“Kok CV gue ga ada yang bales, ya?”

Gue udah apply ke kantor lo tapi ga dipanggil-panggil, nih!”

Mungkin beberapa di antara kita ada yang pernah curhat seperti itu. Udah ngirim CV ke banyak perusahaan, tapi tidak ada satu pun yang membalas. Apakah karena kita tidak qualified? Atau mungkin kita sudah sesuai kriteria tetapi ada kesalahan kecil yang kita lakukan saat melamar?

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan perintis atau startup teknologi dan dipercaya untuk membangun tim saya sendiri. Oleh karena itu, saya sering melakukan perekrutan anggota tim saya dan menerima banyak sekali surat elektronik (surel) lamaran. Selama hampir dua tahun bekerja di sini, saya menemukan banyak sekali kesalahan yang umum dilakukan oleh pelamar.


“Please review my profile”

Kredit: Laman LinkedIn GO-JEK Indonesia

Pertama, pembuat lowongan sudah mencantumkan cara pendaftaran di caption dan di dalam gambar, yaitu dengan mengirim ke sebuah alamat surel. Namun, 10 orang justru mengirim komentar yang justru bertolak belakang dengan tata cara yang berlaku. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kesepuluh orang tersebut tidak bisa membaca brief dengan baik. Lebih buruknya lagi, saya pribadi menganggap mereka malas karena hanya membuat komentar yang generik, “please review my profile,” atau “interested.”

Kedua, dengan membuat komentar di sebuah lowongan, komentar kita bisa dibaca oleh semua orang termasuk rekan dan atasan di perusahaan kita bekerja. Kita tidak menginginkan hal tersebut, bukan?


Asal mem-forward surel


Yang terjadi di sini adalah pelamar melihat beberapa info lowongan di waktu yang berdekatan. Lalu ia mem-forward surel lamaran yang sudah ia kirimkan untuk perusahaan lain ke perusahaan lainnya lagi.

Akibatnya, perusahaan kedua dan seterusnya bisa melihat history lamaran yang kita lakukan. Ini bisa membuat kita dicap tidak profesional dan bahkan tidak mengerti teknologi surel.


Posisi tidak sesuai dengan lowongan

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di dalam sebuah lowongan ada yang namanya HR dan ada juga Hiring Manager. Hiring Manager biasanya adalah calon atasan dari posisi yang ditawarkan. Biasanya pula Hiring Manager yang mem-posting lowongan tersebut dan sekaligus juga menjadi contact person.

Saya biasanya hanya mem-posting lowongan untuk posisi Web Developer dan Web Designer. Saya beberapa kali mendapat kiriman dari orang yang melamar untuk posisi lain. Bahkan ada pula yang tidak mencantumkan posisinya, yang saya anggap ia berharap ada posisi apapun yang bisa disesuaikan dengan kualifikasinya.

Sebagai Hiring Manager yang bisa saya lakukan ada dua. Pertama, meneruskan surel tersebut ke divisi terkait. Kedua, mengabaikannya.


Tidak ada body surel

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kesalahan ini yang paling umum terjadi. Kita hanya mengirim surel dengan hanya menyertakan lampiran saja dan tanpa disertai pengantar apapun di body surel.

Beberapa perusahaan mengharuskan ada cover letter di setiap lowongan yang dibuat. Cover letter tersebut bisa kita sertakan di dalam body surel (bukan berupa lampiran). Selain itu, kita juga bisa menulis pengantar di body surel seperti:

  • Dari mana kita mengetahui lowongan tersebut,
  • Sedikit perkenalan mengenai siapa kita dan kualifikasi kita, dan
  • Alamat/kontak yang bisa dihubungi.

Menggunakan bahasa sehari-hari

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada yang mengatakan bahwa perilaku berbahasa mencerminkan kepribadian seseorang. Ketika mengirimkan lamaran kerja, kita sedang menjalin komunikasi secara profesional dengan pihak perusahaan yang kita tuju, meskipun Hiring Managernya adalah teman kita sendiri. Bahasa yang kita gunakan pun tentu harus kita sesuaikan.

Beberapa kesalahan yang saya temukan adalah:

  • Tidak menyapa atau tidak sopan.

    Hiring Manager dan HR adalah manusia seperti kita juga. Tentu mereka memiliki nama. Kita bisa melakukan sedikit riset, kira-kira siapa nama Hiring Manager atau HR yang kita tuju, lalu kita awali surel dengan, misalnya, “Selamat siang, Mas Gilang.”

    Hindari langsung menggunakan nama seperti “Dear Gilang.” Kita harus berasumsi bahwa pihak yang kita tuju lebih tua dari kita, dan penggunaan panggilan seperti Mas/Mbak/Pak/Bu bisa mengesankan kita adalah orang yang sopan.

    Kalau kita tidak menemukan nama Hiring Manager atau HR, kita bisa menggunakan jabatannya sebagai pengganti nama, seperti “Dear Hiring Manager,” dan sebagainya.

  • Tidak menggunakan huruf kapital maupun tanda baca secara benar.

    Kita bisa membaca pedoman penggunaan huruf kapital ini agar surel yang kita buat terlihat profesional.

  • Terlalu santai.

    selamat siang
    terlampir cv saya
    mohon review
    terima kasih

    Contoh seperti ini bisa membuat kita terkesan terburu-buru dan tidak serius dalam mengirimkan lamaran.


Ingin CV kita dibaca?

Dengan mengikuti 4 langkah ini, CV yang kita kirim memiliki peluang untuk dibaca dibanding yang dikirim secara tidak serius.

  1. Awali dengan sapaan.
  2. Sertakan pengantar di dalam surel kita.
  3. Perhatikan tanda baca dan huruf kapital.

Selain itu, kamu juga bisa mendaftar sebagai relawan untuk menambah pengalaman kerjamu.

Selamat mencoba!