Setelah disepakati dan ditetapkan pada 2012 melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 18/KMK.05/2012 tanggal 30 Januari 2012, Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) ditetapkan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan pola keuangan Badana Layanan Umum. Kemudian, hingga saat ini, LPDP menjadi sarana untuk warga Indonesia yang ingin meneruskan jenjang pendidikan ke yang lebih tinggi.

LPDP sendiri bertujuan mendukung ketersediaan sumber daya manusia Indonesia dengan pendidikan berkualitas serta memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi dan mempunyai visi masa depan bangsa yang kuat sebagai pemimpin Indonesia di masa depan.

Kini, LPDP telah melahirkan begitu banyak lulusan LPDP yang sukses. Dan Baru-baru ini Cluster Post Graduated & Worklife, salah satu program dari Sinergi Muda bersama IndonesianYouth.org, berkesempatan berbincang dengan Akbar Nikmatullah Dachlan, alumni LPDP, untuk berbagi pengalamannya.

Berikut petikan wawancaranya:

Kenapa pilih kuliah di luar negeri?

Mencoba living abroad, international exposure, international networking. Kalau cari ilmu mending di Indonesia, karena lebih banyak dan intensif. Di UK lebih dituntut untuk mandiri.

Bagaimana adaptasi di sana?

Sebenarnya kuliah di UK lebih gampang daripada di Indonesia. Hanya, bahasa Inggris terkadang menjadi kendala. Kuliah efektif di sana hanya 9 bulan (7 bulan di kelas, 2 bulan tesis).

Bahkan tesis bisa dikerjakan di Indonesia, bimbingan lewat Skype. Kalau jurusannya sama dengan S-1, pelajarannya hanya repetitive. Yang didapatkan: diversity, hidup mandiri jauh dari keluarga dan kerabat, peningkatan kemampuan berbahasa Inggris, international exposure, ini justru jadi benefit ketika kerja di perusahaan karena punya value added.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk apply LPDP?

Di awal tahun sudah mulai apply ke universitas tujuan. Pastikan kampus tujuan termasuk dalam lis universitas pilihan LPDP. Kalau universitas pilihan enggak masuk tapi punya alasan kuat dan logis, bisa diproses juga. Lebih baik dapat (pilihan) kampus dulu, baru daftar LPDP.

LPDP sekarang punya clustering jurusan: (prioritas 1) teknik, agama, kedokteran, dan eksak; (prioritas 2) bisnis dan desain. Tapi sebenarnya enggak terlalu pengaruh untuk prosesnya.

Nah, kemudian mesti benar-benar tahu tujuan ambil LPDP-nya buat apa. Punya home-based institution, di mana sudah jelas setelah balik ada yang “nampung”, jangan sampai lulusan luar malah jadi pengangguran. Jangan cuma coba-coba karena ada batasan maksimal berapa kali apply.

Untuk tesnya (GRE, IELTS) enggak benar-benar dilihat grammar, yang penting kita mengerti makna, alur logikanya jelas, alasannya kuat, wording-nya cukup.

Preparationnya lebih ke pembiasaan di kehidupan sehari-hari. Nonton film-film luar negeri itu sangat pengaruh. Untuk IELTS preparation ambil yang singkat saja. Skor IELTS yang enggak memenuhi bisa tertutupi dengan LoA dari lis kampus LPDP. Requirement IELTS jurusan eksak dan sosial beda. Eksak enggak terlalu pakai komunikasi, sosial akan banyak komunikasi (verbal dan nonverbal).

Perbedaan LPDP di Indonesia dan di luar negeri?

Requirement bahasa, selebihnya sama. Sekarang kalau mau kuliah keluar wawancaranya bahasa Inggris, kalau di dalam negeri pakai bahasa Indonesia. Selebihnya sama.

Bagaimana yang bukan dari universitas terbaik, apa berpengaruh?

Kalau LPDP masih melihat (status universitas), kalau di luar tergantung kampusnya. Ada kampus yang persyaratannya ketat sekali ada yang enggak. Jadi tidak menutup kemungkinan untuk kampus ‘kecil’, biasanya terbantu surat rekomendasi.

Letter of Recommendation (LoR), apakah harus dari seseorang yang jabatannya tinggi?

Tidak, baiknya dari orang yang sering bekerja bersama kita atau tahu kinerja kita seperti apa. Karena struktur bahasanya akan sangat berbeda, apabila kita mendapatkan LoR dari orang yang memiliki jabatan tinggi tapi tidak terlalu mengenal kita. Bandingkan dengan orang yang jabatannya tidak terlalu tinggi, namun sangat mengenal kita.

Akan lebih baik juga apabila kita mendapatkan LoR dari orang yang sangat mengenal kita sekaligus mempunyai jabatan tinggi di intitusi tersebut.

Bagaimana dengan personal statement?

Ada dua, Kampus dan LPDP. Kalau kampus record di bidang akademik, aktivitas sekarang apa (harus berkaitan dengan jurusan yang dituju), kontribusi di lingkungan akademis kampus tersebut. Kita mau jadi apa? Harus lebih fokus melihat implikasi akademis dan tidak menilai pengalaman organisasi.

Kalau LPDP akademik, pengabdian masyarakat, ceritakan project besar yang benar-benar kita tangani (yang relevan dengan jurusan yang dituju). Semuanya dinilai; akademis, organisasi, volunteering. Melihat dampak nyata yang akan diberikan.

Kampus tidak mengeluarkan transkrip bahasa Inggris, boleh dialihbahasakan oleh certified translator?

Bisa saja, asal menggunakan jasa translator yang sudah disumpah atau tersertifikasi. Namun perlu diperhatikan lagi persyaratan tersebut.

Bagaimana jika ingin melanjutkan beasiswa doktoral dengan beasiswa LPDP?

Ada LPDP lanjutan, jadi kalo S-2 udah LPDP, mau S-3 tak perlu seleksi lagi. Seleksi tesis saja.

S-2 berpengaruh dalam pekerjaan?

S-2 bukan sekadar mengejar ilmu, tapi capacity building. Environment kampus itu penting sekali dibanding studinya itu sendiri. S-2 itu membentuk karakter, jadi lebih wise, bisa di dapat bukan hanya di kelas, tapi interaksi dengan lingkungan. Bagaimana ilmu itu diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Tips diterima kampus tujuan?

Daftar. Banyak orang merasa berat untuk isi formulir, sign up karena belum siap. Ketika sudah isi, jadi terasa mudah dan termotivasi.

Saran untuk yang belum berhasil seleksi LPDP?

Coba lihat lagi alasan mau S-2, apakah benar-benar kuat tujuannya atau sekadar pengin saja. Kalau memang tujuannya kuat, akan terus mengejar. Ingat bahwa beasiswa bukan hanya LPDP, banyak yang lain. Baik dari pemerintahan maupun swasta. Jangan hanya terpatok dengan LPDP.

Coba yang lain-lain juga, jangan malas googling!