Hatta memilih pena sebagai senjata untuk memerdekakan bangsanya saat ia berusia 18 tahun. Tulisan pertamanya dimuat di majalah Jong Sumatera. Ia menceritakan tokoh khayali bernama Hindania. Cerita sederhana tentang Hindania boleh jadi hanya roman picisan semata bila Hatta hanya berkutat pada kisah cinta. Namun bukan Hatta namanya bila tak ada maksud tertentu. Hindania adalah bentuk personifikasi dari Indonesia.

Hasrat menulis dan timbunan bacaan kian meluap ketika ia kuliah di Belanda. Hatta dan kawan-kawan juga mengubah alur Indische Vereeniging yang semula bersifat sosial menjadi sebuah gerakan politik perlawanan. Di samping itu, nama Indische Vereeniging juga diganti namanya dengan Indonesische Vereeniging.

Perhimpunan Indonesia juga menerbitkan majalah. Awalnya majalah itu bernama Hindia Poetra, namun belakangan namanya diubah agar lebih provokatif dengan nama Indonesia Merdeka. Hatta menyumbang dua artikel untuk edisi perdananya.

Ada aksi, maka ada reaksi. Akibat tulisannya yang dianggap terlalu tajam mengkritik pemerintah kolonial, ia ditahan pada 1927. Di dalam penjara ia menulis pidato pembelaan yang kemudian dibacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Pidato itu berjudul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka).

Tak kapok dipenjara karena tulisannya, ia tetap aktif menulis di Majalah Daulat Ra’jat. Dan kembali Belanda mesti kerepotan menghadapinya yang berujung pada pembuangannya di Boven Digul, Papua. Hatta merasa perlu mengisi amunisi senjatanya, dalam pembuangannya ia ikut sertakan 16 peti bukunya ke tanah pengasingan. Ketika pelurunya dirasa cukup, ia lepaskan lagi tuas senjatanya itu ke koran-koran di Batavia dan Den Haag. Hatta tak terhentikan.

Bukan hanya untuk memerdekakan bangsanya ia memilih tulisan sebagai senjata. Untuk memenangi hati perempuan pun ia lakukan dengan tulisan. Sebelumnya ia bersumpah hanya akan menikah setelah Indonesia merdeka, maka pada November 1945 ia melamar seorang perempuan bernama Rahmi. Kala itu usia Rahmi 19 tahun, terpaut 24 tahun dengan usia Hatta.

Jika sekarang lazimnya alat peribadatan atau emas berlian dijadikan sebagai mahar perkawinan, Hatta saat itu memilih untuk menulis buku berjudul Alam Pikiran Yunani untuk dijadikan emas kawinnya. Buku itu ditulisnya saat sedang dibuang ke Digul, sekitar tahun 1934 silam.

Boleh jadi bagi Hatta buku memang harta yang paling berharga. Ia adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan kegairahan. Kekasihnya hanyalah buku, buku, dan buku. Tak ayal, lahir anekdot yang mengatakan bahwa istri Hatta yang sesungguhnya adalah buku. Rahmi nomor dua.

Hatta memang lebih dikenal karena tulisan dan pemikirannya ketimbang penampilan. Sosoknya tak terlalu ikonis dalam gambar. Tak heran, kalau dirinya kerap tersembunyi di balik “kemolekan” Sukarno. Hatta kelewat kalem. Senyumnya terlalu tulus. Meski tampilannya tetap necis, tapi ia tak terlihat bergemuruh.

Meski begitu, Yudhi Soerjoatmodjo, seorang kurator dan fotografer senior, dalam buku HATTA – Jejak Yang Melampaui Zaman, mengatakan, “Foto Hatta justru bagus dalam hal isi, dan bukan dari segi estetika.”

Ia memang jelas tak lebih photogenic ketimbang kawan seperjuangannya itu.

Hatta menghembuskan napas terakhirnya pada pengujung petang 14 Maret 1980. Di akhir hayatnya, ia meninggalkan 30.000 judul buku di perpustakaan pribadinya.

Halida Nuriah, putri bungsu Hatta menuliskan, “[…] Masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh sedang berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, […].”

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Manusia itu bernama Hatta, jasanya terus terkenang hingga sekarang. Harum perjuangannya masih terendus hingga saat ini.

Tak salah jika Iwan Fals mendeskripsikan sosok kesederhanaan Bung Hatta melalui lagu dan diberi judul Bung Hatta, yang masuk ke album Sarjana Muda pada 1981. Hatta memang layak dikenang dan dijadikan panutan.

Meski engkau sudah bernisan bangga dan berkafan doa, hari ini kita merayakan HUT ke-72 RI, Bung!

–Selesai–

Tulisan di atas merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Pena Bung Hatta: Indonesia dan Cinta yang Merdeka

*Dihimpun dari berbagai sumber
*Banyak saduran dari buku Hatta—Jejak Yang Melampaui Zaman