Katanya millennial itu generasi yang super unik. Cara kita bersosialisasi serta berkomunikasi, memandang hidup, memilih pekerjaan, urusan percintaan, hingga cara membantu sesama berbeda jauh dengan generasi sebelum kita. Katanya millennial itu suka ngoyo, ngeyelan, tapi punya kekompakan sendiri dalam menentang nilai yang pernah ada di generasi Baby Boomer dan generasi X. Masa sih? Sampai ke urusan bantu-membantu pun demikian? Ah, masa sih? Menurut saya sih enggak.

Jujur, saya nggak bakal lupa gimana rasanya waktu pertama kali jadi seorang relawan. Kacau, tapi asik. Melelahkan, namun menyenangkan. Ada bentuk kebahagiaan yang justru menenangkan, melahirkan empati yang mendalam, dan membuat saya ingin membantu lebih, lebih, dan lebih. Sebuah kepuasan sendiri ketika saya berhasil merelakan apa-apa yang saya miliki dan cintai untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak melulu uang. Tidak melulu tenaga. Tapi bisa juda dengan ilmu dan waktu.

Bagi orang tua dan tetua lain di keluarga besar saya, menjadi relawan adalah hal baru. Mereka cenderung mendefinisikan “membantu sesama” dengan berdonasi. Jika ada yang kesusahan ya dibantu dengan uang. Makanya ketika saya izin untuk pergi jauh berkilo-kilo meter ke luar pulau hanya untuk mengajar di sebuah sekolah pedalaman, ada sedikit pertentangan yang muncul ke permukaan. Seorang perempuan, pergi sendirian, ke tempat yang jauh dari kehidupan modern, rela cuti kerja, hanya untuk membagi ilmu ke anak-anak yang nggak pernah punya hubungan apapun dengan kita. Buat generasi lain mungkin sounds weird ya, sementara buat saya itu adalah sebuah tantangan dan keasikan sendiri.

Emang nggak bisa dipungkiri sih, mengajar isn’t my cup of tea. Sehari-hari lebih sering menghadap layar komputer ketimbang liat muka orang. Lebih nyaman berkomunikasi lewat aplikasi messenger, tapi bercita-cita menginspirasi anak Indonesia yang masih terbelakang. Paradox. Namun modal nekat, saya tunaikan juga keinginan untuk berbagi tersebut lewat gerakan Kelas Inspirasi.

Sehari-hari saya berprofesi sebagai Digital Marketing. Jadi kalau ditanya sukanya ngajar apa? saya lebih nyaman untuk bercerita soal internet dan dunia yang tersembunyi di belakangnya. Just FYI, masih sangat banyak sekali anak Indonesia yang nggak tahu apa itu internet. Benar-benar menantang banget untuk bisa menjelaskan apa itu internet secara sederhana, pula menjelaskan apa benefit yang bisa didapat dari berinteraksi lewat internet, namun jangan sampai menjerumuskan merek ke sisi jahat dunia maya. Tricky banget, to be honest. Tapi tiap liat antusias belajar mereka, semua yang awalnya tampak seperti barrier langsung luluh gitu aja. Magis. Apalagi binar mata mereka akan ilmu baru. Luar biasa, bikin saya jatuh cinta.

Hal ini makin diperkuat dengan fakta bahwa gerakan mengajar Kelas Inspirasi ini sudah merambat ke hampir semua provinsi di Indonesia. Keinginan untuk melangkah lebih jauh pun kian tinggi. Seorang teman yang ketagihan jadi relawan pengajar pernah cerita pada saya kalau keluarganya di rumah mulai protes tiap kali dia izin berangkat. “Mau ke mana lagi?” kalimat itu kerap mendarat di telinganya dengan nada kurang nyaman. Ada pula teman yang cerita kalau rekan kantornya malah suka rempong titip dibawakan oleh-oleh ketika ia ke daerah tertentu. Kan lucu, orang mau berangkat untuk mengabdi kok malah dibebani dengan keharusan membawa buah tangan.

Nggak bisa dipungkiri bahwa saya dan teman-teman generasi millennial masih suka menemukan pergesekan pola pikir dalam membantu sesama dengan generasi lain. Kami, saya akui benar, sangat suka membantu sesama dengan menyumbangkan hal-hal yang berguna bagi penerima dan juga kami sendiri.

Terjun langsung ke lapangan adalah ciri millennial. Membagi ide, mengembangkan gagasan, memupuk mimpi, serta menumbuhkan ruang. Mengaplikasikan kemampuan yang dimiliki, bertemu teman-teman baru di tempat mengabdi, serta menyaksikan langsung dampaknya bagi penerima adalah hal yang jadi tujuan utama millennial. Generasi ini sangat suka membantu sesama, caranya adalah dengan tumbuh bersama.

Tak hanya itu, millennial juga sudah sangat kreatif dalam membangun platform untuk berdonasi. Hal ini tentu ditujukan untuk generasi di atas dan bawah kami agar mudah menyalurkan sumbangan bagi yang membutuhkan. Bisa lewat web, aplikasi, dan sebagainya. Jika ada yang kesusahan, dengan mudahnya akan viral sehingga banyak yang tergerak untuk membantu. Tak perlu takut tertipu, perantara donasi pasti akan mengunggah dokumentasi penyerahan di segala lini media sosial. Yup, beginilah cara kami berbagi. Sederhana, cepat, dan tampak langsung impactnya.

Nah, kalau ada yang bilang millennial ini unik, termasuk dalam membantu sesama, maka, yes, kami memang punya path sendiri. namun tak perlu khawatir, millennial terkenal sebagai generasi yang murah tangan kok. Jadi, sudah membantu siapa kamu hari ini?

Tulisan ini ditulis oleh Winona Rianur. Multipotentialite–INTP ; berprofesi sebagai Digital Marketing Manager di sebuah Startup di Surabaya. Dapat ditemui di [email protected]