Desember 2015 industri kreatif di Jepang dikejutkan tewasnya Matsuri Takahashi dengan cara bunuh diri usai lembur selama 105 jam. Pegawai cantik 24 tahun yang bekerja perusahaan periklanan Dentsu Inc. itu bunuh diri dengan melompat dari jendela kamar asramanya di Tokyo, tepat Hari Raya Natal. Setahun kemudian pemimpin perusahaan Dentsu mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kematian karyawan terbaiknya.

Kejadian tewasnya pegawai lantaran jam kerja yang ‘mencekik’ bukan kali pertama. Pada tahun 1991, di perusahaan yang sama, seorang pekerja lelaki di perusahaan yang berbasis di Tokyo tersebut juga ditemukan tewas bunuh diri karena lembur untuk jam yang ekstrem.

Karoshi, begitu orang Jepang menyebut kematian akibat bekerja melampaui batas. Kementerian Perburuhan Jepang mencatat kerja lembur berlebih mengakibatkan 96 pekerja tewas karena sakit, 93 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri karena gangguan mental.

Pascatragedi Matsuri, Perdana Menteri (PM) Jepang, Karoshi Abe, mencetuskan aturan baru mengenai pro-buruh dan karyawan. Aturan tersebut bernama Premium Friday. Ini merupakan kebijakan pertama Jepang terkait karoshi dan etos kerja.

Premium Friday merupakan aturan di mana semua perusahaan mengharuskan seluruh pegawainya pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat. Perusahaan-perusahaan besar Jepang, malahan, memberikan bonus bagi mereka yang pulang tepat jam 3 sore seperti uang saku tambahan dan tiket perjalanan gratis.

“Dalam bidang industri kreatif seperti kami, inspirasi tidak hanya datang saat berada di kantor,” kata Etsuko Tsugihara Kepala Humas Side Up Inc. yang juga menerapkan Premium Friday, seperti dikutip dari Reuters.com.

“Biasanya, ide justru muncul saat bersantai, berpergian, menghirup udara segar, atau beristirahat. Yang paling penting, setelah menikmati libur akhir pekan yang berkualitas, Anda akan kembali bekerja dengan semangat kerja tinggi pada awal pekan,” ujarnya.

Menjadi pekerja di industri kreatif memang menyenangkan dan diminati banyak anak muda. Selain karena soal passion, bekerja pekerja kreatif memiliki kebanggaan tersendiri bagi para pelakunya.

Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) membagi sektor industri kreatif menjadi 16 subsektor yaitu aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. Bahkan, BEKRAF memproyeksikan sektor ini sebagai “tulang punggung ekonomi Indonesia”.

Industri kreatif sepertinya memang memiliki daya tarik tersendiri. Hal itu seperti yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS): industri kreatif menyerap 15,9 juta pekerja tahun lalu dan tumbuh 4,3 persen dalam setahun.  Tapi bekerja di industri kreatif bukan tanpa risiko.

Besarnya angka yang tercatat oleh BPS rupanya tidak ter-cover oleh pemerintah dalam hal perlindungan pekerja kreatif. Lembaga pemerhati K3 Local Initiative for OSH Network (LION) menganggap pemerintah gagap dalam melindungi para pekerja kreatif lantaran banyak pekerja kreatif cenderung berada di ranah informal.

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) melihat pekerja industri kreatif Indonesia memiliki kecenderungan overwork dan depresi, sehingga rentan mengalami tragedi seperti di Jepang.

Tentu kita juga masih ingat atas meninggalnya pekerja periklanan, Mita Diran, pada 2013 lalu. Tragedi itu juga menjadi membuka mata kita akan rentannya kesehatan pekerja industri kreatif dalam kultur kerjanya. Perempuan 27 tahun itu meregang nyawa setelah bekerja tanpa henti selama 30 jam.

“Pekerja dengan pola hubungan nonstandar tidak punya jaminan pasti. Itu berdampak pada K3, negosiasi kenaikan upah,” terang Koordinator LION, Wiranta Yudha Ginting, seperti rilis SINDIKASI yang diterima, Kamis (16/03/2017).

Anggota SINDIKASI, Ellena Ekarahendy, pun mengutarakan hal sama. “Ada yang kerja penuh waktu dan lembur, dalam sebulan gajinya Rp 1,5 juta,” ungkapnya.

Sebuah data yang dari International Labor Data International Labor Organization (ILO) pada 2015 mencatat sebanyak 26,3 persen pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam dalam sepekan. Data lainnya seperti dari hasi survei dari survei UBS pada 2015, pekerja di Jakarta menghabiskan 2.102 jam untuk bekerja dalam setahun atau di atas Manila (1.950 jam per tahun) dan Kuala Lumpur (1.934 jam per tahun).

Data tersebut, nyatanya tak sesuai Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mensyaratkan 40 jam kerja dalam sepekan.

Overwork adalah masalah serius yang tak hanya ada di Indonesia, tetapi di seluruh Asia. Panjangnya jam kerja rupanya tak serta-merta membuat produktifitas sebuah negara meningkat.

Hasil studi, seperti dikutip Nikkei Asian Review, terhadap 18 perusahaan manufaktur di Amerika menunjukkan 10 persen peningkatan terhadap jam lembur malah menurunkan 2,4 persen produktifitas.

sumber: Reuters, The Guardian, Tirto.id

sumber lain: SINDIKASI