Haris Sudrajat, pegawai swasta, mengaku dirinya tidak pernah menyukai buah sejak kecil. Sebab, saat kecil, Haris pernah sakit dan harus steril dari asupan apapun, termasuk buah. Dan peristiwa tersebut berlangsung cukup lama.

“Kalau jus atau piscok (pisang cokelat) makan. Piscok buah juga kan? Itu kan pisang,” katanya sambil tertawa.

Cerita Haris mungkin hanya contoh kecil dari banyaknya orang yang masih enggan untuk mengkonsumsi buah atau juga sayuran. Padahal, dikatakan  Menteri Kesehatan Indonesia, Nia Moelek, mengkonsumsi buah dan sayur merupakan salah satu hal penting untuk mewujudkan gizi seimbang di dalam tubuh dan berguna untuk meningkatkan taraf kesehatan seseorang.

“Saya ajak masyarakat konsumsi buah dan sayur Nusantara, yang banyak tersedia di daerah,” kata Nia Moeloek di acara peringatan Hari Gizi Nasional 2017 di Jakarta, Rabu (25/01/2017).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengkonsumsi buah dan sayur. Tentu, enggan mengkonsumsi buah dan sayur akan berdampak pada kurang atau buruknya gizi itu sendiri. Akibatnya, kasus kurang gizi atau gizi buruk di Indonesia cukup tinggi.

Secara nasional, berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 19,6 persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9 persen gizi kurang. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan prevalensi nasional tahun 2007 (18,4 persen) dan tahun 2010 (17,9 persen).

Sedangkan pada prevalensi gizi buruk, tercatat 5,4 persen tahun 2007, 4,9 persen pada tahun 2010, dan 5,7 persen tahun 2013. Sedangkan prevalensi gizi kurang naik sebesar 0,9 persen dari 2007 dan 2013.

Kemudian juga secara nasional, prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen yang artinya masalah kurus di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Hari Gizi Nasional sendiri, seperti yang ditulis Gumilar Galih dalam bukunya Sejarah Gizi di Indonesia, sudah dirintis oleh Profesor Poorwo Soedarmo, –selanjutnya dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia– sejak awal kemerdekaan tahun 1950-an. Saat itu Poorwo dipercaya oleh Menteri Kesehatan, J Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Kemudian LMR menggelar Hari Gizi Nasional untuk pertama kalinya pada tahun 1960-an.

sumber: Riskesdes Kementerian Kesehatan Indonesia, Sejarah Gizi di Indonesia