Pada tahun 2015 lalu, sebuah artikel dari CBS News mengungkapkan hal yang mengejutkan, millennial di Amerika Serikat memiliki pendidikan yang baik namun tidak memiliki kemampuan atau skill. Hal tersebut terjadi karena para millennial kini relatif mampu mengenyam pendidikan sekolah menengah dan mencapai pendidikan tinggi meski belum memiliki kemampuan yang cukup. Padahal pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dahulu dianggap sebagai solusi untuk mengentaskan kemiskinan.

Kini, millennial malah terancam tidak memiliki pendapatan yang cukup karena rendahnya kemampuan dalam melakukan penyelesaian masalah atau problem solving dan berdampak pada rendahnya upah atau gaji.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, pendidikan di Indonesia terbilang cukup tinggi dalam angka partisipasi murni. Berdasarkan data tahun 2016, angka partisipasi pendidikan murni di Indonesia telah berada di tingkat 96,71 persen untuk jenjang umur 7-12 tahun atau pendidikan sekolah dasar.

Namun angka tersebut kemudian jauh timpang bila dibandingkan dengan generasi millenial yang berada di jenjang umur 16-18 tahun, yang 59,85 persennya telah berpartisipasi dalam pendidikan sekolah menengah. Kemudian generasi Y yang berumur 19-24 tahun tercatat baru 17,91 persen saja yang telah menikmati pendidikan tinggi.

Menilik data tersebut, artinya Indonesia masih memerlukan banyak upaya untuk meningkatkan jumlah generasi mudanya untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan. Fakta ini tentu saja menjadi sesuatu yang memerlukan perhatian mengingat pada tingkatan generasi millennial sendiri kualitas skill-nya masih dipertanyakan.

Generasi millennial saat ini dikenal sebagai generasi yang sangat melek teknologi. Mereka hidup dan dekat dengan teknologi yang hampir setiap saat tidak lepas dari pandangan mata. Layar elektronik menjadi semacam objek pandang yang paten bagi generasi ini. Dampaknya pun dapat dikatakan cukup menarik, lewat medium tersebut generasi millennial menerima informasi dan mampu belajar banyak hal. Berbagai fasilitas akses ilmu dapat ditemukan.

Generasi yang diserbu informasi dari berbagai sudut ini juga dikenal sebagai generasi yang memiliki impian dan angan yang tinggi. Fenomena ini tidak terlepas dari banyaknya informasi yang mereka terima dan mendorong ekspresi-ekspresi diri untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi. Seperti mampu mengenyam pendidikan master dan doktoral, misalnya. Tidak heran bila kemudian lowongan beasiswa di mana-mana diserbu pelamar yang kebanyakan adalah anak-anak muda. Tujuan untuk meraih impian pendidikan tinggi sekaligus bisa jalan-jalan di luar negeri adalah hal yang jamak ditemukan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa tinggikah kemudian kemampuan generasi millennial dalam menerapkan informasi dan ilmu yang mereka terima? Inilah yang kemudian menjadi perhatian. Sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat, pendidikan di Indonesia, meski kedua negara jelas tidak mungkin untuk dibandingkan secara setara atau apple to apple, masih berorientasi pada “asalkan bisa lulus” tanpa memperhatikan bagaimana kemampuan anak didik di dunia pasca sekolah. Keluhan dari dunia industri tentang kualitas lulusan yang tidak siap kerja masih kerap kali ditemui bahkan tidak satu dua kali hal tersebut ditujukan untuk kalangan lulusan perguruan tinggi.

Tapi Millennial tidak melulu bermasalah. Sebab, menariknya, dampak dari arus informasi yang sangat masif, pola belajar generasi millennial juga dapat berubah. Mereka lebih aktif untuk mencari ilmu baru lewat media-media yang tersebar di jagat dunia maya. Termasuk mencari cara bagaimana meningkatkan kemampuan problem solving lewat pengalaman-pengalaman baru di luar pendidikan formal. Berkomunitas dan berorganisasi, misalnya. Inisiatif seperti itu memang tidak banyak jumlahnya, mengingat millennial lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengekspresikan dirinya lewat media sosial, dan mencari hiburan tanpa menaruh perhatian pada peningkatan kualitas diri.

Hal yang perlu diperhatikan millennial sesungguhnya adalah bagaimana mereka mampu memanfaatkan berbagai teknologi dan fasilitas yang ada untuk meningkatkan kemampuan diri. Prosesnya sangat tidak mudah, dan bertentangan dengan gaya hidup millennial yang serba instan.

Namun lewat berbagai kegiatan yang semakin banyak jumlahnya berkat informasi-informasi yang tersebar, para millennial seharusnya semakin mendapatkan panggung untuk tidak hanya memiliki pendidikan yang selangit, tetapi juga memiliki produktifitas yang solusional bagi masyarakat. Salah satunya dengan berkontribusi, berjejaring, dan berkarya lewat platform sosial kepemudaan yang mempertemukan berbagai Anak Muda Indonesia, yang berdampak seperti Rumah Millennials. Rumah Millennials berperan sebagai jembatan koneksi antar anak muda yang memiliki dampak dan memungkin mereka saling belajar serta mendewasakan satu sama lain.

Buktikan bahwa generasi Millennials adalah generasi yang tidak hanya terdidik tapi juga memiliki kemampuan, keterampilan dan berkualitas lewat berbagai karya nyata dan inisiatif mulia.

Tulisan ini ditulis oleh Aagus Ramadhan. Saat ini menjadi Peneliti Pemasaran dan Penulis Konten di Good News From Indonesia, Content Coordinator Rumah Millennials dan ia juga merupakan Co-Founder dari situs platform ide teknologi, TEKNOIA.