Banyak yang bilang kalau bunga adalah simbol kasih sayang. Biasanya bunga banyak ditemui di momen-momen romantis, hari pernikahan misalnya. Tetapi jangan lupa –dalam makna yang masih sama– saat upacara kematian, bunga juga hadir.

Dalam pesta pernikahan, bunga menjadi elemen penting yang menegaskan bahwa ada sebuah peristiwa bernama penikahan. Dua insan manusia yang mengikat janji untuk sehidup-semati. Paling tidak begitu sederhananya.

Tetapi, masih dalam konteks pernikahan, pernahkah kita bertanya-tanya kemanakah si “bunga” usai pesta pernikahan?

IndonesianYouth.org sempat menemui sebuah komunitas yang mendaur ulang bunga-bunga dekorasi pesta dengan memetik, merangkai kembali, memberikan dan menjadikannya media komunikasi: Daur Bunga.

Daur Bunga percaya, kalau bunga bukan hanya sekadar pemanis, tetapi lebih dari itu. Bunga bisa menjadi medium untuk berkomunikasi dan menyadari betapa berartinya seikat –atau mungkin setangkai– bunga bagi orang yang menerimanya.

Kesadaran ini pun diperkuat dengan bertambahnya kegiatan Daur Bunga yang lebih menyasar kepada penghuni panti sosial dan pasien kanker. “Kalau kita lihat orang-orang di panti sosial, mereka itu psychologically longing for something,” ujar Talisa, salah satu pendiri Daur Bunga, pada wawancara dengan IndonesianYouth.org.

Karena inilah, buket bunga dijadikan media komunikasi antara relawan dan tujuan donasi bunga. Pada pengarahan di kegiatan-kegiatan Daur Bunga, relawan selalu diminta untuk ngobrol dengan orang yang diberikan bunga, dan tidak diberi batas waktu.

Pengalaman yang paling menggugah bagi Talisa datang dari filosofi bunga sebagai media komunikasi ini. Menurut pengalamannya, biasanya kakek-kakek di panti sosial selalu malu jika diberi bunga, namun salah satu relawan malah mendapat pengalaman yang menggugah ini setelah memberi bunga ke seorang kakek di sebuah panti sosial di Pondok Indah. Kakek tersebut, tanpa diduga, mengambil botol dan meletakkan bunganya di botol itu, kemudian menunjukkan album foto kepada Talisa. Sang kakek dan Talisa larut ke dalam perbincangan.

Selain itu, saat donasi ke pasien-pasien kanker di rumah sakit, para relawan banyak menerima wejangan-wejangan kehidupan dari para pasien. “Waktu itu relawan-relawan merasa terharu banget, karena para pasien menasihati supaya sayang orang tua dan mensyukuri kesehatan,” kisah Talisa.

Tak ada bunga yang tak layu. Kegiatan-kegiatan Daur Bunga pernah mendapat hambatan. Para relawan Daur Bunga pernah diusir dari taman saat sedang merangkai bunga untuk pasien-pasien di RS Dharmais. “Katanya perlu surat, namun waktu diiyakan, tetap nggak boleh karena katanya mau ada penilaian kebersihan.” Relawan-relawan petik juga sempat mendapat tatapan tidak menyenangkan dari tamu-tamu pesta yang tidak mengenali Daur Bunga.

Secara umum, Talisa merasakan pengalaman yang positif dalam kegiatan-kegiatan Daur Bunga. Ia awalnya tidak menyangka relawan-relawan akan begitu tersentuh. Ia juga menyatakan bahwa semua relawan mendapat kesan yang menyenangkan setelah menjadi relawan di kegiatan Daur Bunga.

Gerakan yang dirikan oleh dua orang dengan tiga orang mitra dan bermula di Jakarta ini sekarang sudah mendapat minat dari kota-kota lain untuk membuat kegiatan serupa. Kegiatan luar Jakarta pertama akan dilaksanakan di Yogyakarta pada 9 April 2017. Talisa berharap ada salah satu pendiri yang bisa membantu di sana. Kemudian, ia mengharapkan di masa depan Daur Bunga bisa mengadakan berbagai kegiatan bahkan tanpa pendirinya sekalipun.

Selain memberi bunga kepada panti sosial dan pasien, Talisa berimpian bisa memberikan bunga dengan skala besar kepada buruh-buruh pabrik. “Kita ingin memberi bunga ke buruh-buruh pabrik, nah ini perlu bunga yang banyak dan relawan yang banyak juga Keren juga tuh kalau bisa petik bunga dari acara kepresidenan, terus dikasih ke buruh pabrik,” katanya.

Menurut pengalaman para relawan Daur Bunga, buket-buket bunga yang dirangkai para amatir dengan bunga-bunga bekas dekorasi pun bisa menjadi kesempatan berbagi yang menyentuh bagi pemberi dan penerima: bukti kasih sayang kepada sesama.