Setiap tanggal 21 April biasanya tiap murid-murid di sekolah mulai tampil agak sedikit berbeda, terutama perempuan. Mereka berdandan cantik menggunakan pakaian-pakaian daerah atau mengenakan kebaya layaknya seorang Kartini. Karena memang hari itu diperingati sebagai hari pahlawan atau Hari Kartini.

Raden Ajeng Kartini, perempuan kelahiran 21 April 1879, merupakan putri dari golongan bangsawan. Ia merupakan putri dari Bupati Jepara RM Sosroningrat. Sebagai anak Bupati, Kartini semasa hidupnya terbilang berkucukupan.

Kartini kecil merupakan sosok yang penuh menaruh hormat dan penurut kepada orang tuanya. Bahkan, ia pun mengikuti saran sang ayah agar menikah dengan Bupati Rembang, sekalipun sebagai istri ke-4. Meski begitu, tidak menciutkan semangat Kartini untuk mengedepankan hak-hak perempuan dalam mengakses pendidikan.

Besarnya semangat Kartini terhadap hak-hak perempuan juga kerap ia tuangkan ke dalam surat-surat yang dikirimkan kepada rekan-rekannya di Belanda. Kumpulan pemikiran beliau melalui surat itulah yang pada akhirnya dikenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini kepada rekannya, Rosa Manuela Abendanon-Mandri, pada 8 Agustus 1901 silam.

Impian Kartini pelan-pelan mulai terlihat. Perlahan, sarana pendidikan untuk perempuan terwujud. Sekolah pertama Kartini yang bernama Sekolah Kartini di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pun hadir. Sistem pendidikannya sederhana: mengajarkan murid-muridnya menjadi orang yang baik dan pintar, tidak muluk-muluk untuk melawan Belanda.

Juga begitu dalam surat-surat Kartini yang ditemukan, –walaupun masih misteri karena banyak yang berserakan– kebanyakan beliau menuliskan tentang kegelisahan bagaimana kedudukan seorang perempuan Jawa dan keinginannya mengakses pendidikan pada masa itu, era Belanda.

Rupanya, hal itulah yang disukai oleh Pemerintah Belanda. Bagi Belanda, Kartini adalah sosok yang bisa dimunculkan dan memang seharusnya semua perempuan seperti Kartini: tidak berjuang memanggul senjata, menurut pada orang tua, dan memakai kebaya.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan, Kartini sebagai sosok perempuan pejuang versi Belanda memang berlatar belakang politis. Dan dipilihnya Kartini, melalui Keputusan Presiden (Kepres) Tahun 1964 yang ditandatangani Presiden Soekarno, sebagai Pahlawan Nasional Perempuan memiliki unsur politik etis.

Di awal tahun 1900-an, figur itu diciptakan Pemerintah Belanda untuk mengendalikan kaum perempuan. Itu juga bisa terlihat dari isi surat-surat Kartini, yang secara umum bercerita tentang keluh kesahnya menjadi anak perempuan Jawa yang dipingit, juga keinginannya agar para perempuan memiliki kesempatan yang sama di bidang pendidikan.

“Kartini itu sosok yang dimunculkan oleh Pemerintah Belanda. Di awal tahun 1900-an, figur itu diciptakan Pemerintah Belanda untuk mengendalikan kaum perempuan,” kata Asep Kambali seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Kendati begitu, penilaian tetap ada di tangan kamu, dan Kartini tetaplah sosok yang mesti dihargai juga diteladani sebagai pahlawan perempuan Indonesia. Ia telah berjuang dengan caranya sendiri di zamannya. Kartini tidak menciptakan perempuan yang harus sejajar atau di atas laki-laki.

sumber: Historia, Komunitas Historia.