Jumat (19/05/2017).

Jawaban seperti itu saya rasa amat sangat tidak lucu pak. Hemat saya, ini bukan seberapa banyak yang disusupi gerakan radikal. Tapi ini soal “isi kepala”, pak: satu orang yang terdoktrin dengan gerakan-gerakan yang tidak mencerminkan ideologi negara dan bangsa ini sudah cukup berbahaya, khususnya untuk sekolah tersebut. Terlebih, ada 30 siswa dalam satu sekolah, pak.

Ya memang, bapak akan tindak lanjuti kasus ini. “Akan kita tangani serius. Nanti saya akan hubungi Kapoldanya dulu,” kata bapak. Saya apresiasi itu.

Dalam konteks lain, tapi masih soal ngawur-nya bapak melontarkan pernyataan adalah mengenai kelas akselerasi atau percepatan.

“Kelas akselerasi sebenarnya tidak terlalu bagus. Pada beberapa kasus, anak-anak yang berada di kelas akselerasi, gagal pada usia tua,” kata pak menteri saat pelepasan peneliti muda Indonesia yang akan berlaga di California, Amerika Serikat, di Jakarta, Jumat (12/05/2017) seperti diberitakan Antara.

Awalnya, saya tertarik dengan pernyataan bapak. Karena saya bertanya-tanya: apa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kelas percepatan selama ini?

Tapi, ketertarikan saya berubah menjadi sesuatu yang ganjal setelah bapak memberikan pernyataan lanjutan yang menyebut anak (dari kelas akselerasi) tumbuh secara instan tidak sebagaimana mestinya.

Semakin bingung saya saat bapak memberikan contoh beberapa mahasiswa bapak yang pernah berada di kelas percepatan, mengalami perceraian ketika berumah tangga. Penyebab utamanya, karena yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan superioritasnya. Pak, landasan apa yang bapak pijak sehingga bisa berbicara seperti itu?

“Ini saya bukan menakuti-nakuti anda semua. Tapi perlu mewaspadai diri dan jangan terhanyut pada pencapaian serta harus bekerja keras lagi,” kata bapak menegaskan, dan saya hilang arah.

Kalau menurut pengamat pendidikan, Muhammad Abduhzen, seperti yang saya baca di situs Tirto.id, pendapat bapak itu belum merupakan suatu hasil penelitian yang komprehensif atau berdasarkan teori yang valid. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mendukung argumen itu.

Begitu juga menurut Postgraduate Research Student di University of South Australia, Arnis Silvia, yang menyatakan setiap kebijakan haruslah berdasarkan kajian sebelum mengambil kesimpulan.

Lagipula pak, dalam riset jurnal Gifted Child Quarterly yang saya kutip dari sumber yang sama, ditemukan bahwa anak yang ikut kelas percepatan mampu membangun hubungan baik dengan temannya. Temuan dari 1.526 remaja dewasa yang saat kecil ikut kelas akselerasi menunjukkan bahwa mereka mampu mengembangkan komunikasi interpersonal seperti membentuk persahabatan, pertemanan, dan komunitas. Temuan lainnya adalah anak-anak yang mengikuti kelas akselerasi punya perspektif yang lebih positif terhadap pendidikan dibandingkan yang tidak.

Pak Muhadjir Effendy yang terhormat dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak, tulisan di atas hanyalah keberatan saya pribadi terhadap beberapa pernyataan yang pernah bapak sampaikan. Tidak ada tendensi apa-apa.

Bagaimana pun, saya pribadi masih menunggu gebrakan positif bapak yang bisa menjadi awal perbaikannya sistem pendidikan di negara kita. Saya menunggu dan akan terus menunggu, baik saat bapak menterinya atau menteri selanjutnya. Terus begitu.