Banyak orang berpergian untuk keliling dunia. Namun sebaliknya, ketika kamu berada di kota New York, dunia terasa mengelilingi kamu. Dengan tingginya angka imigran dan komunitas internasional yang bermukim di New York, cukup sulit untuk fokus pada generasi millennial negara tertentu.

Namun pada umumnya, kaum millennial yang tinggal di New York dipengaruhi oleh beberapa faktor (yang mungkin tidak eksklusif terjadi di kota ini saja), yaitu:

Waktu

Pada umumnya kaum millennial New York selalu harus berpergi ke satu tempat ke tempat lainnya, dan ini berpengaruh pada gaya berjalan mereka yang super cepat. Hal ini mungkin juga dipengaruhi dengan kondisi tempat tinggal yang sempit sehingga banyak millennial yang memilih untuk keluar dari kamarnya.

Keberagaman

Kota ini terdiri dari beragam “kelurahan” atau neighborhoods yang mayoritas dihuni oleh kelompok etnis atau ras tertentu. Ada Little Italy, K-Town, Little Syria, komunitas masyarakat Indonesia yang banyak terdapat di Queens, Chinatown, populasi hispanik di Hamilton Heights, Hasidic Jews di Wiliamsburg, African-Americans di Harlem dan seterusnya. Tapi, perlu dicatat bahwa sejak medio 2000, gentrifikasi dan pola pembangunan propertinya semakin gencar sehingga arus bisnis dalam kota terus berubah. Oleh karenanya, tidak ada kelompok tertentu yang benar-benar hanya ada di satu neighborhood saja.

Toleransi selalu ditekankan di sekolah, dan ini diperkuat dari penetapan beberapa hari libur sekolah negeri seperti Idul Fitri dan Imlek. Akan sangat lumrah ketika kamu medengar pembicaraan-pembicaraan dalam bahasa nonInggris di sini. Banyak di antara mereka yang memiliki bahasa kedua seperti bahasa Spanyol, Mandarin dan Prancis.

Melek Teknologi dan Informasi

Millennial di mana pun akan sangat bergantung dengan gawai yang dimiliki. Penggunaannya tidak sebatas untuk tersambung dengan media sosial saja, tetapi juga untuk berbelanja online, menunggu bus datang, menghitung kalori dan denyut jantung, cek rating aplikasi tempat makan, dan masih banyak lagi. Ketergantungan ini ada plus-minusnya, karena sewaktu saya nyasar lalu menanyakan arah, saya dapat beberapa jawaban ketus yang langsung mengarahkan saya untuk mengeceknya di ponsel –padahal saya kan pengen ngobrol sama manusia hehehe. Selain itu, karena sumber informasi serba online atau bisa ditanyakan via telepon, norma lumrah yang berlaku di sini adalah bukan “malu bertanya sesat di jalan”, tapi “berusaha cari infonya dulu, baru bertanya.”

ilustrasi generasi millennial

Sadar kesehatan

Millennial kota New York gemar berolahraga dan memperhatikan diet. Ada yang datang ke kelas pagi dengan masih memakai baju olahraga dan banyak yang sadar akan pentingnya membentuk tubuh supaya berotot. Hal lain yang menarik adalah mereka memahami bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Egaliter

Secara umum, pola komunikasi di Amrerika cenderung santai. Tidak ada jarak berkomunikasi atau adat tata krama khusus dengan dosen maupun generasi yang lebih tua. Mereka cenderung lugas mengutarakan pendapatnya. Lingkungan akademik kampus mendorong para millennial untuk berargumentasi secara santun dan tidak mempermalukan lawan bicara dengan sudut pandang, tingkat pemahaman, pengalaman akademis atau latar sosio-ekonomis yang berbeda. Mahasiswa di sini pun diajarkan untuk selalu memperhatikan konteks dari suatu diskusi, karena seringkali tidak ada jawaban hitam atau putih, benar atau salah, maupun pendapat yang benar-benar bebas dari bias pribadi.

Mereka tahu apa yang mereka mau dan bersungguh-sungguh

Kota New York kota yang keras. Karena kaum muda dari segala penjuru dunia bersaing dan berkolaborasi untuk mengejar aspirasinya masing-masing. Oleh karenanya, millennial Kota New York memahami bahwa self-personal branding saja tidak cukup. Mereka sadar semuanya perlu proses, namun di saat yang bersamaan mereka harus berusaha untuk tidak tertinggal. Mereka juga rajin mengikuti acara networking, berkonsultasi dengan career services kampus, tidak eksklusif berdiam dengan komunitasnya sendiri, mencermati tren ketenagakerjaan dan memiliki rencana studi atau karier dengan rencana A, rencana B, atau rencana C.

Tulisan ini ditulis oleh Ashila Reza, diplomat muda dengan spesialisasi sebagai Analis Hukum dan Perjanjian Internasional. Bisa dihubungi di [email protected]