Terkait konflik kemanusiaan ini, saya mendengar orang-orang yang menyerukan diplomasi hingga agresi. Namun saya rasa perhatian pada masalah pengungsi –yang sangat dekat karena menyangkut hak dasar manusia dan sudah cukup genting tanpa memperhatikan kerumitan sosio politik di belakangnya– malah kurang terdengar.

Saya mengusulkan pergeseran fokus masyarakat umum pada pengungsi. Karena:

Masalah yang genting.

Menurut PBB, sejak 25 Agustus hingga 11 September, sudah ada 370.000 pendatang tak terdokumentasi dari Myanmar ke Bangladesh yang menandakan tingginya lonjakan pengungsi. Selain itu, 80 persen dari pengungsi tersebut adalah wanita dan anak-anak.

Pengungsi tidak dipahami dengan baik.

Pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya, sering disebut dengan istilah “imigran ilegal”. Menyebut pengungsi dengan istilah ini mengabaikan faktor kegentingan yang membuat mereka meninggalkan rumahnya. Kegentingan ini memaksa mereka tidak mengikuti prosedur migrasi yang seringkali berbelit-belit.

Selain itu, pengungsi seringkali dijadikan kambing hitam bagi orang-orang yang memiliki xenofobia (rasa benci atau “takut” yang tak masuk akal terhadap orang asing). Hal ini membuat pengungsi makin sulit diterima di negara-negara tujuannya.

Memperhatikan masalah pengungsi lebih realistis bagi masyarakat umum.

Diplomasi, apalagi agresi antar-negara adalah hal yang rumit. Menelaah masalah sosial dan politik terkait masalah ini barangkali lebih rumit lagi. Yang lebih masuk akal bagi kita adalah mempedulikan masalah yang mendasar: hak-hak pengungsi.

Maka, kita perlu mempelajari pengungsi dengan lebih dalam. Mengedukasi diri sebelum menyerukan apapun selalu penting, dan dalam masalah pengungsi — yang kurang dipahami masyarakat padahal begitu genting — hal ini semakin diperlukan. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  • Belajar di kursus online tentang hak-hak pengungsi yang diadakan oleh Amnesty International. Kursus gratis ini tidak terikat waktu, maka kamu bisa belajar tanpa tekanan.
  • Ikuti kanal-kanal media sosial organisasi-organisasi HAM seperti Amnesty International (dan/atau Amnesty International Indonesia serta cabang negara lainnya) dan Human Rights Watch.
  • Cerna berita dengan kepala yang dingin, karena berita palsu kini sedang marak. Jangan sampai penderitaan pengungsi Rohingya malah menjadi padang kebohongan bagi orang-orang tak bertanggung jawab.

Dengan mempelajari hak-hak pengungsi dan apa saja yang mereka perlukan dengan lebih dalam, kita bisa menyeru, menuntut, dan membantu dengan lebih terarah.

Aktivisme ini tentu bukan buat kita sendiri –urusan nyawa dan hak dasar saudara-saudara kita jauh lebih mahal ketimbang rasa kesalehan kita sendiri. Namun, memahami mereka dengan tepat juga merupakan usaha mengasah diri untuk menjadi manusia yang baik, bukan?