Hasil pengambilan suara Parlemen Eropa yang memutuskan untuk melarang penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar nabati memancing reaksi dari Indonesia dan Malaysia, produsen 85 persen dari komoditas tersebut. Menimbang fakta bahwa Uni Eropa adalah eksportir terbesar kedua setelah India dan pengaruh politis persatuan tersebut, reaksi itu sangat wajar. Namun, daripada sibuk menunjuk betapa tidak adil keputusan ini, sebaiknya hasil ini menjadi katalis untuk titik balik.

Keputusan parlemen ini diambil karena mereka menimbang bahwa minyak sawit, sebagai alternatif dari bahan bakar fosil, sebenarnya memiliki keberlanjutan yang buruk. Indonesia memang kehilangan enam juta hektare hutan hujan –biasanya dengan teknik slash-and-burn atau memotong dan membakar– dalam kurun waktu antara tahun 2000 dan 2012, dan deforestasi tersebut banyak dilakukan untuk alasan pertanian, termasuk untuk membuat perkebunan kelapa sawit.

Hilangnya hutan hujan adalah masalah yang genting: deforestasi adalah faktor terbesar kedua pendorong perubahan iklim – lebih berbahaya dari sektor transportasi. Hilangnya hutan juga berarti hilangnya keanekaragaman hayati yang penting untuk menjaga keberlanjutan bumi. Kemudian, teknik yang membakar hutan memperparah masalah: pembakaran hutan gambut yang tanahnya kaya karbon menambahkan gas rumah kaca ke atmosfer.

Maka, mari kita melihat dari perspektif lain: fokus terhadap keberlanjutan dan mendidik konsumen lokal – kita adalah pasar yang besar.

Produksi minyak sawit tentu sangat penting dan berpengaruh. Minyak ini ditemukan dimana-mana – dari kosmetik hingga roti, dari sabun hingga cemilan. Komoditas ini juga diperkirakan akan semakin diminati di masa depan: menurut Global Industry Analysts, Inc., pasar global 2020 untuk komoditas ini akan menembus 72 juta ton metrik. Ini menegaskan pentingnya produksi minyak sawit yang berkelanjutan.

Daripada membalak hutan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang, industri ini bisa memakan teknik-teknik yang lebih ramah lingkungan. Agro-forestry – menanam pohon sawit bersama dengan tanaman komoditas lain di hutan – adalah teknik yang yang produktif tanpa memaksakan monokultur. Intensifikasi yang ekologis juga harus digalakkan.

Industri sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan makin penting untuk penghidupan petani kecil. Skala produksi mereka yang lebih kecil berarti mereka lebih mudah terpengaruh gangguan dari pasar dan, terutama, lingkungan.

Tindakan dari industri yang besar di tanah yang penting – industri sawit Indonesia di hutan gambut Indonesia – tidak hanya merupakan sebuah langkah besar menuju ekonomi dan ekosistem yang berkelanjutan, namun juga sebuah katalis yang menjanjikan untuk perubahan global.

Untuk mendorong perubahan ini, ingatlah: konsumen memiliki hak untuk menuntut produk yang ramah lingkungan.

Ya, industri ini memang sering problematis, namun sawit adalah tanaman yang sangat produktif – menurut Forests News, ia hanya mengokupasi tujuh persen tanah pertanian untuk minyak sayur, namun produksinya mencapai 39 persen dari seluruh minyak sayur. Artinya, boikot tidak akan menyelesaikan masalah. Ini juga berarti berpindah ke minyak sayur lain bukan pula solusi, karena budidayanya bisa menyebabkan masalah lingkungan yang sama, atau bahkan lebih buruk karena produktifitasnya yang lebih rendah. Maka, konsumen harus mendukung dan menuntut minyak sawit yang sepenuhnya berkelanjutan.

Tuntutan sebesar ini tentu akan mengambil waktu yang lama, maka konsumen perlu juga mendukung usaha yang memproduksi minyak sawit yang ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah membeli produk yang disertifikasi Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO). RSPO adalah institusi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dalam industri ini. Institusi ini bertujuan menjadikan ‘minyak sawit berkelanjutan sebagai standar’. Perusahaan-perusahaan anggota RSPO memproduksi minyak yang disertifikasi RSPO, yang menandakan bahwa produknya berkelanjutan.

RSPO, menurut Greenpeace, juga tak bebas masalah. Ia dianggap tak cukup tegas melarang anggotanya untuk membalak hutan. Greenpeace mengecam, di samping beberapa hal lain, bahwa RSPO yang ‘didominasi industri’ menegakkan pendekatan net carbon – yang membolehkan perusahaan menebang hutan selama mereka mengganti deforestasi tersebut dengan karbon di konsesi mereka. Menurut Greenpeace, seharusnya RSPO mengambil pendekat High Carbon Stock, yang mengklasifikasi hutan menjadi enam kategori dan hanya membolehkan pembalakan penanaman sawit di tanah berkategori hutan belukar dan lahan yang telah dibuka.

Maka, konsumen harus pula menuntut industri – baik yang memakai dan yang memproduksi minyak sawit – untuk menjadi sepenuhnya ramah lingkungan dan membuat rantai produksinya transparan untuk publik. Hal ini harus pula dilakukan pada perusahaan-perusahaan anggota RSPO; karena klaim mereka tentang sawit berkelanjutan, konsumen harus bisa menuntut verifikasi dan pelaksanaan klaim itu.

Tuntutan konsumen adalah kekuatan yang tak bisa disepelekan. Contohnya, Nestle Australia membuat rantai persediaan sawit mereka transparan bagi publik setelah sebuah video kampanye Greenpeace Inggris Raya yang menggambarkan orang yang memakan jari orangutan yang dikemas dalam bungkus Kit Kat – simbol kerusakan yang dibuat oleh korporasi sawit terhadap keragaman hayati dalam hutan hujan, termasuk hidup orangutan.

Antara kebutuhan akan keberlanjutan ekologis dan keberlangsungan industri itu sendiri, pemerintah Indonesia perlu menegaskan posisinya. Ia harus mensinkronisasi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan dengan mempertimbangkan inklusivitas; pemerintah harus harus melindungi hutan sebagai sumber daya yang penting dan memberi insentif bagi pelaku usaha yang berinovasi ke arah perbaikan lingkungan, serta mengedukasi massa tentang berharganya hutan hujan. Warga Indonesia yang terdidik bisa menjadi penjaga dan pembuat perubahan yang penting bagi industri ini.

Mempertimbangkan ‘people, planet and profit’ – manusia, planet, dan keuntungan – ala konsep triple bottom line Elkington tidak cukup. Sustainability Illustrated menunjukkan cara melihat masalah ini melalui kacamata sains: prinsip entropi menjelaskan bahwa semua hal cenderung hancur. Hanya tanaman, melalui fotosintesis, yang bisa membuat struktur dari energi. Setelah melihat kerusakan yang disebabkan oleh deforestasi, kini adalah waktu yang tepat untuk memperjuangkan hutan-hutan kita.