Semua hal dalam sejarah adalah produk hukum sebab-akibat dalam konteksnya masing-masing, termasuk tetanggamu yang terpeleset saat lomba panjat pinang dan anak balitanya yang gagal membawa kelereng dengan sendok; lomba-lomba 17-an tidak hadir tanpa konteks sejarah.

Lomba peringatan hari kemerdekaan tidak dimulai sebelum tahun 1950-an. Saat itu, perang mempertahankan kemerdekan sudah menyurut, dan warga Indonesia ingin merayakan kemerdekaan yang diraih dan dipertahankan dengan susah payah. Selain itu, sejarawan JJ Rizal juga menyebut bahwa Presiden Soekarno pun sangat antusias dengan lomba-lomba ini.

Perlombaan yang menyenangkan tak berarti minim arti: egrang, misalnya, adalah lomba yang menertawakan kolonialis Belanda yang jangkung.

Lebih dalam dari itu adalah balap karung dan makan kerupuk. Keduanya mengingatkan rakyat Indonesia pada sulitnya kehidupan pada masa penjajahan Jepang. Saat Indonesia menjadi koloni Jepang, kemiskinan memaksa rakyat bersandang karung goni – material utama balap karung. Selain simbol kemiskinan pada umumnya, repotnya meraih kerupuk pada lomba makan kerupuk adalah lambang bencana kelaparan yang terjadi saat masa kolonial.

Salah satu bintang utama hari kemerdekaan adalah panjat pinang – ia juga yang paling kontroversial. Ada yang mempertanyakan kelayakan dilanjutkannya lomba ini dan balap karung – dan kegundahan ini bukan tanpa alasan; lomba-lomba tersebut mengingatkan kita dengan pahitnya masa penjajahan.

kredit: Telegraph.co.uk

Panjat pinang adalah lomba yang sudah diadakan dari masa kolonialisme Belanda. Dahulu, lomba ini diadakan sebagai hiburan saat acara hajatan dan pernikahan orang Belanda. Pesertanya selalu pribumi, dan hadiahnya adalah barang-barang yang tidak terjangkau atau mewah bagi pribumi saat itu: keju, pakaian kemeja, dan gula –hal-hal yang tak terlalu berharga untuk para kolonial masa itu.

Saat itu, panjat pinang adalah ajang pribumi ditertawakan oleh kolonialis.

Jika masalah yang membuat panjat pinang dipertanyakan kelayakannya adalah menjadi tertawaan kelas atas, maka kita perlu melihat apakah keadaan kini masih seperti itu, karena pergeseran makna bisa terjadi setiap saat sesuai keadaan masyarakat.

Pada masa kolonial, terdapat perbedaan kelas yang begitu tajam. Kolonialis tidak melihat penduduk koloninya sebagai manusia setara, maka bisa dipastikan perlakuan dan – sebagai imbas – hak kepemilikan, tidak setara. Perbedaan kelas tetap ada saat ini, dan hal itu tidak bisa dinafikan sedikitpun, namun bukan antara kolonialis dan koloni – jurang kelas yang sama tidak hadir pada panjat pinang masa kini.

Kini, panjat pinang begitu diminati bukan karena penonton menertawakan sekelompok orang-orang tertindas yang bersusah payah meraih hal yang tak berharga bagi para penonton. Atraksi utama panjat pinang kini adalah kemeriahan dan lucunya tetangga kita yang terpeleset lumpur – guyon slapstick.

Lomba-lomba 17-an, seperti hal lainnya, adalah produk sejarah. Untuk membacanya, kita perlu menelisik konteks yang melahirkan, membesarkan, dan kini merawatnya.

Dah, saya mau lihat anak tetangga siap-siap karnaval!