Ing ngarsa sung tuladha – di depan memberi teladan.
Ing madya mangun karsa – di tengah membangun semangat.
Tut wuri handayani – dari belakang memberi dorongan.

Tiga kalimat di atas adalah Patrap Triloka, prinsip sekolah Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara, pendidik, aktifis, pahlawan nasional, dan Menteri Pendidikan Republik Indonesia pertama ini mencetuskan Patrap Triloka dengan terinspirasi dari, di antaranya, Friedrich Froebel, Tagore dan Maria Montessori.

Patrap Triloka atau sistem Among adalah prinsip pendidikan yang progresif. Ia menekankan bahwa pendidik bukanlah sekadar figur yang berdiri di depan calon terdidik. Pendidik, menurut prinsip ini, harus berdiri di antara para siswa dan di belakang mereka. Ini mengindikasikan keharusan pendidik untuk, pada dasarnya, rendah hati dan pengertian. Pendidik dituntut memahami dan mengayomi.

Selain Patrap Triloka, Taman Siswa memiliki asas-asas pendidikan yang digunakan sebagai pedoman, yakni:

  • Hidup merdeka: tiap orang berhak mengatur hidupnya sendiri dengan selalu mempertimbangkan kedamaian, ketertiban, dan persatuan masyarakat.
  • Hidup tertib dan damai. Tiada satu tanpa lainnya.
  • Metode Among adalah yang ditegaskan oleh Patrap Triloka. Ia menuntut keeratan antara pendidik dan terdidik.
  • Menggunakan peradaban bangsa sendiri. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan yang dididik. Senantiasa menengok ke luar berpotensi membuat kita abai terhadap pendekatan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah khas dan inheren bangsa.
  • Kemerataan pendidikan. Asas ini tidak menginginkan adanya kesenjangan pendidikan. Kesenjangan pendidikan adalah kesenjangan pemberdayaan.
  • Hidup mandiri: yang terdidik harus tidak hanya menerima ilmu dari yang diajarkan, namun juga harus bisa mencari ilmu untuk kebaikan umum dan diri sendiri. Ia juga dituntut untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri.
  • Mengabdi kepada siswa: keterdidikan siswa adalah yang utama dalam pendidikan.

Pendidikan ala Ki Hajar Dewantara mengedepankan pendidikan karakter, bahkan disebut sebagai ruh pendidikan. Kebebasan yang diuraikan pada asas pertama bisa dianggap kontradiktif dengan pentingnya karakter, karena pendidikan karakter yang dilakukan dengan tidak tepat berpotensi menjadi kungkungan. Namun, kontradiksi ini tidak benar. Menjadi manusia berkarakter baik dan bebas bukanlah kontradiksi; perilaku melanggar hak orang lain dan / atau masyarakat bukanlah salah kebebasan melainkan kelalaian terhadap masyarakat.

Menginterpretasi asas-asas pendidikan Ki Hajar Dewantara, sistem pendidikan karakter yang diinginkan bukanlah yang menentukan suatu kandang untuk para siswanya. Siswa dididik untuk selalu memahami diri dan sekitarnya. Dengan pemahaman yang baik ini, siswa akan menjadi manusia yang paham bertindak dan bertanggung jawab.

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!