Apa yang kamu bayangkan jika mendengar potongan kalimat ini: “Mereka sedang belajar membaca”.

Jika kamu seperti saya, mungkin, yang kamu bayangkan adalah sekumpulan balita yang belajar mengenali huruf dan bagaimana bunyinya.

Pandangan ini perlu diperluas, karena menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, persentase buta huruf terbesar di Indonesia dimiliki oleh kelompok umur tertua, yaitu kelompok 45 tahun ke atas dengan angka 11,47 persen. Kemudian, angka buta huruf angkatan kerja, 15–44 tahun jauh lebih sedikit, yaitu satu persen.

Hal ini mungkin disebabkan oleh belum baiknya kualitas dan jangkauan pendidikan Indonesia untuk generasi sebelumnya. Sekarang, jangkauan dan kualitas sudah membaik, meskipun jauh dari benar-benar rata: angka buta huruf angkatan kerja Papua adalah 28,21 persen, sementara DKI Jakarta 0,08 persen.

Menurut Fondation pour l’alphabetisation, sebuah yayasan literasi di Kanada, buta huruf di kelompok usia di atas 45 tahun disebabkan oleh banyaknya kesempatan kerja menarik yang tidak memerlukan pendidikan sekolah. Banyak dari pekerja ini menemukan pasangan di tempat kerjanya, berkeluarga, dan kemudian hidup stabil, sehingga tidak merasa perlu lagi kembali ke sekolah. Sebab ini mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan Indonesia, namun tetap perlu diperhatikan.

Karena banyak perusahaan tempat mereka bekerja ditutup, para pekerja dengan tingkat literasi rendah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dengan kemampuan mereka, mereka tidak mampu bersaing di pasar pekerjaan.

Literasi memiliki kemampuan untuk memberdayakan. Menurut UNESCO, literasi, dengan dua cara yang terkait, membantu pelajar –terutama perempuan– untuk berani mengambil tindakan individu dan kolektif. Cara pertama adalah dengan desain program literasi yang memancing pelajar untuk belajar sendiri tanpa dibatasi. Kedua, literasi memberdayakan kondisi sosial dan ekonomi pelajar, karena mereka menjadi ingin mandiri dan sukses.

Selain itu, tingkat literasi yang tinggi juga meningkatkan tingkat partisipasi politik. Menurut Hannum and Buchmann, orang yang terdidik –dan tentu memiliki tingkat literasi tinggi– lebih toleran dan demokratis.

Sedikit contoh kasus, ada sebuah program literasi bagi pekerja –di sebuah lokasi pembangunan– di Brasil yang berhasil meningkatkan partisipasi pekerja dalam serikat buruh. Sedangkan di Kenya, orang-orang lulusan program literasi lebih banyak berpartisipasi di pemilihan umum, dibanding orang-orang dengan buta huruf.

Contoh di atas sebenarnya menggambarkan kepada kita yang pada dasarnya literasi adalah hak –-ini jelas karena pendidikan merupakan hak asasi berdasarkan Deklarasi Universal untuk Hak Asasi Manusia.

Dengan menimbang berbagai manfaat literasi bagi manusia secara individu dan secara global, tentu membuang waktu jika kita sebagai masyarakat tidak berusaha meningkatkan dan meratakan literasi.