“Dua Jerman lebih baik daripada satu!” seru partai ini, menuntut pemisahan kembali Jerman Barat dan Timur. “Merkel bodoh!” “Orang-orang Nazi tidak boleh makan kebab!” seru mereka di poster lain.

Dalam kegaduhan politik Eropa di antara pemilu Belanda dan Prancis lalu, saya bertanya dengan teman saya yang tinggal di Kiel, Jerman. “Bro, sudah tahu mau pilih partai apa?”

“Belum,” jawabnya. “Tapi ada partai menarik yang harus kamu kenali.”

Kemudian ia menceritakan tentang Die PARTEI – berarti “partai” dalam bahasa Indonesia, atau “the party” dalam bahasa Inggris – sebuah partai politik (satir) di Jerman.

Die PARTEI  adalah sebuah akronim (yang agak ngotot) dari “Die Partei der Arbeit, Rechtstaat, Tierschutz, Elitenförderung und basisdemokratische Initiative yang berarti “Partai Pekerjaan, Penegakan Hukum, Perlindungan Hewan, Pembangunan Kaum Elit dan Inisiatif Demokrasi Akar Rumput”.

Pemilihan nama ini tidak sekedar sok muluk, namun juga komikal dengan cara yang cerdas. Nama Die PARTEI meledek partai-partai otoriter seperti Sozialistische Einheitspartei Deutschlands (SED), partai sosialis yang berkuasa di Jerman Timur saat perang dingin. SED memiliki jargon “Die Partei hat immer recht,” yang berarti “Partai (ini) selalu benar”.

Partai ini didirikan oleh redaktur utama sebuah majalah satir Jerman Titanic, Martin Sonneborn, pada 2004. Melanjutkan otoriterisme satir yang mereka bangun, sang pendiri yang juga pemimpin partai ini juga memiliki gelar “Pemimpin Partai Terhebat Sepanjang Masa”.

Die PARTEI, dengan ketidakseriusan mereka, tetap diperbolehkan mengikuti pemilu. Mereka memang dilarang mengikuti pemilu nasional pada 2009, namun diperbolehkan mengikuti pemilu nasional pada 2013. Yang memilih mereka pun ada, meskipun tak banyak: mereka mendapat 1,9 persen suara di Bremen pada 2015 dan 2 persen di Berlin pada 2016.

Lebih hebatnya, Martin Sonneborn pernah mendapat kursi di Parlemen Uni Eropa pada 2014. Namun, setelah terpilih, ia langsung mengumumkan bahwa ia akan mundur setelah sebulan.

“Saya akan menggunakan empat minggu untuk benar-benar mempersiapkan pengunduran diri saya,” ujarnya.

Ia juga menyebut perwakilan partainya akan mundur dari parlemen Eropa secara rutin, demi “menyelundupkan” 60 anggota partainya ke Parlemen Uni Eropa.

“Maka, tiap anggota bisa melihat-lihat Brussels (ibukota Belgia, tempat kantor parlemen) dengan biaya 33 ribu euro sebulan dan mendapat tunjangan enam bulan setelah mengundurkan diri. Kita juga (akan) memeras Uni Eropa seperti negara-negara kecil di Eropa Selatan,” jelasnya, seraya meledek krisis negara-negara Eropa Selatan yang menyedot uang bantuan dari anggota Uni Eropa yang lain.

Mereka tidak memiliki program partai yang konsisten. Yang konsisten adalah kekonyolan dan satir politik; dan mereka sangat serius dengan lelucon mereka. Terbukti dengan posisi-posisi yang jelas di berbagai isu, namun tetap dengan cara mereka.

Mereka menolak tegas promosi profesi tentara oleh tentara nasional di sekolah-sekolah. “Tidak! Tukang jagal tidak datang ke peternakan sapi dan mengatakan pada sapi-sapi tersayang apa yang akan terjadi pada mereka,” kata mereka di laman daring lembaga pendidikan politik Jerman.

Dengan pernyataan yang konyol, mereka juga mendukung keberagaman. Contohnya adalah di negara bagian Schleswig-Holstein, yang berbatasan dengan Denmark. Saat ditanya apakah sebaiknya rambu-rambu jalan di negara bagian ini juga ditulis dalam bahasa Denmark, mereka menyatakan setuju, karena bahasa Denmark adalah bagian dari identitas Schleswig-Holstein. “Dan, seandainya Denmark mencaplok Schleswig-Holstein, mereka tidak akan tersesat di jalan!”

Selain itu, mereka setuju bahwa semua penduduk boleh mengikuti pemilu di komunitas mereka, termasuk yang bukan warga negara Jerman. “Mereka berhak menentukan uang pajak mereka dihamburkan untuk kepentingan apa.”

Mental wani piro juga tak ketinggalan jadi guyonan mereka. Menjawab pertanyaan tentang apakah penerimaan PNS sebaiknya dijadikan proses yang sepenuhnya anonim untuk menghindarkan bias, mereka menjawab: “Untuk itu perlu banyak uang, tapi kalau bisa ya…”

Die PARTEI menyebut dirinya sebagai partai yang menunjukkan apa saja yang salah (dan konyol) di dunia politik Jerman. “Saya pikir kami bukan partai tergila di Parlemen Uni Eropa,” pungkas Martin Sonneborn.