Bank Indonesia (BI) mengeluarkan desain terbaru mata uang Rupiah. Sebanyak 7 uang kertas dan 4 uang logam mengalami perubahan, antara lain pecahan Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000,Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan untuk logamnya Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100.

Desain baru ini mengalami banyak perubahan, mulai dari kertas yang berbeda hingga gambar pahlawan, hanya pecahan Rp 100.000 saja yang masih tetap menggunakan Soekarno dan Hatta sebagai gambar pahlawannya.

Berikut ini IndonesianYouth kasih sedikit ulasan para pahlawan-pahlawan yang ada di uang baru:

Soekarno

Dilahirkan pada 6 Juni 1901, Ir. Soekarno terlahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo dan mengemban pendidikan di jurusan teknik sipil Technische Hoogeschool (THS), yang merupakan cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada remajanya Ir. Soekarno mulai mendalami ketertarikannya pada politik bersama para tokoh besar Indonesia lainnya sampai pada akhirnya membentuk Algemeene Studie Club (ASC) yang merupakan awal dari Partai Nasional Indonesia.yang juga menandai mulainya pergerakan perjuangan kemerdekaan bagi Indonesia.

Perjalanan beliau menggiring Indonesia ke kemerdekaan tidaklah mudah, bahkan beliau sempat beberapa kali keluar masuk penjara hingga dibuang oleh kolonial Belanda. Namun perjuangan beliau dan para tokoh lainnya membuahkan hasil, hingga beliau ditunjuk untuk memimpin BPUPKI dan PPKI dalam mematangkan rencana kemerdekaan Indonesia. Seiring dengan merdekanya Indonesia, Ir. Soekarno terpilih menjadi presiden pertama Indonesia dan dikenal dunia karena karismanya.

Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Juni 1970 setelah menderita sakit secara berkala sebelumnya dengan gelar Pahlawan Proklamasi.

Moh. Hatta

Dr. H. Mohammad Hatta atau yang kerap disapa Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Tumbuh dari keluarga pedagang dan lingkungan yang agamis, Bung Hatta memulai kiprahnya di dunia politik pada Jong Sumatranen Bond wilayah Padang, dilanjutkan dengan bergabung di organisasi pergerakan kemerdekaan pelajar Indonesia di Belanda yakni Indische Vereeniging.

Dari sana lah Bung Hatta mulai berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia, yang pada akhirnya menjabat sebagai wakil presiden pertama Indonesia. Dalam perjalanan karirnya, beliau tetap aktif memberikan ceramah serta menulis, tak terkecuali mengenai koperasi yang merupakan latar belakang awal beliau. Atas perannya, Bung Hatta diangkat sebagai ‘Bapak Koperasi Indonesia’ dan juga dianugerahi tanda kehormatan tertinggi ‘Bintang Republik Indonesia Kelas I’.

Djuanda Kartawidjaya

Tokoh kelahiran Tasikmalaya ini pada awalnya memulai perjalanan organisasinya di Paguyuban Pasundan dan anggota Muhammadiyah. Setelah lulus dari teknik sipil Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), beliau mulai mengabdikan diri pada masyarakat dengan menjadi menjadi tenaga pengajar SMA Muhammadiyah dilanjutkan dengan menjalankan amanah sebagai Kepala Jawatan Kereta Api wilayah Jawa dan Madura, menteri Perhubungan, menteri pekerjaan umum, menteri pertahanan, menteri keuangan, dan pernah pula menjabat sebagai perdana menteri Indonesia.

Selama masa tugasnya, Ir. Djuanda menyumbangkan banyak hal bagi Indonesia, tak terkecuali Deklarasi Juanda yang isinya memperjuangkan perluasan batas teritorial perairan Indonesia. Atas jasa-jasa beliau, nama Ir. Djuanda diabadikan sebagai nama bandara di Jawa Timur dan nama hutan raya di Bandung, yang di dalamnya terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.

G.S.S.J. Sam Ratulangi

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi yang lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890, merupakan salah satu tokoh yang sangat memperjuangkan penghapusan perbedaan antara rakyat Indonesia & Belanda terkait bidang politik, pendidikan, maupun ekonomi.

Pada masa mudanya, beliau merupakan ketua dari Indische Vereniging dan juga dipercaya sebagai anggota Volksraad pada tahun 1927. Sam Ratulangi pada masa persiapan kemerdekaan Indonesia juga diangkat sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan pasca kemerdekaan pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi.

Semasa hidupnya beliau selalu menentang pemisahan Indonesia bagian timur dari Republik Indonesia yang digencarkan oleh Belanda dan dalam mempertahankan keyakinannya beliau sempat beberapa kali ditahan. Sam Ratulangi menghembuskan napas terakhirnya pada era Agresi Militer Belanda II, dalam keadaan masih menjadi tahanan, dan atas jasa-jasanya diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo merupakan salah satu dari sederet pahlawan asal timur Indonesia yang lahir di Papua pada 10 Oktober 1921. Sudah menjadi aktivis gerakan kemerdekaan RI yang dikenal dengan sikap anti-Belanda yang kuat sejak muda. Kaisiepo sempat menjadi tawanan Belanda karena menolak menjadi utusan Belanda. Setelahnya beliau turut memegang peranan penting pada TRIKORA, dengan hasil akhir penyerahan kekuasaan politik Irian Barat ke Indoneisa.

Pada 1972, Kaisiepo dilantik sebagai salah satu anggota MPR RI dilanjutkan menjadi anggota Hakim Tertinggi Dewan Pertimbangan Agung sejak 1973 hingga 1979. Pada akhir hayatnya beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia serta Bintang Maha Putera Adi Pradana Kelas Dua.

Idham Chalid

Dr. KH. Idham Chalid merupakan salah satu politikus yang juga terjun pada kegiatan keagamaan dan sangat berpengaruh pada masanya. Tokoh kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 ini pada masa kemerdekaan merupakan salah satu Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di kota Amuntai dan selanjutnya memulai kariernya di partai Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa hidupnya, sosok yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional ini pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua MPR, Menteri Sosial Republik Indonesia, serta Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

Mohammad Hoesni Thamrin

Nama tokoh yang satu ini memang tidak asing lagi karena namanya yang diabadikan sebagai salah satu nama jalan di DKI Jakarta. Lahir pada 16 Februari 1894, Thamrin merupakan seorang Betawi keturunan Belanda yang sangat termotivasi untuk memajukan kesejahteraan rakyat Betawi pada saat itu, dan pada akhirnya beliau merupakan tokoh Betawi pertama yang mewakili Indlanders (pribumi) menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

Pada hari-hari terakhir hidupnya, beliau ditetapkan sebagai tahanan karena dugaan bekerja sama dengan Jepang dan pada masa itu M.H. Thamrin mendapatkan perlakuan tidak layak dari pihak Belanda.

Tjoet Nyak Meutia

Tjoet Nyak Meutia merupakan salah satu pahlawan wanita yang dikenal karena keberaniannya dalam melawan para penjajah di Tanah Rencong.Wanita kelahiran tahun 1870 ini mulanya menentang para penjajah bersama mendiang suaminya yakni Teuku Tjik Tunong, namun setelah keperigan suaminya pun semangat juangnya tak kunjung padam. Beliau bersama para pejuang lainnya menyerang dan merampas pos-pos kolonial sampai akhirnya Tjoet Meutia gugur bersama pasukannya di Alue Kurieng pada tahun 1910.

I Gusti Ketut Pudja

I Gusti Ketut Pudja merupakan salah satu pahlawan berdarah Bali yang merupakan salah satu anggota PPKI mewakili Sunda kecil (saat ini Bali dan Nusa tenggara).Beliau juga berperan dalam perumusan naskah proklamasi sekaligus menjadi saksi pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan Indonesia, beliau dilantik menjadi Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Sunda Kecil atau setara dengan Gubernur pada masa sekarang, serta pernah memegang jabatan di Departemen Dalam Negeri Ketua BPK. I Gusti Ketut Pudja meninggal pada usia 68 tahun, kemudian dianugerahi Bintang Mahaputera Utama ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

T.B. Simatupang

Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia dengan latar belakang militer yang sempat memegang jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP). Setelah dihapuskannya jabatan KASAP oleh Presiden Soekarno kala itu, beliau menjabat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI dan tetap menyalurkan kecintaannya terhadap kemiliteran dengan menulis buku dan mengajar di SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad, dan Akademi Hukum Milter/AHM).

Tjipto Mangunkusumo

Sosok lulusan STOVIA ini dikenal tak hanya karena kecerdasannya sebagai seorang dokter, namun juga sikapnya yang kritis terkait kebijakan serta perlakuan kolonial Belanda terhadap Indoneisa. Tjipto Mangunkusumo banyak melakukan pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui tulisan-tulisannya yang kerap kontroversional, sehingga beliau beberapa kali kehilangan pekerjaannya bahkan hingga dijadikan tahanan. Sifat kritis beliau semasa menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mengantarkan beliau ke pengusiran oleh pihak Belanda dan pada akhir hayatnya membuat dirinya dibuang ke beberapa daerah sebelum ajal menjemputnya.

Herman Johannes

Pahlawan Nasional satu ini merupakan seorang yang dikenal sebagai salah satu ilmuwan terkemuka di Indonesia yang sampai akhir hayatnya masih terus melakukan penelitian terkait fisika dan kimia.Dengan latar belakang pendidikan keinsinyuran beliau, sumbangsih Herman Johannes dalam kemerdekaan Indonesia sangatlah berarti, seperti peracik bom terkait perlindungan Indoneisa, semasa agresi militer Belanda. Meski dikenal sebagai seorang cendekiawan, guru besar Universitas Gajah Mada (UGM) ini juga berkecimpung di dunia politik, yakni menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

sumber: biografiku.com, merdeka.com