Bunda Teresa, peraih Nobel Perdamaian tahun 1979 pernah berujar, “It’s not about what we give, but how much love we put into giving”. Tampaknya, pesan ini menjadi dasar atas segala bentuk cinta kasih di dunia.

Hal ini juga dilakukan Ratna A. Tirtasari, seorang relawan di Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI), yang beberapa waktu lalu sempat dinominasikan dalam Festival Relawan 2016.

Bila Bunda Teresa memberikan penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, TBC, juga lepra, serta memberikan konseling bagi anak-anak, keluarga, panti asuhan, dan sekolah, yang dilakukan Ratna mungkin tak seberapa. Lewat YPKAI, ia mencoba untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada seorang anak pengidap kanker.

Sebelum melakukan pendampingan terhadap pasien, perempuan berusia 22 tahun ini mendapatkan pelatihan program paliatif kanker anak yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit berat. Di sini, Ratna mendapat penjelasan bagaimana cara menghadapi pasien yang mood-nya sedang down karena efek kemoterapi, juga orangtua yang marah atau sedih karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Penulis IndonesianYouth, Sintia Astarina, berkesempatan mewawancarai Ratna untuk mengetahui apa yang dilakukannya selama menjadi pendamping. Berikut hasil wawancaranya.

Kenapa mau jadi volunteer dan meluangkan waktu serta tenaga?

Saya merasakan kegiatan ini seperti panggilan jiwa, karena tiap melakukan kegiatan pendampingan ini, jiwa saya seperti ter-recharge. Ada kepuasan batin terpenuhi, yang pada akhirnya nagih untuk terus diisi. Jadi, dengan sendirinya dan sukarela saya mengeluarkan waktu dan tenaga.

Di YPKAI, bentuk pendampingan seperti apa yang dilakukan terhadap pasien?

Saya dan kelompok mendapat tugas untuk mendampingi pasien bernama Alif (pengidap kanker neuroblastoma). Umurnya baru mau lima tahun dan belum pernah sekolah. Kebanyakan pasien disarankan untuk tidak sekolah, maka dari itu kami menjadi guru pengganti untuk Alif yang belum bisa merasakan sekolah.

Kami belajar calistung (membaca, menulis, berhitung), mewarnai, mendengarkan cerita-cerita Alif, semua itu disesuaikan dengan apa yang Alif ingin pelajari.

Tak hanya sebatas menjadi guru saja, kami juga menjadi tempat curhat orangtua pasien. Tiap pendampingan, ada sesi ngobrol dengan orangtua terkait apa yang dibutuhkan, perkembangan kemoterapi, juga kondisi kesehatan dan pengobatan pasien. Secara tidak langsung kami menjadi penyambung lidah antara orangtua pasien dengan Pita Kuning.

Sebenarnya, hal paling dasar apa yang dibutuhkan pasien kanker?

Selain biaya (uang) untuk pengobatan, tentu saja perhatian. Dengan perhatian, mereka akan merasa tidak sendirian. Menurut saya pribadi, ini poin utamanya, membuat mereka merasakan mempunyai teman. Dengan begitu, mereka bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa, terutama bagi pasien kanker dengan kondisi fisiknya berbeda.

Sebagai relawan, apa hal paling berkesan yang pernah dialami?

Saat berkumpul dengan volunteer lain dan sharing tentang pasien yang didampingi. Hal ini sangat berkesan buat saya karena kita bisa saling belajar satu sama lain, terutama dengan tim yang pasiennya seumuran. Kumpul volunteer juga bisa jadi salah satu kesempatan untuk meminta advice terkait masalah-masalah yang mungkin bakal timbul saat pendampingan pasien. Hal ini benar-benar jadi ladang ilmu buat saya.

Lalu, adakah hal yang membuat tersentuh saat mendampingi pasien atau orangtua pasien?

Semangat hidupnya dan semangat dia (Alif) buat belajar. Kadang, saya merasa tersentil apabila secara tidak sengaja mengeluh karena sakit. Saya punya maag akut yang kadang kalau kambuh, bikin saya tidak bisa tidur karena perut sangat nyeri. Lalu, teringat perjuangan Alif yang melawan kanker saja tidak pakai ngeluh, masa saya yang cuma maag akut ngeluh? Bahkan, di umur dia yang belum genap lima tahun, dia tidak pernah mengeluh sakit kalau lagi disuntik atau pas diambil darahnya. Dia juga dengan santai kasih tangannya yang kecil banget ke suster buat diinfus.

Terkait semangat belajarnya, dia sudah mengerti kalau belum boleh masuk TK, makanya dia senang sekali kalau saya datang kunjungan karena bakal ada pelajaran baru yang bisa dia dapat kayak temen-temen seumurnya yang udah masuk TK.

Selain itu, yang juga buat saya terenyuh adalah kedekatan saya sama Alif. Alif itu benar-benar pemalu banget dan selalu nempel sama orangtuanya. Dia susah ketemu orang baru yang tidak seumuran sama dia. Tapi alhamdulillah, saya sama Alif sudah mulai bisa dekat sejak pertemuan ketiga.

Saya sempat sakit DBD dan selama 3 minggu tidak kunjungan. Papanya Alif whatsapp saya, bilang kalau Alif nanyain terus kenapa saya udah lama tidak datang lagi ke rumah Alif. Hal itu yang kadang membuat saya sadar, ternyata ketika memberi perhatian ke orang lain dengan tulus, orang itu juga pasti bakal balas perhatian itu.

Apa bentuk perhatian atau dukungan moral yang kamu berikan untuk orangtua pasien?

Selama jadi pendamping buat Alif, saya mulai sadar bahwa keadaan orangtua pasien itu juga penting karena mereka yang berinteraksi langsung sama anaknya. Di sini, peran saya dalam sebatas mendengarkan keluh kesah orangtua. Selain curhat tentang kondisi anaknya, mereka juga cerita tentang kondisi keuangan keluarga mereka, kehidupan mereka sehari-hari, juga pengalaman mereka bertemu dokter.

Menurut saya, untuk anak seusia Alif sebenarnya orang yang paling stres itu justru orangtuanya. Karena mereka tidak cuma harus menyiapkan uang untuk pengobatan anaknya, tapi juga mental untuk siap kehilangan, mengingat kondisi anak pengidap kanker itu unpredictable.

Oh ya, semua kegiatan pendampingan mingguan yang kami lakukan ini ada laporannya dan disampaikan ke internal Pita Kuning tiap minggu. Jadi, mereka pun tahu kondisi orangtua pasien dan pasien itu seperti apa.

Beberapa waktu lalu dinominasikan sebagai salah satu relawan terpilih dalam Festival Relawan. Apa harapan kamu selajutnya?

Semoga orang-orang jadi lebih aware terhadap penyakit kanker. Semakin banyak generasi muda yang terpanggil jiwanya untuk saling mbantu membuat kualitas SDM dan hidup masyarakat Indonesia semakin tinggi.

Bagaimana cara meningkatkan awareness tersebut?

Saya mulai dari diri saya dan teman-teman sekitar. Karena sebenarnya sel kanker itu dimiliki sama semua orang, jadi siapapun sebenernya punya potensi terkena kanker. Saya biasanya kalau sedang kumpul sama teman-teman, suka buka topik tentang kegiatan masing-masing. Lalu, saya mulai bercerita soal Pita Kuning, soal ciri-ciri kanker itu apa saja, mulai dari ngomongin kondisi fisik, dan juga sikap kita apabila punya teman atau keluarga yang sakit kanker.

Nah, kalau kita punya teman atau keluarga yang sakit kanker, bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka?

Sebisa mungkin kita harus bersikap biasa aja di depan mereka. Maksud saya, bukannya menunjukkan sikap tidak peduli atau mengurangi rasa empati, tetapi bagaimana membangun suasana nyaman layaknya mereka itu tidak sakit.

Sebagian orang yang mengidap kanker cenderung malu dengan keadaan mereka, terlebih ketika mereka berada di usia tergolong sudah mengerti apa itu kanker. Mereka yang pemalu akan menutup diri karena merasa berbeda dengan anak lain.

Apa jadinya kalau kita memosisikan mereka seperti anak sakit atau meluapkan rasa empati kita langsung di depan mereka sambil menangis? Tentu saja mereka akan merasa tidak enak dan makin stres karena penyakitnya.

Untuk itulah, lebih baik di depan mereka kita harus menunjukkan sikap bersemangat, optimis, dan mengajak bermain seperti biasanya. Namun, kita juga harus tetap memerhatikan kondisi mereka.

Sebagai anak muda, mungkin kita tidak punya banyak uang buat membantu pengobatan mereka. Bagaimana caranya kita bisa berkontribusi untuk meringankan beban mereka?

Dengan bergabung jadi volunteer di Pita Kuning yang mengkedepankan program paliatif. Hehe. Maaf, jadi iklan.

Kalau kita tidak bisa kasih bantuan berupa uang, kita bisa bantu menghubungkan mereka dengan yayasan yang memberikan bantuan untuk penderita kanker. Selain itu, kita bisa berteman dengan si penderita, mencoba mengenal pribadinya, saling membangun kepercayaan agar kita bisa menjadi salah satu media mereka untuk melepas stres dan merasa nyaman.