Kawan-kawan yang baru saja lulus SMA dan diterima di kampus favorit dan memang sudah jadi incarannya, selamat! Bagi yang belum bisa mewujudkan mimpinya kuliah di kampus dambaannya, jangan berkecil hati.

Pada dasarnya kuliah, di manapun itu, membuat kamu tetap dalam status yang sama: mahasiswa! Yang kemudian patut untuk dijadikan sorotan adalah bagaimana tingkah laku yang menyandang nama mahasiswa.

Jika dirasa terlalu sulit, dan memang sebetulnya akan selalu kembali lagi pada diri masing-masing, mari kita sederhanakan saja. Katakanlah mahasiswa dapat dikelompokkan secara umum: si gaul, si doyan organisasi, dan si kupu-kupu. Untuk kelompok yang terakhir itu tentu saja bukan kupu-kupu malam maksudnya, tapi akronim dari kuliah-pulang kuliah-pulang.

Kita ulas dari yang pertama, si gaul. Si gaul ini bagaimana mendefinisikannya, ya? Tapi intinya kita harus bergaul. Tidak kenal siapapun dan tidak punya teman jelas membuat dunia akan terlihat sepi. Saya rasa menambah banyak teman memang sangat diperlukan oleh seorang mahasiswa.

Membuka diri bisa berarti membuka banyak kemungkinan. Jadi, nikmatilah rasanya memiliki teman dengan latar belakang budaya yang berbeda dan disiplin ilmu yang bersebrangan dengan kita. Rasanya itu asyik betul. Sering-seringlah main ke jurusan atau fakultas tetangga. Siapa tahu dengan begitu pacar atau teman bisa bertambah. Paling tidak dambaan hati.

Terlibat dalam kegiatan sosial atau bergabung dengan organisasi-organisasi di kampus juga memiliki keuntungannya tersendiri. Jika lelah dengan perkuliahan, menemui dosen-dosen yang tak kunjung memberi nilai A, pelarian ke organisasi bisa menjadi pilihan tepat.

Ah, ngapain ikut organisasi kemahasiswaan, nanti kerjanya demo mulu. Ya kalau demonstrasi turun ke jalan dirasa kurang relevan lagi untuk situasi saat ini, suarakanlah lewat platform lainnya. Dunia juga sudah bisa dalam genggaman selama memutuskan untuk menjadi fakir wifi dan kuota internet masih banyak.

Di dalam organisasi, bukan hanya urusan rapat, demo-demo, politik, dan pemerintahan saja yang ada. Belajar berkompromi dengan situasi pun bisa didapatkan. Membuat konser-konseran di dalam ruang sekretariat pun diperbolehkan. Tapi selama menjadi mahasiswa usul selalu ditolak tanpa dipertimbangkan, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, lebih-lebih dibilang subversif dan mengganggu keamanan, ya lawan! Bukan begitu, Bung Thukul?

Kalaupun pada saat dijalani dengan menyandang status mahasiswa itu dirasa terlalu menguras energi, dan memutuskan untuk pulang ke rumah atau indekos saja setelah jam kuliah usai, silakan saja. Memutuskan untuk menjadi kupu-kupu bukan pilihan yang salah. Namun, pastikan kita memiliki hobi. Banyak membaca atau menonton film mungkin bisa jadi pilihan yang tepat. Tapi, banyak membaca dan menonton tanpa diskusi juga bisa membuat situasi diri jadi gawat.

Apapun yang akan dipilih nanti untuk mengarungi dunia perkuliahan, silakan jalani, nikmati dan tekuni, sebelum berpijak ke kehidupan yang selanjutnya. Waktu perkuliahan yang 7 tahun itu tidak akan terasa dan akan terlewat begitu saja.

Eh, harusnya kuliah berapa tahun, sih? 7 tahun, ya?