Ratusan anak muda memadati Restoran Es Teler 77 di Jalan Adityawarman No. 61, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017) malam itu. Bukan menghadiri sebuah selebrasi, di sini, mereka hadir untuk berdiskusi soal Pilkada DKI 2017 dalam acara Dengerin Dong! yang diadakan oleh Sinergi Muda dan Asumsi.

Dalam diskusi tersebut, salah satu tema yang mendapat perhatian adalah mengenai disabiitas di Jakarta, yang dianggap, hingga saat ini, belum ramah kepada penyandangnya. Padahal, bagaimanapun mereka merupakan warga Jakarta yang turut memberikan suaranya saat pemilihan nanti.

Seperti Annisa Rahmania, misalnya, yang mewakili para penyandang disabliitas, mengungkapkan keluh-kesah dan harapannya tentang Jakarta. Ia mengemukakan bahwa fasilitas untuk para penyandang disabilitas di Jakarta masih sangat minim sehingga ia berharap kaum disabilitas bisa lebih diperhatikan oleh pemimpin Jakarta yang baru nantinya.

“Saya berharap calon gubernur bisa dekat dengan kaum disabilitas. Saya ingin kaum disabilitas bisa terlibat langsung dan mendapat sosialisasi (terkait Pilkada) sehingga bisa lebih memahami soal gubernur mana yang harus dipilih, sebab mereka tidak tahu,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar Jakarta bisa menjadi kota yang lebih ramah, memiliki akses yang mudah, juga peduli disabilitas.

Menanggapi hal itu, Rizky Aljupri yang mewakili paslon nomor 1 beranggapan untuk menunjang disabilitas mesti didasari dari rasa empati terlebih dulu. “Itu semua harus berawal dari empati. Fokusnya adalah transportasi publik, semua infrastruktur. Nanti tidak ada lagi yang tidak buat disabiitas,” katanya.

Kemudian, dari paslon nomor urut 2, mengklaim Pemerintah Provinsi (Pemprov) sudah melakukan pada periode sebelumnya. Meski, ada beberapa sektor yang kurang disosialisasi.

“Di Balaikota ada program magang. Waktu itu kita terima anak magang disabilitas. Jadi ini isu yang penting. Di Jakarta ada Transjakarta Care, kami akui ini masih kurang sosialisasi. Ada juga trotar khusus,” ujarnya.

Sedangkan Anggawira, timses paslon nomor urut 3 menilai, “Pembangunan pelayanan publik yang lebih ramah untuk mendorong kepada disabilitas, membuka kesempatan kerja di pemprov bagi disabilitas minimal dua persen,” sebutnya.

Malam itu, para peserta yang hadir tak hanya mendengarkan para perwakilan paslon menyampaikan visi-misi semata, tetapi mereka juga berani beraspirasi soal ibukota Indonesia itu dan mengemukakan pandangan mereka soal apa yang harus dibenahi dari Jakarta.

Turut hadir pula beberapa panelis dari berbagai latar belakang yang berbeda, seperti Annisa Rahmania (Young Voice Indonesia), Yuki Rahmadini (Owner Onigiri Futago), Agrita Widiasari (Co-founder Sinergi Muda), Rozinul Aqli (Kandidat Master School of Global Affairs and Public Policy, The American University di Cairo), Taufan Akbari (Dekan muda LSPR dan inisiator Indonesian Community Network), serta Sri Suryani (Komunitas Ciliwung Merdeka).