Iwan Fals mengilustrasikan tentang hujan air mata dari pelosok negeri, ketika berjuta kepala tertunduk haru saat melepas kepergian sang proklamator. Tapi generasi kami tak pernah mengenal siapa dirimu, kami tak pernah pula berjumpa denganmu, tapi boleh jadi engkau adalah sebuah buku yang tak pernah tamat dibaca.

Seperti pada umumnya sebuah proses persalinan, pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, telah lahir seorang anak. Bukittinggi tidak pernah memprediksi sebelumnya bahwa anak itu kelak menjadi Wakil Presiden Indonesia. Anak itu bernama Mohammad Hatta.

Pada sebuah pidato kebudayaan di Jakarta, Juni 2002, budayawan Nurcholis Madjid menggambarkan sosok tampilan Bung Hatta yang memiliki ke-tulus-ikhlas-an, kesederhanaan, kerendahan hati, dan ke dalam pikiran. Menurut Cak Nur, sapaan akrab Nurcholis Madjid, Bung Hatta berkembang menjadi pribadi yang sepenuhnya modern, sekaligus pekat dengan perilaku keagamaan yang saleh.

Kendati menggilai buku bacaan dan menekuni ilmu agama serta amat menghargai ilmu pengetahuan, masa remaja Hatta tak melulu dihabiskan dengan itu.

Hatta remaja tergabung dalam kesebelasan sepakbola Young Fellow, terdiri dari anak-anak Belanda dan pribumi. Saat memperkuat kesebelasan ini, ia bersama kawan-kawannya menjadi juara se-Sumatera selama tiga tahun berturut-turut.

Kecintaannya pada sepakbola tak serta merta hilang begitu saja ketika ia menjadi salah satu tokoh penting. Ia tak pernah absen untuk menonton pertandingan besar. Menariknya, ia juga pernah mendapat tiket gratis untuk menonton sepakbola dari Ali Sadikin, ketika mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjabat sebagai ketua PSSI.

Selain agama dan sepakbola, sebenarnya ada yang tak bisa lepas dari Hatta, pena –sebagai senjata untuk memerdekakan bangsanya saat ia berusia 18 tahun.

Tulisan pertamanya dimuat di majalah Jong Sumatera. Ia menceritakan tokoh khayali bernama Hindania. Cerita sederhana tentang Hindania boleh jadi hanya roman picisan semata bila Hatta hanya berkutat pada kisah cinta. Namun bukan Hatta namanya bila tak ada maksud tertentu. Hindania adalah bentuk personifikasi dari Indonesia.

Bersambung..

*Dihimpun dari berbagai sumber
*Banyak saduran dari buku Hatta—Jejak Yang Melampaui Zaman