Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini ada sebuah pertanyaan yang terbayang-bayang, kenapa saya masih ngebahas perihal ini, toh beritanya juga udah lewat, semuanya juga sudah ikhlas, dan almarhum bukanlah sosok yang mampu menjadi penggerak banyak orang sehingga terkenang. Tapi saya masih saja menyikapi dan janggal dengan pernyataan ayah almarhum yaitu “Collapse by Design” sebagai motif meninggalnya Oka Mahendra.

Kurang srek rasanya jika tidak diawali dengan latar belakang meninggalnya Oka di pekan kemarin yang kemudian bukan hanya mengundang banyak tanya, tapi juga cibiran oleh warganet, dengan segala fasilitas di dunia maya.

Bukan rahasia publik lagi bahwa Oka (dan kawan-kawan) didapuk sebagai influencer yang cukup memberi pengaruh di mata warga (Indonesia). Sebab-musababnya karena konten yang ia buat dinilai bombastis.

Lalu pada akhir pekan ini ia pun menghembuskan napas terakhir setelah kabar bunuh diri ramai di dunia maya. Segenap selebgram dan influencer memberikan simpati kepadanya diiringi pergunjingan yang sukses menaikkan kabar kepergiannya.

Singkatnya, almarhum dikebumikan, dan ketika ditanyakan penyebab kematian, ayah Oka memberikan pernyataan, “Dia collapse by design, karena teman-temannya.”

Gemuruh warganet kian hebat, bukan karena berita bela duka, melainkan statement tersebut. Warganet berbondong-bondong menjadikan konten untuk di repost baik berupa Instastory, artikel, bahan ghibah, dll. Dan kebanyakan yang me-repost pun orang-orang kreatif yang di antaranya para desainer dari multidisiplin karena erat kaitan dengan kata “design” tersebut.

Umumnya para desainer (grafis, mode, interior dll) mempunyai kerjaan yang cukup berat, dan bisa dikatakan pull off dari segala aspek maka timbulah lelucon, “kami mati untuk seni”. Lelucon itu kemudian menjadi pembelaan sederhana ketika melihat postingan statement ayah almarhum yang kemudian di repost, repost, dan repost.

Esoknya setelah pernyataan tersebut dicetuskan oleh ayah Oka, muncul sebuah definisi yang menjelaskan, “Collapse by design merupakan pembunuhan karakter yang direncanakan, atau membuat kemalangan yang direncanakan rencana itu merujuk ke berbagai kata kunci seperti strategi, diatur, konsisten, kontinu, dan bully.”

Definisi tersebut rupanya tidak didasari sumber yang jelas. Lalu apakah ini semacam mitos baru?

Saya mencoba menanyakan, baik kepada mahasiswa psikologi dan kriminologi, dari universitas ternama (UI), dan bahkan bertanya langsung ke organisasi yang konsentrasi pada hak-hak dan isu sosial (Pamflet), saya pun bermuara pada satu jawaban: “Enggak ada terminologi sepert itu bro!”

Terminologi collapse by design bukan sebuah istilah yang dikenal baik di dalam dunia kriminologi ataupun psikologi, namun merupakan istilah dalam ekonomi yang mengacu pada buku Alfred P. Thorne, poor by design.

Kata “collapse” mungkin diambil karena menggambarkan kejatuhan almarhum sendiri. Oke ditahap ini mari kita bandingkan dengan simpulan yang saya dapat baik dari buku Alfred P. Thorne maupun definisi collapse by design tadi –yang tak jelas sumbernya itu.

Poor by design dalam buku Alfred P. Thorne, yang diambil dari website buku tersebut, menjelaskan tentang hambatan struktural di negara-negara termiskin di dunia terhadap pembangunan ekonomi. Buku ini menunjukkan mengapa dan seberapa kuat elit dalam merancang  penggunaan lahan, produksi pangan, militer, pemilihan umum dan sosioekonomi untuk mempertahankan dominasi.

Tidak sampai di situ, saya, bersama tim IndonesianYouth.org, mencoba cari tahu lagi dari sudut pandang lain. Kami mencoba menanyakan kepada dosen Krimonologi Universitas Budi Luhur, Chazizah Gusnita, tentang hal sama.

“Aku sih belum pernah dengar ya. Adanya tuh anomie. Anomie ketiadaan norma yang bikin orang bunuh diri. Saking semrawutnya bikin seseorang tidak melihat norma-norma kebaikan di masyarakat makanya hampalah dia, dan bunuh diri. Teorinya sih begitu,” kata Chazizah saat dihubungi IndonesianYouth.org. “Collapse by design selama ini belum tahu teorinya apa. Kalau soal bunuh diri, ya teori kriminalnya itu.”

Penjelasan Chazizah merujuk pada teori Emile Durkheim dalam Bunuh Diri (1951). Durkheim mengidentifikasi beberapa tipe, yang meliputi altruistik (bunuh diri “tak egois”), egoistik (bunuh diri terpusat diri), dan anomik (bunuh diri karena “anomi”) atau keadaan tanpa norma dalam masyarakat).

Segendang sepenarian, menurut psikolog klinis dewasa Anna Margaretha Dauhan dari Pusat Informasi dan Rumah Konsultasi TigaGenerasi Jakarta, seperti dikutip dari Tempo.co, mengatakan di dunia psikologi tidak ada istilah tersebut. Namun Anna mencoba menganalisa makna dari pernyataan ayah Oka.

“Mungkin maksudnya karena tidak makan berhari-hari, akhirnya kondisi fisik Oka Mahendra menurun, akhirnya meninggal,” ujar Anna.

Tapi di ujung tulisan ini saya baru ‘ngeh, jangan-jangan istilah itu memang merujuk seutuhnya kepada frasa “design” itu sendiri, tanpa embel-embel: sebetulnya dibuat secara spontan dengan kata kunci rancangan. Bahkan, buku poor by the design pun tak cukup valid untuk menyambungkan variabel-variabel ini.

Maka baiklah saya akhirnya tak cukup puas menyadari istilah collapse by design itu tak jauh-jauh dengan akar katanya masing-masing.