Anggaplah kita tidak pernah mendengar nama Munir Said Thalib. Bayangkan pula kita tak pernah tahu apa yang sudah pernah ia lakukan. Katakanlah kita acuh pada orang yang barangkali dianggap tidak terkenal itu, karena ia bukan artis. Namun jika rasa penasaran Anda sudah tak tertahankan, silakan pergi ke mesin pencari, ketik namanya, dan telusuri sepak terjangnya.

Yang membedakan Munir Said Thalib dengan orang pada umumnya adalah keberaniannya dan tak kenal lelah untuk selalu membela kebenaran. Yang dibela pun bukan benda mati, bukan harta gono-gini, melainkan manusia. Munir selalu ada di garda depan jika ada yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia. Ia seringkali membuat kuping pelaku kejahatan HAM panas saat mendengar namanya.

Ditodong senapan, ancaman pembunuhan, rumahnya akan dibom dan diratakan dengan tanah, bahkan pesan singkat bernada terror sudah tak terhitung jari jumlahnya. Munir tetap lantang berdiri. Munir masih berlari. Dan Munir tak akan berhenti.

Kendati demikian, di balik keberaniannya, ada yang sulit dipungkiri. Munir tak seberani itu dalam urusan cinta. Ia –juga kebanyakan laki-laki– punya permasalahan besar dalam urusan itu. Ia bertekuk lutut jika dihadapkan pada persoalan yang menyangkut perasaan antardua insan. Ia takluk di depan seorang perempuan bernama Suciwati.

Munir dan Suci, sapaan akrabnya, pertama berjumpa kala sama-sama aktif membela hak kaum buruh. Suci, ketika itu, sempat ditahan polisi lantaran memimpin aksi mogok kerja pada 1991. Dan Munir yang aktif di KontraS membantu menangani kasus Suci. Sejak itu, mereka sering terlibat diskusi, kemudian seolah berubah menjadi kisah fiksi.

Munir tak pernah meyatakan ketertarikannya pada Suci secara langsung sejak awal. Ia bukan ahlinya untuk mengungkapkan perasaan, maka ia pancing dengan sebuah pertanyaan kepada Suci, “Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama?”.

Suci sontak memberikan jawaban, yang mungkin tak diharapkan Munir –juga sebenarnya semua laki-laki. Jawaban Suci mematahkan arah pertanyaan Munir, ia beranggapan cinta pada pandangan pertama hanya sebatas ketertarikan fisik.

Bukan Munir namanya jika menyerah. Apalagi hanya karena arah pertanyaannya dipatahkan. Ia melanjutkan pertanyaannya, “Bagaimana jika ada kawan yang datang ke rumahmu untuk mengajak berkencan, menurutmu itu pacarmu atau bukan?”.

Pacaran adalah sebuah kesepakatan bersama antara dua orang, atas perasaan yang sama. Selama orang tersebut tidak mengutarakan cintanya, maka dia menganggap bukan pacar. Dengan lugas Suci mengungkapkan.

Sepekan setelah percakapan itu berlangsung, Munir datang ke rumah Suci untuk menjemputnya. Munir mengungkapkan cintanya.

Sontak Suci terkejut mendengar pernyataan Munir. Namun Munir mencegahnya untuk memberi jawaban saat itu. “Tunggu sepekan lagi, saya akan datang kembali dan memastikan bahwa perasaan ini memang betul-betul untuk kamu.”

Seminggu kemudian Munir menepati janjinya. Ia datang kembali untuk mendengar jawaban dari Suci. Pada dasarnya Suci ingin menolak, karena ia merasa bekerja di ruang yang sama, kerja mengorganisasi buruh. Suci merasa koridor yang sudah dibangun takut terganggu. Namun ia menutup dengan kalimat, “Tapi saya juga punya perasaan yang sama seperti kamu, Munir.”

Akhirnya mereka menikah pada 1996. Suciwati mengungkapkan bahwa setiap harinya, di pagi hari saat ia membuka matanya, Munir selalu mengatakan “I love you”. Tak jarang ketika Suci sedang memasak, Munir datang dengan pelukan dari belakang. Begitu kenang Suciwati. Munir memenangi hatinya dengan cara-cara yang sederhana.

Kali ini romantisme itu sirna. Tepat hari ini, 13 tahun lalu, Munir menghembuskan napas terakhir di pesawat saat dirinya menuju Belanda. Ia diracun di udara. Namun harum perjuanganmu terus dikenang, Bung!

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

*banyak disadur dari wawancara Merdeka.com dengan Suciwati pada 2016.