Di antara ini, mana yang paling sering kamu dengar: “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan”, atau “Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya”?

Banyak orang berpendapat bahwa kebahagiaan yang sebenarnya ialah hal-hal yang tidak bersifat materil, bukan sesuatu yang bisa kita beli dan dapatkan begitu saja, hal yang tidak bisa dinilai harganya.

Kita mungkin dapat merasa bahagia saat membeli barang yang telah kita idam-idamkan seperti sepatu model terbaru atau tas edisi khusus dengan harga selangit, atau benda apapun yang menarik perhatian kita, tapi tak dapat dipungkiri bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari mencapai kepuasan materi cenderung bersifat sementara yang efeknya pun tidak bertahan lama. Lalu kebahagiaan apakah yang berdampak lebih besar terhadap kondisi psikis seseorang?

Kebahagiaan batinlah yang dapat memberikan dampak signifikan bagi sebagian besar orang, kebahagiaan yang berasal dari dalam hati yang menyangkut jiwa individu tersebut.

Kebahagiaan batin bagi setiap orang tentunya beragam bentuknya, ada yang mendapatkannya dengan menghabiskan waktu senggangnya dengan keluarga, ada pula yang mendapatkan kebahagiaan dengan menghabiskan akhir pekan bersama peliharaannya di taman. Banyak ragamnya, begitupun cara untuk mendapatkannya, yang katanya tidak dapat dibeli dengan uang. Tapi, benarkah uang tidak bisa membeli kebahagiaan untuk kita?

Dewasa ini, tidak bisa tidak, kita dituntut untuk selalu bergerak menggapai mimpi kita atau sekedar memenuhi kebutuhan akan sesuap nasi, yang terkadang membuat 24 jam terasa kurang setiap hari nya. Jangankan memperoleh kebahagiaan batin, memenuhi kebutuhan dasarpun terkadang terasa sulit. Jangankan terpikir untuk membeli barang yang kita impikan, tidur 8 jam sehari pun kadang hanyalah angan-angan. Di sinilah mulai terjadi pergeseran anggapan sebagian orang, terutama kaum muda, bahwa ternyata uang bisa digunakan untuk membeli kebahagiaan batin.

kredit: daysoftheyear.com

Dari riset yang diadakan oleh Universitas British Columbia dan Harvard Business School, seperti dilansir Science Daily dan CNN Indonesia, sebagian besar responden –melibatkan enam ribu responden dari Amerika, Denmark, Kanada, dan Belanda– mengatakan bahwa mereka dengan senang hati akan lebih memilih menggunakan penghasilan mereka untuk membeli “waktu” yang dapat mereka gunakan untuk mencapai kebahagiaan batin, dibandingkan dengan menggunakannya untuk membeli barang berwujud “fisik”.

Hal tersebut dikarenakan tingginya ketidakpuasan akan hidup mereka yang kebanyakan penuh dengan tekanan, terutama tekanan dari pekerjaan mereka.

“Orang-orang yang merekrut pembersih rumah atau membayar anak tetangga untuk memotong rumput, kata orang, ‘seperti orang malas saja’,” kata Ashley Whillans, asisten profesor di Harvard Business School. “Tapi hasil penelitian kami menunjukkan membeli waktu akan sama gembiranya dengan punya lebih banyak uang.”

Membeli waktu yang dimaksud merujuk pada banyak hal, seperti membayar lebih untuk menggunakan transportasi yang lebih cepat, membayar asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah agar seseorang bisa mendapatkan lebih banyak waktu tidur, dan lainnya. Hal inilah yang menjadi dasar fakta bahwa seseorang akan cenderung lebih bahagia jika memiliki banyak uang karena dengan uang mereka memiliki kemampuan untuk memperoleh banyak waktu. Hal itu juga menjelaskan hasil survei dengan responden berstatus sosial yang beragam, bahwa pendapatan seseorang berbanding lurus dengan kebahagiaannya.

“Benefit membeli waktu tidak hanya bagi orang kaya,” kata Elizabeth Dunn, seorang profesor psikolog di UBC. “Kami pikir efeknya mungkin hanya bertahan untuk orang-orang dengan pendapatan yang cukup banyak, namun kami kaget, kami menemukan efek yang sama di seluruh spektrum pendapatan.”

Sekarang, jika dipikir kembali, masih setujukah kamu bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan?

“Uang memang tidak dapat membeli kebahagiaan sepenuhnya, tapi waktu dapat memberi kita lebih banyak peluang memperoleh kebahagiaan.”

artikel ini diadaptasi dari: Science Daily, CNN Indonesia.