Seiring dengan berkembangnya segala aspek kehidupan terutama pola makan, yang semakin banyak “dicekoki” oleh makanan cepat saji, dampak negatif pun turut menguntit. Kanker salah satunya.

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, kanker merupakan salah satu sumber kematian yang paling besar, mencapai 8,2 juta kematian yang terdiri dari beragam kanker di antaranya kanker paru, hati, maupun payudara (Depkes, 2012).

Kanker merupakan penyakit di mana terjadi abnormalitas hormon atau sel yang memicu pertumbuhan daging di bagian tubuh yang normal. Rangkaian penyembuhan kanker sendiri pun dapat berupa diagnosa dini, obat yang bersifat prefentif, terapi radiasi, terapi foto dinamis, pembedahan, kemoterapi, dan metode pengobatan lainnya yang memiliki banyak penncabangan lagi.

Sejak dulu, sudah banyak usaha telah dilakukan untuk menyembuhkan kanker melalui metode kemoterapi menggunakan nitrogen mustard, yang praktiknya berlangsung sekitar seratus tahun lalu, namun gagal.

Setelah kegagalan upaya awal penyembuhan kanker tersebut, metode lain untuk menyembuhkan kanker terus dikembangkan.

Kini metode pemanfaatan biomaterial dan teknologi nano untuk metode drug delivery, pengembangan material untuk formula anti-kanker, stem cells, bahkan untuk pembelajaran kanker secara in vitro dan in vivo, difokuskan.

Bermula dari masalah yang ditimbulkan pada awal masa penyembuhan kanker, yaitu dampak penggunaan obat yang menyembuhkan daerah kanker namun berefek samping bagi bagian tubuh lainnya, dikembangkanlah obat dengan metode pengobatan terpusat ke tempat tertentu yang dikehendaki (dalam hal ini yaitu ke sel kanker) atau biasa disebut drug delivery.

Prinsip pemberian obat secara selektif ini tentunya tidak akan optimal apabila obat yang diantarkan masih berukuran besar: masih berpotensi mengganggu atau menyerang bagian lain yang tidak dikehendaki. Maka dari itu sebagian besar metode drug delivery memerlukan obat berada dalam skala nano, sehingga obat yang berukuran nano bisa dengan tepat menyerang sel kanker, secara selektif dan spesifik.

Metode ini belakangan sering juga disebut dengan bantuan nanovehicles (kendaraan berbasis nano), yang saat ini cukup berkembang dan memiliki banyak ragam, di antaranya: partikel nano biodegradable PLGA, chitosan –yang kerap digunakan untuk kanker mulut– maupun partikel nano emas.

Meski nanovehicles sendiri tidak bisa menggunakan sembarang partikel nano, terkecuali sudah diuji dan disetujui keamanannya oleh Food and Drug Administration (FDA).

Selain terfokus pada nanovehicles, para peneliti juga banyak bergerak di pengembangan penggunaan biomaterial dalam penyembuhan kanker.

Kelebihan biomaterial lantaran kemampuannya menjadi “sahabat” pengantar obat kanker: tergolong aman jika dimasukkan ke dalam tubuh, dapat memicu perkembangan jaringan baru di tubuh sehingga membantu proses penyembuhan, sebagai agen pembantu pengantar obat kanker, dan bisa menjadi “tambahan” ke dalam tubuh yang menyokong proses penyembuhan.

Baik biomaterial ataupun nanovahehicles semakin banyak dikembangkan guna menekan salah satu penyakit paling mematikan di dunia bernama kanker. Tetapi semuanya akan akan menjadi sia-sia, karena menjaga kesehatan diri sendiri adalah hal terbaik.

Jadi, selalu ingat untuk menjaga kebugaran tubuh untuk meminimalisasi kemungkinan terserang penyakit ya teman-teman!

sumber: Lee, Y. Yun, K. Park et al, Introduction to Biomaterials for Cancer Therapeutics, Biomaterials for Cancer Therapeutics (2013): 3-19.