Secara fungsional drone saat ini memang kerap digunakan untuk menangkap gambar lanskap. Tetapi, ternyata drone juga bisa digunakan sebagai alat pendeteksi dini kebakaran hutan.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Akbar Marwan, menjelaskan drone yang dirancang mendeteksi kebakaran hutan digunakan dalam tiga tahap: pre-fire, on fire, dan post-fire.

Pada tahap pre-fire atau sebelum kebakaran, drone menggambil berbagai gambar dan data untuk dianalisis. Dalam tahap ini, analisis tumbuhan dilakukan guna memahami risiko kebakaran.

Kemudian, saat kebakaran terjadi atau tahap on fire, drone bisa mengambil gambar dan data lainnya secara real time. Meskipun saat kebakaran, api seringkali tak terlihat dari pandangan kamera biasa, api tetap bisa dideteksi dengan thermal imaging yang bisa mendeteksi suhu sasarannya.

“Selain itu, drone juga bisa dipasangi pendeteksi arah angin dan kecepatannya, yang penting untuk mengetahui arah api,” katanya saat World Education Expo Indonesia 2017, di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (15/09/2017).

Setelah kebakaran (post-fire), data yang telah ditangkap kemudian dianalisis: kerusakan dan rehabilitasi hutan. Hal itu penting pula untuk mencegah terjadinya kebakaran lagi.

Teknologi ini makin menjanjikan karena perkembangannya yang pesat, penggunaannya yang makin mudah, dan tersedianya opsi untuk mengutak-ngatik drone sesuai kebutuhan pilot.

Sebagai contoh, kini pilot drone tidak perlu takut karena drone tidak stabil, karena adanya GPS dan Visual Positioning System (VPS) yang menggunakan kamera dan sinyal ultrasonik untuk menstabilkan terbangnya pesawat, serta sensor yang mencegah drone menabrak apapun.

Drone juga bisa dipasangi berbagai sensor dan dibuatkan aplikasi sesuai kebutuhan. Baterai pun bisa dimodifikasi agar ia bisa terbang lebih lama.

“Sayangnya, teknologi ini belum diterapkan di Indonesia. Kita memang punya kebiasaan buruk tidak cukup tegas dan sigap dalam menanggapi berbagai isu, termasuk isu lingkungan,” terang Akbar.