Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan minat baca orang Indonesia hanya 0,001 atau dari tiap 1000 orang hanya ada 1 yang membaca. Data tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi kedua dari bawah dalam keliterasian dunia, hanya setingkat di atas negara asal Afrika, Botswana, nomor 60 dari 61.

Padahal, di Indonesia, penghasil karya tulis atau karya sastra berlimpah. Kehadiran mereka, paling tidak, membuat kita masih bisa terus optimis akan perubahan data-data di atas.

Eka Kurniawan misalnya, melalui novel Lelaki Harimau, masuk nominasi The Man Brooker Internasional Prize 2016 Inggris, pada April lalu. Lewat karyanya itu, Eka mampu bersejajar dengan penulis-penulis dunia seperti Han Kang (Korea Selatan) dan Orhan Pamuk (Turki).

Lanjut lagi, di Oktober 2016 lewat acara pameran buku internasional terbesar dan tertua, Frankfurt Book Fair, Indonesia dengan bangga telah memamerkan 300 buku hasil pilihan kurator independen. Berpartisipasinya Indonesia tak lain karena undangan dari sang Presiden Frankfurt Book Fair, Juergen Boss, Sebab, di tahun lalu Indonesia telah berhasil membuat sang presiden, juga peserta lain, terpukau.

Tahun 2016, tak berlebihan bila dikatakan sebagai tahun para penghasil karya sastra. Karya-karya mereka begitu banyak meramaikan kancah kesusastraan Indonesia. Sedap dibaca tentunya. Apa saja? Berikut ini karya-karya sastra arus utama di tahun 2016 yang sangat recommended untuk dibaca.

  1. Intelegensi Embun Pagi – Dee Lestari (Bentang Pustaka).
  2. O – Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama).
  3. Ibu Mendulang Anak Berlari oleh Cyntha Hariadi (Gramedia Pustaka Utama).
  4. Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur (Gramedia Pustaka Utama).
  5. The Architecture of Love – Ika Natassa (Gramedia Pustaka Utama).
  6. Hujan – Tere Liye (Gramedia Pustaka Utama).
  7. Milea, Suara dari Dilan – Pidi Baiq (Pastel Books).
  8. Buku Tentang Ruang – Avianti Armand (Gramedia Pustaka Utama).

Tak hanya karya-karya sastra arus utama, karya indie atau mandiri –atau saya lebih suka menyebutnya berdiri sendiri– juga tak kalah memukau. Bahkan, tak sedikit yang menjadi perbincangan publik:

  1. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareanom (Banana Publishing).
  2. Pendidikan Jasmani dan Kesunyian – Beni Satryo (EA Books).
  3. Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya (Banana Publishing).
  4. Playon – F. Aziz Mana (Penerbit Pagan Press).
  5. Allepo – Rusdi Mathari (EA Books).
  6. Aku, Meps, dan Beps – Soca Sobhita & Reda Gaudiamo (POST Press).
  7. Seikat Kisah tentang yang Bohong – Berto Tukan (Alpha Centauri).
  8. Simulakra Sepakbola – Zen RS (Indie Book Corner).

Mengingat begitu dahsyatnya para penghasil karya di Indonesia, rasa-rasanya perlu untuk kita apresiasi dan aplikasikan. Seperti sudah yang dipaparkan sedikit di atas, bahwa tingkat baca di Indonesia begitu rendah, maka perubahan kebiasaan harus dimulai dari sekarang.

“Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar,” ucap penulis Zen Rachmat Sugito.

Mungkin, dari tingginya minat berkomentar yang dikatakan Zen itu seperti apa yang dikatakan Karlina Laksono Supelli dalam pidato kebudayaannya: “(meski minat baca rendah) Indonesia nomor 5 paling cerewet di dunia. Jakarta, bahkan, adalah kota paling cerewet di dunia maya: 15 tweet per detik!“