Menilik perjalanan diselenggarakannya Piala Dunia pertama kali, hingga akhirnya menjadi pesta akbar sepak bola empat tahunan, memang tak bisa lepas dari negara asal Amerika Selatan, Uruguay. Tepat pada tanggal ini, 87 tahun lalu, Uruguay menjadi juara Piala Dunia pertama yang sekaligus tuan rumahnya.

Tuan rumah kala itu, kebetulan sedang merayakan hari kemerdekaannya yang genap 100 tahun, memang sedang ganas-ganasnya. Pertandingan final pertama ini mempertemukan kesebelasan Uruguay dan penantangnya sesama Amerika Selatan, Argentina.

Belum adanya peraturan untuk menggunakan warna kostum yang kontras berlawanan, membuat kedua kesebelasan sama-sama tidak ingin kehilangan identitas kebanggaan negaranya. Uruguay tampil dengan kostum berwarna biru langit, sementara Argentina hadir di lapangan dengan warna kebesarannya, biru muda yang dipadukan dengan garis putih, seperti warna bendera negaranya. Penampakan di lapangan pun menjadi samar.

Belum selesai sampai di persoalan kostum, urusan bola yang digunakan pun mereka tidak ada yang mau mengalah. Uruguay dan Argentina sama-sama ingin menggunakan bola yang dibuat di negara masing-masing.Sang pengadil di lapangan hadir memberikan win-win solution: babak pertama menggunakan bola dari Argentina, babak kedua menggunakan bola dari Uruguay. Mufakat tercapai.

Pertandingan final dijalankan. Nama-nama seperti Pablo Dorado, Hector Castro, dan Santos Iniarte sukses menkalukkan Argentina dengan hasil meyakinkan 2-1. La Celeste, begitu Uruguay dijuluki, keluar sebagai juara pertama kalinya.

Begitulah kiranya kisah singkat ajang Final Piala Dunia pertama, yang hingga kini mampir setiap empat tahun sekali di planet bumi.

kredit: wikipedia

Bicara Piala Dunia, pernahkah negara kita mencicipi atau ikut serta dalam ajang Piala Dunia ini? Pernah, meski begitu banyak perdebatan di dalamnya.

Pada saat masih dalam masa penjajahan, Indonesia pernah ikut serta pesta pora sepakbola ini menjelang meletusnya Perang Dunia II, 1938. Sayangnya, keikutsertaan ini bukan atas nama Indonesia, melainkan Hindia Belanda. Ini adalah perwakilan pertama negara di Asia ikut serta dalam Piala Dunia.

Materi pemainnya campur-campur. Ada pemain-pemain yang memang berasal dari Belanda, ada juga yang keturunan Tionghoa, dan tentu saja ada pula yang memiliki darah asli Indonesia. Sialnya, saat itu peraturan kompetisi masih menggunakan sistem knock-out, yang kalah harus angkat koper dan pulang.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, hasil undian memaksa Hindia Belanda ini berhaapan dengan Hungaria. Saat itu Hungaria juga merupakan salah satu kekuatan sepak bola Eropa dan dunia. Achmad Nawir dan rekan-rekannya tidak dapat membendung hujan gol dari Hungaria. Hindia Belanda kalah telak dengan skor 6-0.

Setelah merdeka dan berganti nama menjadi Indonesia, tim sepakbola kita tak lagi pernah menginjak segarnya lapangan hijau pada pentas Piala Dunia. Dan hingga kini, turnamen sepak bola terbesar sejagad itu masih hanya kenangan dengan penuh pertanyaan: patutkah dikenang?

Alih-alih berinisiatif memajukan sepak bola agar dapat berpartisipasi di Piala Dunia, Indonesia justru menggunakan cara pintas, yakni mengajukan pencalonan diri untuk Piala Dunia 2022. Proposal dibuat, kampanye dikebut, dan hasilnya terjerembab.

Bagaimana tidak,wong yang malah jadi perhatian saja cukuran rambut a la militer. Di mana letak urusannya rambut dengan prestasi?