“Jika otak manusia cukup sederhana untuk kita pahami, artinya kita masih begitu bodoh sehingga kita tak bisa memahaminya.” – Jostein Gaarder, Dunia Sophie.

Statistik ini sudah sering disajikan: bahwa menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi gejala-gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai sekitar 14 juta orang atau 6 persen, dan prevalensi gangguan mental berat seperti skizofrenia sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Selain itu, menurut publikasi WHO pada 2015, 3,9 persen remaja usia 13 hingga 17 tahun telah mencoba bunuh diri setidaknya sekali. 4,8 persen di antara responden juga mengalami gejala gangguan kecemasan.

Sayangnya, masalah yang serius ini masih mendapat stigma yang buruk di Indonesia. Dilansir dari Tirto, misalnya, kelainan mental seringkali dianggap berasal dari kurangnya iman, atau perbuatan amoral. Akibatnya, banyak orang dengan masalah kesehatan jiwa, seperti dilaporkan Human Rights Watch, diperlakukan dengan tidak manusiawi; ada yang dipasung, dikurung di kandang hewan — atau jika dirawat di fasilitas kesehatan jiwa pun — dikurung di kamar rumah sakit atau diberi pengobatan tanpa persetujuan mereka.

Di luar stigma yang ekstrem (atau mungkin bersamaan dengannya) pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia masih buruk.

Jumlah fasilitas dan tenaga perawat kesehatan jiwa masih sangat minim, dan hukum Indonesia masih memperbolehkan penderita dikirim ke rumah sakit jiwa tanpa persetujuannya.

Kembali pada Jostein Gaarder, pemahaman kita sangat sulit mengejar kerumitan otak kita sendiri. Begitu banyak variabel nature dan nurture yang saling berkelindan dan mempengaruhi keadaan mental seseorang.

Tanpa stigma dan pelayanan yang buruk, kesehatan mental sudah merupakan masalah yang sangat sulit dipahami; seperti Chester Bennington yang bergembira 36 jam sebelum kematiannya.