Hore! Mulai tahun ajaran baru 2017 nanti seluruh siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menenangah Pertama (SMA), dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) bakalan sekolah lima hari saja dalam sepekan.

Kepastian itu secara resmi sudah dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy. “Iya (Sabtu) full libur,” katanya, seperti dikutip CNN Indonesia.

Bapak menteri juga menjelaskan alasan penetapan aturan sekolah lima hari tersebut. Menurutnya, Sabtu diliburkan karena sistem kegiatan belajar-mengajar saat ini berlaku hingga minimal delapan jam per hari, yang mengikuti jam kerja aparat sipil negara (ASN), termasuk guru yang bekerja total selama 40 jam per pekan.

“Jadi kalau sudah melampaui standar kerja ASN sehingga guru mengikuti itu,” ujar Muhadjir.

Merujuk apa yang disampaikan Mendikbud Muhadjir barang tentu keputusan tersebut tidaklah pantas untuk dirayakan. Sebab, keputusan itu membuat para siswa dan siswi di semua tingkat, mau tidak mau, suka tidak suka, mesti belajar selama delapan jam lamanya dalam sehari.

Pertanyaannya, pantaskah kita rayakan keputusan tersebut, bila melihat fakta di bawah ini?

Tahun lalu sebuah penelitian dari Georgia and Montana State University menunjukkan bahwa mempersingkat waktu belajar dalam sepekan tak berdampak negatif terhadap proses pembelajaran siswa.

Penelitian ini bahkan menunjukkan adanya peningkatan nilai mata pelajaran matematika pada siswa kelas V ketika guru mereka memangkas jam pelajaran tersebut di sekolah.

Menarik lainnya, sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada baru-baru ini mengusulkan jam masuk sekolah dimundurkan satu jam. Alasannya, proses pembelajaran dan kesehatan mental murid akan meningkat—dan bahkan bisa mencegah kecelakaan lalu lintas. Bukan hanya anak sekolah yang butuh tidur lebih malam, tapi juga anak-anak kuliah menurut penilitian tersebut.

Wacana ini muncul dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) yang merilis pernyataannya di Journal of Clinical Sleep Medicine: Jam masuk sekolah seharusnya dimulai pukul 8.30 pagi atau bahkan lebih siang lagi bagi anak SMP dan SMA.

Organisasi AASM turut menganjurkan bagi anak-anak berumur 13 hingga 18 tahun untuk tidur 8 hingga 10 jam per hari. Sayangnya, data Centers for Disease Control menunjukkan, hampir 70 persen murid SMA hanya tidur 7 jam atau bahkan kurang di malam hari sebelum sekolah.

sumber: Tempo, Vice, CNN Indonesia