Awal tahun kerap dijadikan sebagai momen perubahan, entah sekadar mengubah hal yang sekiranya kurang sesuai maupun memulai sesuatu yang baru dan berbeda. Mungkin, kalian, merasa belum memanfaatkan dengan baik atau justru jenuh dengan hal-hal tidak mengenakkan di tahun kemarin. Tahun ini lah saatnya untuk melakukan perubahan kecil di hidup kalian, sesederhana mengubah gaya rambut.

Mencontoh orang lain bukan berarti mengganti identitas diri kita, namun lebih kepada mengurangi kebiasaan-kebiasaan kita yang tak hanya menjadi racun bagi diri kita sendiri, namun juga mengganggu orang lain.

Merasa belum menjadi pribadi yang baik? Yuk coba tanamkan hal-hal berikut ini:

Berhenti menghakimi pilihan orang lain.

Melihat media sosial, teman misalnya, yang tak henti-hentinya mengunggah foto-foto dengan gaya berpakaian eksentrik, seringkali ada dorongan dari dalam diri kita untuk menilai dan menghakimi secara sepihak, atau dengan kata lain memberi label yang tidak sepatutnya diterima orang lain.

Padahal, di samping adanya hak setiap orang untuk mengekspresikan diri tanpa harus dihakimi, tidak etis rasanya apabila kita menghakimi seseorang tanpa mengetahui secara lengkap apa yang dilakukan orang tersebut. Apalagi sampai mencoreng nama baik mereka.

Jadi, buang jauh-jauh dorongan untuk hanya sekedar menghakimi orang lain, tanpa memberi masukkan atau bantuan apabila perilaku seorang temanmu dinilai mengganggu.

Sementara untuk pilihan pribadi seseorang seperti gaya berpakaian yang tidak mengganggu sekitar, belajarlah untuk menjadi generasi muda yang toleran dan menghargai perbedaan tanpa menghakimi orang lain tanpa tujuan yang jelas.

Pensiun menggunjing.

Biasanya poin kedua ini sangatlah terkait dengan poin pertama. Saat ada seorang teman yang melakukan sebuah kesalahan, timbul dorongan untuk kembali membahas kesalahan atau kejelekkan tersebut.

Tak hanya membicarkannya, seringkali kita berspekulasi sendiri akan keadaan orang lain yang parahnya disebar luaskan. Ini merupakan kebiasaan beracun yang harus segera dipensiunkan dari dalam diri kita.

Daripada membuang waktu menggunjing orang lain yang belum jelas kebenarannya, lebih baik kita gunakan waktu bercengkerama dengan orang terdekat untuk membicarkan hal-hal yang lebih bermanfaat seperti menggali informasi kabar terkini atau perkembangan zaman yang sayang untuk dilewatkan. Dengan demikian obrolanmu akan tetap menyenangkan, bermanfaat, dan tentunya tidak merugikan siapapun.

Jadilah kritikus yang pintar.

Belakangan ini, netizen disebut-sebut sebagai kritikus paling cepat tanggap dalam segala persoalan yang muncul ke permukaan. Dari persoalan besar nan vital hingga hal-hal kecil yang kurang penting tak satupun luput dari komentar dan kritik tajam netizen.

Mungkin, sebagai generasi muda, kita yang sedang haus-hausnya akan perkembangan segala macam isu selalu terdorong untuk memberikan pendapat kita. Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan hal ini apabila kita bisa menjadi kritikus yang pintar.

Kritikus yang pintar ialah kritikus yang mampu menyampaikan kritik maupun pendapat yang bermanfaat dengan cara yang baik, mudah dimengerti oleh orang lain, serta didasari oleh landasan yang jelas dan sumber yang akurat. Karena, pada sejatinya tidaklah bijak apabila kita sebagai generasi muda sembarang berkomentar atau mengkritik tanpa memikirkan dampak apa yang ditimbulkan dari apa yang kita sampaikan.

Biasakanlah memverifikasi informasi yang kita terima sebelum melontarkan pendapat kita, serta belajarlah untuk mengolah kritik maupun pendapat kita agar pesan yang ingin disampaikan tertangkap dengan baik dan dapat menimbulkan perubahan kea rah yang lebih baik, bukan hanya sekedar kritik pemicu konflik adu ego.

Senyumanmu mengalihkan dunia.

Sadar atau tidak, senyum telah membawa banyak perubahan di dunia ini. Dari sebuah senyuman, ada semangat yang kembali bangkit dan ada pula senyuman lain yang tergerak karenanya.

Senyuman adalah hal positif yang tak hanya berdampak besar, namun juga mudah untuk dilaksanakan. Seburuk apapun hari kita, jangan biarkan orang lain harus merasakan hal yang sama dan terkena dampaknya. Berhenti mengeluh dan tersenyumlah. Berhenti membagi bebanmu dan mulai tularkan kebahagiaan bagi sekitarmu.

Memulainya pun sangatlah mudah, sesederhana tersenyum pada asisten rumah tangga kita atau bahkan pada orang yang duduk di samping kita di perjalanan pulang hari ini. Siapa bilang kebaikan harus berupa hal-hal yang besar?

Jenuh dengan hal-hal yang meracuni keseharian kita tersebut? Siap menjadi orang yang lebih baik? Mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri.