Saya memang masih berusia 13 tahun (yang akan genap 14 tahun beberapa bulan lagi), tapi saya ingin menyampaikan aspirasi, yang selama ini, tidak tahu harus disampaikan dimana.

Saya miris melihatnya, melihat negara saya sendiri, negara yang saya banggakan, budayanya telah hilang, terabaikan, bagai tenggelam, tidak pernah disentuh lagi. Di kalangan remaja, seumuran saya, sudah tidak ada lagi yang peduli dengan budaya negerinya sendiri. Mereka lebih memuja-muja negeri orang lain.

Dapat dimengerti, mungkin negara lain memang lebih bersih, lebih disiplin, tapi mereka tidak punya budaya sebanyak budaya Indonesia.

Rata-rata, remaja sekarang sudah tidak ada lagi yang mau ke pasar, membantu orang tua mereka, melihat aktifitas jual beli yang tidak ada di supermarket. Tidak ada lagi yang mau makan-makanan tradisional, kue-kue tradisional, seperti kue ape, kue mangkok, kue cubit, gudeg, bakpia, pecel, gado-gado, dan masih sangat banyak lagi.

Juga jarang yang menyukai makanan seperti tahu, tempe, yang diolah oleh sumber daya manusia negaranya sendiri. Makanan-makanan itu begitu enak, tapi orang lain lebih memilih junk food. Makanan cepat saji, yang tidak bernutrisi, juga tidak menambah wawasan tentang makanan Indonesia.

Tidak ada juga yang mau datang ke acara-acara yang menampilkan penari-penari tradisional. Banyak sekali mereka yang mendukung Indonesia untuk mengembalikan kembali Tari Pendet yang ‘dicuri’ oleh Malaysia, tapi setelah saya melakukan survey, mereka hanya ikut-ikutan orang lain! Mereka tidak sepenuhnya mengerti.

Tidak ada yang mau berlibur di Indonesia (Selain Jakarta, Bandung, Bali, Makassar), dan masih banyak sekali bagian-bagian dari Indonesia yang pastinya belum pernah kita kunjungi. Jujur, saya pribadi lebih sering berlibur di luar negeri, namun sekarang saya sadar. Mengapa tidak kita mencoba untuk berlibur di negeri kita sendiri? Saya sangat bersemangat untuk mengajak orang tua, berlibur ke Semarang, Padang, Lombok, Manado, Bromo, dan lain lain. Lebih banyak yang ingin berlibur ke Singapore untuk shopping. Jika saya banding-bandingkan harganya, lebih murah di Indonesia! Semua toko di sana juga sudah ada di pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia bukan?

Yang berlibur ke Bali pun mereka hanya ingin bermain di Pantai Kuta, shopping. Tetapi tidak ada yang mau ke Ubud dengan berbagai alasan. Padahal, di sana banyak sekali budaya Indonesia yang bisa kita lihat, hutan-hutannya yang masih free, lukisan-lukisannya begitu indah, banyak penampilan tarian tradisional, musik-musik tradisional yang bisa kita dengar setiap memasuki tempat wisata di sana.

Tak jauh beda dengan Lombok, banyak yang tidak ingin ke sana karena alasannya satu, sepi. Padahal, budaya Lombok sangat bagus! Sewaktu keluarga saya berlibur di sana, kami menyewa mobil dan supir dari sebuah agen tour. Supirnya mengajak kami ke tempat-tempat wisata yang tidak pernah kami lihat. Kami belajar membuat hiasan rumah dari gabah, belajar menenun kain-kain yang ada di Lombok, mengunjungi suatu desa terpencil yang rumahnya terbuat oleh gabah, dan masih menganut adat-adat nenek moyangnya.

Mungkin masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, tapi semua yang di atas, hanyalah beberapa yang lebih umum dan dapat dijangkau oleh kita semua.

Saya sangat ingin mendirikan komunitas semacam penyelamat budaya Indonesia. Seharusnya, remaja-remaja seumuran kita, dapat mengenal lebih banyak tentang budaya Indonesia. Mengapa? Pasti kita semua ingin kuliah di luar negeri, dan mereka sangat tertarik dengan budaya negeri kita. Jika kita bisa memainkan angklung, bisa Tari Piring, dan lain lain, kita bisa menampilkannya di depan mereka. Untuk part-time job? Kita bisa mengajar teman-teman yang ingin belajar kebudayaan itu, atau pun mengajar di KBRI.

Saya sendiri juga tidak tahu, bagaimana kebudayaan Indonesia dihargai di sekolah kalian, tapi, di sekolah saya sendiri, saat pelajaran seni musik, kami semua satu kelas, memainkan angklung dan dipimpin oleh guru bidang studi itu. Sangat menyenangkan, lho. Namun, untuk ekstrakulikuler tarian tradisional, sayang sekali, hanya ada Tari Saman. Ya, tarian itu hampir ada di seluruh sekolah. Saya berharap, akan ada tarian tradisional lainnya yang jarang, yang dapat dilatih di sekolah saya.

Saya baru 1 bulan, sudah tidak menjadi Ketua OSIS dari sekolah saya. Saya juga menyesal (yang sangat tidak baik, karena menyesal belakangan), karena sewaktu saya berkampanye sebagai calon Ketua OSIS, saya mengatakan bahwa jika saya menjadi Ketua OSIS, saya ingin sekali mengadakan acara atau festival budaya Indonesia. Dan mimpi saya itu, bukannya tidak menjadi kenyataan, tapi, belum menjadi kenyataan. Karena terbatasnya waktu dan biaya saat itu, acara yang saya damba-dambakan itu belum sempat terlaksanakan.

Oh iya, untuk menghargai budaya Indonesia bukan cuma menggunakan batik dan kebaya ya teman-teman. Banyak sekali hal yang dapat kita lakukan selain itu.

Saya juga sangat berharap, aspirasi ini, dapat menjadi ‘Wake Up Call’ untuk teman-teman semuanya. Mari, kita nyalakan kebudayaan Indonesia yang berlimpah, yang sangat indah. Buktikan ke negara-negara lain, bahwa kita bukan hanya terkenal oleh kemiskinan dan korupsi, buktikan bahwa kita adalah sumber daya manusia yang bermanfaat, yang dapat menunjukkan keragaman budaya Indonesia.

Terimakasih untuk teman-teman yang telah membaca aspirasi saya ini. Ayo, kita berjuang, untuk Indonesia!

Catatan: Artikel ini merupakan bagian dari arsip MUDAzine yang kami terbitkan kembali.