Di era informasi ini, semua orang mendapatkan akses yang relatif sama terhadap pengetahuan dan peristiwa. Hal ini pada akhirnya menyebabkan kesamaan selera dan perilaku dari mayoritas orang. Misalnya ketika melihat adat eman berlibur ke Jepang dari media sosial, kita pun ingin mengikutinya. Itulah yang sekarang terjadi pada hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam memula ibisnis. Melihat orang lain sukses berbisnis martabak atau ojek online, kita pun mengikuti. Apakah manusia pada era ini sudah kehilangan kreatifitasnya?

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan meniru kesuksesan orang lain, termasuk dalam berbisnis. Bahkan salah satu saran dalam berbisnis adalah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Namun jika mayoritas orang melakukan hal yang sama pada sebuah jenis bisnis, hasilnya tentu akan membosankan dan bisnis jenis tersebut malah menjadi tidak laku. Bisnis seharusnya diperlakukan sebagai sebuah inisasi hidup yang membawa manfaat, bukan sekedar patung yang dipahat tanpa makna.

Bisnis dengan meaning

Pada sebuah kesempatan, ketika saya dimentori Prof. Rhenald Kasali, beliau mengatakan: “Berbisnislah dengan meaning!”. Apa maksudnya? Setalah saya pahami dengan membaca, berdiskusi, dan berbisnis langsung, saya menyadari bahwa bisnis itu bukan sekadar mencari keuntungan terlebih popularitas, namun ada makna besar untuk menjadi manfaat di semua aspek kehidupan. Bisnisi tui baratnya sebuah pisau, dapat digunakan untuk memasak lalu memberi manfaat untuk banyak orang atau dipergunakan untuk melakukan kejahatan.

Menjadi pengusaha dalam Agama Islam pun sangat dianjurkan karena 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari perniagaan. Lalu untuk apa berebut 1 pintu yang lain jika 9 pintunya terbuka jelas? Hal ini jelas karena menjadi pengusaha dapat memberikan manfaat bagi karyawan yang dipekerjakan dengan membuka lapangan kerja, menafkahi keluarga, dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang kita beri barang atau jasa terbaik.

Para pengusaha sukses di era modern ini semua membuat bisnisnya berdasarkan permasalahan besar yang mereka lihat di masyarakat. Henry Ford membuat mobil karena ingin mengefisienkan waktu manusia di perjalanan. Bill Gates membuat Microsoft karena bermimpi tiap orang mempunyai minimal satu Personal Computer di rumah untuk membantu kehidupannya. Tony Fernandez membuat Air Asia agar semua orang bisa terbang dengan harga yang terjangkau. Mulia sekali bukan tujuan mereka? Hal inilah yang kemudian membuat Tuhan dan semesta pun mendukungcita-cita mereka. Bukan sekadar buat bisnis karenaikut-ikutan atau ingin kaya. Semua karya besar, dimulai dari niat baik dan tulus.

Problem Based Business demi Manfaat

Elon Musk, seorang industrialis dan the Real Ironman, berpendapat bahwa ambillah masalah terbesar yang dihadapi manusia untuk diselesaikan oleh bisnis. Hidup hanya sekali, kerjalah dengan super keras dan beri manfaatnyata. Prinsip itulah yang mengantarkan Musk membuat Pay Pal (sistem transaksi keuangan di internet), Solar City (Industri Solar Cell), Tesla (Mobil Listrik), SpaceX (roket swasta pertama di dunia), dan Hyperloop (transportasi tabung berkecepatan tinggi). Visi besar Musk untuk menyelesaikan masalah besar kemanusiaanlah yang membuat dia berkarya besar.

Carilah permasalahan terbesar yang harus diselesaikan, niscaya masyarakat pun akan menggandrungi bisnis tersebut karena memang dibutuhkan. Permasalahan besar yang dijadikan dasa rmemilih bisnis, jika ditambah dengan bidang yang kita memiliki passion di dalamnya, tentu akan sangat impactful karena kita tidak akan pernah lelah mengerjakannya. Permasalahan bagai mobil mercedesnya dan passion bagi bahan bakar pertamaxnya, komplit untuk memaksimalkan perjalanan.

Bagi saya pribadi ada beberapa bidang usaha yang akan selalu dibutuhkan masyarakat. Sandang, pangan, papan, energi, teknologi, dan transportasi. Tiga pertama karena kebutuhan dasa rmanusia, sementara tiga terakhir karena tuntutan aktifitas manusia yang semakin kompleks.

Bayangkan, ketika banyak masyarakat membuat bisnis karena ingin menyelesaikan permasalahan yang ada, maka akan sangat banyak permasalahan manusia yang banyak terselesaikan. Dunia ini juga tentu akan menjadi lebih indah dan meningkatnya kualitas hidup manusia karena banyaknya inovasi dan kreatifitas yang tercurah. Hal inilah yang diharapkan menjadi corong dari bisnis, yaitu memberi manfaat dan menyelesaikan masalah yang belum usai.

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!