Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), menyatakan produksi kabar hoax di Indonesia mulai marak sejak pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012, kemudian meningkat di pemilihan presiden 2014. Jelang Pilkada Serentak 2017, khususnya pemilihan Gubernur DKI Jakarta, hoax tak juga reda.

Hoax atau rumor atau desas-desus sebenarnya bukan lagi baru. Tahun 1971 seorang perempuan asal Aceh, Cut Zahara Fonna, tengah hamil 6 bulan mengaku mengandung seorang bayi ajaib: bila orang menempelkan telinga ke perutnya orang tersebut akan mendengar si bayi bisa mengumandangkan salat dan ayat-ayat Al Quran.

Ketika itu, sejumlah pejabat negara berbondong-bondong menengok Cut Zahara Fonna yang dirawat di ruang VIP RS Cipto Mangunkusumo. Tak kurang dari Wakil Presiden Adam Malik dan Ibu Tien Soeharto menyatakan kekaguman mereka.

Bahkan, Adam Malik menyatakan, “Boleh jadi telah ada 7 keajaiban dunia. Namun keajaiban dunia yang ke-8 akan lahir di Indonesia, melalui perut Nyonya Cut Zahara Fonna.”

Lalu bagaimana sebenarnya? Rupanya fenomena ini tak lain adalah sebuah penipuan biasa, di mana Cut Zahara memasukkan tape recorder kecil dalam belitan stagen di perutnya. Tape recorder masih langka kala itu.

Lalu mengapa hoax begitu laris?

Pertama dari sisi pengelola. Berita hoax tak lepas dari peran pengelola yang kerap memberikan berita ‘pelintiran’ demi menjaring pembaca. Biasanya judul berita dibuat sensiaonal, fantastis, atau bombastis. Sehingga pembaca tertarik mengklik judul berita tersebut, yang padahal sering tak berkaitan dengan isinya. Hal itu diperparah dengan kebiasaan pengguna yang malas membaca lebih detail lagi. Hanya liat, kemudian bagikan.

Dilansir Katadata, MAFINDO mengidentifikasi kini ada sekitar 20 situs penyebar berita palsu yang masih beroperasi. Situs-situs berita palsu itu biasanya dilatari oleh dua jenis kepentingan, yaitu motif meraup uang dan kepentingan politik.

Inisiator MAFINDO, Saptiaji Eko Nugroho, dengan kurs Rp13.300 per dolar AS, satu berita hoax nilainya bisa mencapai Rp1,33 juta. Nilainya makin bertambah jika berita itu viral. Dalam setahun, situs-situs seperti itu, penghasilannya bisa mencapai hampir satu miliar rupiah dalam setahun.

“Jadi kalau ada satu artikel viral meskipun hoax atau provokasi, yang diakses hingga 100 ribu kali, bisa mendapat US$ 100,” ujar Eko seperti dikutip dari katadata.co.id

Kemudian, situs postmetro.co, yang kini jadi perbincangan, seperti diberitakan Tirto.id, dalam sehari bisa menghasilkan 80 artikel dan menghasilkan Rp25 juta – Rp30 juta.

“Dalam sebulan kita mendapat rata-rata penghasilan Rp 25 juta sampai 30 juta,” kata pengelola situs postmetro sepeti dikutip dari tirto.id.

Selanjutnya dari sisi pengguna. John Suler, ahli psikologi Internet dalam teorinya online disinhibition effect (efek nirkekang daring), saat sedang daring (online), seseorang bisa mengatakan atau melakukan tindakan yang tidak biasa dilakukan di dunia nyata. Alasannya, mereka lebih bebas, merasa tidak rekekang, dan mengekspresikan diri lebih terbuka.

Adapun menurut Sherry Turkle (2012), ahli psikologi dan peneliti Internet, dunia daring membuat orang selalu terhubung dan menawarkan pemenuhan tiga kepuasan (gratification): bebas memberi perhatian di mana pun kita berada, selalu akan didengar atau diperhatikan, dan kita tidak pernah sendirian. Dengan demikian, jika tiba-tiba kita memiliki waktu jeda (misalnya saat menunggu) kita merasa “cemas” dan segera menuju dunia daring.

Para psikologi juga mengenal fenomena yang disebut confirmation bias (bias konfirmasi), yaitu kecenderungan orang untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi, mengkonfirmasi, atau meneguhkan pandangan yang dimiliki sebelumnya. Hoax segera dianggap sebagai kebenaran jika sesuai pandangan sebelumnya yang bermuatan emosi, misalnya soal politik atau agama.

Rendahnya minat baca juga mempengaruhi larisnya berita hoax di lini masa atau masyarakat sekalipun. Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan minat baca orang Indonesia hanya 0,001 atau dari tiap 1000 orang hanya ada 1 yang membaca. Data tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi kedua dari bawah dalam keliterasian dunia, hanya setingkat di atas negara asal Afrika, Botswana, nomor 60 dari 61.

Kemudian, Dewan Pers, seperti dilansir Tirto.id, mengkategorikan ciri-ciri berita hoax. Pertama, berita hoax dibuat berdasarkan kepentingan tertenu lalu disebarluaskan dengan tujuan dan maksud tertenu.

Kedua, berita dibuat oleh media tidak profesional dengan kombinasi wartawan yang tidak memiliki kompetensi, juga tidak paham bagaimana mencari tahu cara verifikasi sehingga berita itu muncul tanpa verifikasi. Media itu pun tidak berbadan hukum.

Ketiga, penyebarannya, memang, tidak dimaksudkan untuk mencapai sesuatu, tetapi memang medianya tidak proper, beritanya salah, mengambil sumber yang tidak kredibel.

“Celakanya, berita itu diambil orang lain lalu disebarkan,” tutur ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, seperti dikutip Tirto.id.

Merujuk kepada apa yang dipaparkan MAFINDO dan Sherry Turkle, bisa jadi, hal tersebut menjadi alasan berita hoax bisa begitu laris saat ini. Dan, tentu saja, meresahkan.

sumber: Katadata.co.id, Beritagar.id, Tirto.id, Tempo, Dewanpers.id