Menurut David Feeney, mengukur waktu adalah bagian dari ‘menjadi manusia’. “Tidak ada orang yang hanya mengalir melewati waktu, tidak pun masyarakat pemburu dan pengumpul.”

Dalam konteks kehidupan manusia, tahun baru bisa dilihat sebagai momentum. Fajar agaknya biasa saja dibanding 1 Januari, karena memang terjadi setiap hari. Umur memang selalu bertambah, dan tahun baru tidak istimewa jika dilihat dengan cara ini. Namun dalam sejarah manusia, tahun baru tidak sekadar dilihat sebagai hari baru.

Banyak budaya yang memiliki tradisi tahun barunya sendiri, bahkan ada yang memiliki hitungan tahun sendiri. Ada tahun Hijriyah berdasar revolusi bulan, dan ada tahun baru Saka yang dirayakan dalam kesunyian. Kontras dengan perayaan tahun baru Gregorian yang gemerlap dan berisik di New York dan Sydney.

Berbagai budaya memang memiliki perayaan tahun baru yang berbeda-beda, namun banyak di antaranya yang bertema mirip: periode sekitar tahun baru dimanfaatkan untuk pembersihan diri dan menyiapkan diri untuk kehidupan baru. Inilah pendorong utama dari resolusi tahun baru.

Dan masyarakat masa kini secara umum mendorong kebiasaan ini. Kita banyak mendengar teman-teman yang memiliki cita-cita baru untuk tahun baru, dan akhirnya kita ikut karena dorongan ini. Di luar lingkaran sosial, iklan-iklan juga memiliki andil. Jika resolusi tahun barumu adalah untuk hidup sehat, banyak sarana olahraga yang menyediakan diskon untuk keanggotaan. Atau jika rencanamu sekadar mencoba penampilan baru, diskon pakaian tak pernah sepi.

Pada akhirnya, tiap orang menentukan makna tahun baru – atau menentukan bahwa tahun baru tak berarti – bagi dirinya sendiri. Namun yang pasti, tahun baru adalah bagian dari sejarah manusia yang selalu berusaha menggenggam waktu dan memahami hal di sekitarnya.

 

Sumber: Caesar’s Calendar: Ancient Time and the Beginnings of History oleh David Feeney