“Kamu payah. Beli ini, supaya nggak payah lagi,” demikian kalimat iklan mencoba merayu dan begitulah intisari cara iklan menarik para calon pembeli yang dibahas video oleh AJ+.

Cara tersebut memang terdengar tak menyenangkan, namun sangat efektif: kita terus membeli hal-hal yang kadang kita tidak butuhkan, bahkan saat keadaan keuangan buruk.

Menurut AJ+, beginilah beberapa cara agensi iklan membujukmu untuk membeli produk yang mereka tawarkan.

Menampilkan iklan yang “memberdayakan”

Salah satu iklan produk kecantikan paling populer di YouTube menggambarkan sekumpulan wanita yang menjelaskan fitur wajahnya kepada seorang pembuat sketsa (dengan nuansa negatif: mereka tidak merasa cantik) dan perbedaannya jika fitur wajah mereka dijelaskan oleh orang lain.

Hasilnya? Ternyata hasil sketsa dengan deskripsi dari orang lain tampak lebih cerah dan “cantik”, meskipun ide kecantikan masih sangat tergantung dengan konsep yang tradisional.

Intinya adalah, iklan ini memberi perasaan bahwa sang calon konsumen diberdayakan: kamu lebih cantik dari yang kamu pikir! Hal inilah yang membuatnya (dan sebagai imbas, produk yang ia tawarkan) menjadi begitu menarik.

Ironi bahwa Dove adalah perusahaan penjual produk kecantikan dan standar kecantikan yang ditunjukkan pada iklan bukan merupakan terobosan bukanlah masalah. Pesan iklan berniat memberdayakan, dan ia berhasil.

Iklan yang “memahami” penontonnya

Contoh lainnya, iklan Coca Cola Life yang menggambarkan sulitnya menjadi orangtua. Ia memberi detail yang menarik hati: sang istri mengumumkan kehamilannya, kemudian sang bayi lahir, dan pasangan ini kerepotan mengurus si jabang bayi. Bersamaan dengan klimaks lagu pengiring, sang ayah meminum Coca Cola yang diiklankan dan ia memeluk istri yang baru saja menghidangkan minuman itu.

Iklan ini menunjukkan keadaan yang bisa dianggap mengharukan, lucu, dan “gue banget” oleh penonton. Coca Cola memang tidak membuat anak yang rewel jadi berhenti menangis, namun karena daya tarik pesan disampaikan, produk ini menjadi lebih menarik.

Memajang idola dengan produk

Selebriti di iklan tidak selalu mengiklankan hal yang berhubungan dengan profesi mereka. Contohnya, Timnas Sepakbola Jerman. Tentu saja mengiklankan merek peralatan olahraga yang mereka pakai, namun mereka juga menjadi bintang iklan layanan bank atau selai cokelat.

Tujuan iklan berselebriti ini untuk membuat kita mengasosiasikan idola-idola kita dengan produk yang diiklankan. Kita mengagumi idola kita dan ingin seperti mereka, namun jika kita melihat mereka berlaga, kita tak selalu ditunjukkan bagaimana cara menjadi seperti mereka. Iklan-iklan semacam ini berusaha mengisi kekosongan itu – meskipun produk yang ditawarkan tak berikatan dengan kesuksesan sang bintang.

Semua orang di iklan ini keren. Kamu?

Iklan tak perlu selalu memakai figur terkenal untuk berusaha memenuhi hasrat penonton yang ingin merasa lebih baik. Ia juga bisa menunjukkan orang-orang yang berkegiatan menarik sambil mengajakmu menjadi seperti orang-orang tersebut.

Contoh yang paling sering terlihat di televisi Indonesia adalah iklan rokok. Iklan-iklan rokok sering menunjukkan orang-orang yang berpesta atau berpetualang –tanpa tampak satupun cerutu di layar yang memang karena aturannya tidak memperbolehkan. Lagi, ia bekerja dengan menawarkan pola pikir asosiatif: “mau sekeren orang-orang ini? Beli produk kami!”

Intinya, iklan biasa mengandalkan dan mengembangkan Fear of Missing Out (FOMO).

Teknik-teknik seperti ini memang tampak irasional, namun mereka efektif dalam mempengaruhi pandangan kita pada diri sendiri dan apa yang kita inginkan.

“Orang-orang mengaku tidak peduli pada iklan, namun iklan mempengaruh mereka pada tingkat bawah sadar,” jelas Jean Kilbourne, seorang penulis yang meneliti pengaruh iklan terhadap kepercayaan diri perempuan.

“Pengiklan itu seperti teman yang buruk – mereka membuat kita merasa jelek, tapi kita masih bersama mereka,” pungkas AJ+.