Dalam rentetan hari libur nasional selama satu tahun saja ia tak masuk dalam daftar. Sebetulnya peringatan Hari Puisi Nasional pun masih belum ditentukan kapan pastinya. Masih terjadi perdebatan. Beberapa menyebutkan bahwa peringatan Hari Puisi Nasional diambil dari tanggal wafatnya Chairil Anwar, 28 April.

Sementara itu, versi lainnya menyebutkan bahwa pernah ada pertemuan 40 penyair Indonesia di Pekanbaru, termasuk di dalamnya Sutardji Calzoum Bachri, yang menetapkan bahwa Hari Puisi Nasional jatuh pada 26 Juli. Pemilihan tanggal tersebut merujuk pada kelahiran Chairil Anwar.

Terlepas pada peringatan hari puisi yang diambil dari hari meninggal atau lahirnya Chairil Anwar, yang barangkali bisa ditekankan adalah penentuan hari puisi ini bergantung pada hidup dan matinya “Si Binatang Jalang”.

Chairil mengenyam pendidikan di sekolah elite untuk pribumi. Pelopor Angkatan 45 dalam kesusastraan Indonesia ini melahap habis buku-buku untuk sekolah tingkat atas (setara SMA) saat ia berusia 15 tahun. Sejak saat itu pula ia memutuskan untuk jadi seniman. Sekolah tinggi dirasa tak harus, karena banyak membaca itu lebih penting.

Di saat yang lain angkat bedil, di saat diplomasi gencar dilakukan, Chairil memilih puisi sebagai senjata pamungkasnya. Chairil sempat ditahan pada 1943 karena puisinya yang berjudul “Siap Sedia”. Dalam sebuah penggalannya “Kawan, kawan. Kita mengayun pedang ke dunia terang!”. “Dunia terang” dianggap mengacu pada Jepang. Chairil didakwa dengan tuduhan mendorong pemberontakan terhadap Jepang.

Lain penjajahan, lain pula dengan percintaan. Urakan sekaligus kuat secara karakter dan kepribadian, meski seringkali merepotkan kawan-kawannya, Chairil digandrungi banyak perempuan. Pun banyak juga ia memuji perempuan yang ia puja dan mengabadikan kisah cintanya dalam bentuk puisi.

Pada 2007 silam, sejarawan dan wartawan senior, Alwi Shahab berhasil menemui Sri Ayati pada usia 88 tahun. Seorang penyiar radio Jepang, Jakarta Hoso Kyokam. Chairil membuat dua puisi untuk perempuan yang ia kagumi itu: “Hampa -kepada Sri yang selalu sangsi” (1943) dan “Senja di Pelabuhan Kecil” (1946).

Kala itu Sri mengaku tidak tahu siapa gadis yang bernama Sri yang dimaksud Chairil. “Sri mengaku heran kenapa Chairil membuat sajak untuknya… Chairil sendiri tidak pernah menyatakan cintanya pada Sri Ayati,” tulis Alwi Shahab.

Lain lagi dengan karyanya yang berjudul “Sajak Putih”, kali ini dipersembahkan untuk perempuan bernama Sumirat. Chairil bertemu Sumirat pertama kali di Pantai Cilincing Jakarta. Saat Sumirat pulang kampung ke Madiun, Chairil menyusulnya dan sempat tinggal beberapa hari di sana. Ayah Sumirat merestui hubungan mereka dengan syarat Chairil punya pekerjaan tetap. Chairil kembali ke Jakarta dan memilih untuk tidak kembali lagi. Mereka berpisah. Chairil pamit dengan uang saku dari ayah Sumirat, karena memang tidak punya uang sepeser pun.

Chairil meninggalkan koper berisan buku-buku dan berkas tulisan. Dan rumah Sumirat hancur ketika Belanda menyerang. Sumirat mendengar semua kabar tentang Chairil: menikah, punya anak, menjadi penyair besar, lalu mati di usia muda. 27 tahun.

Pelabuhan cinta Chairil yang berujung pada pelaminan adalah Hapsah Wiriaredja. Hapsah hampir menikah dengan seorang dokter, namun Chairil berhasil memenangi hatinya. Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak bernama Evawani. Chairil dan Hapsah memiliki panggilan dalam keluarga. Chairil dipanggil Nini oleh Hapsah, dan gajah adalah panggilan sayang Chairil kepada Hapsah.

Dalam Chairil Anwar Derai-derai Cemara, Chairil pernah mengungkapkan cita-citanya, “Gajah, kalua umurku panjang, aku akan jadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan.” Sayangnya cita-cita Chairil yang ini tak terwujud.

Beberapa kisah cinta Chairil Anwar ini juga yang barangkali berhasil membuat Cinta penasaran dengan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Seorang pria yang terlihat misterius yang juga acapkali bersandar pada sajak Chairil yang berjudul “Aku”.

Chairil juga populer dengan foto dirinya yang sedang mengisap rokok. Meski kata iklan, merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, ia abai. Tapi ketika dikatakan merokok membunuhmu, agaknya itu bisa ia amini di alam sana.

Kembali pada perdebatan peringatan Hari Puisi Nasional, mau kau ambil dari hari kelahiran atau kematian ‘Si Binatang Jalang’ ini, itu terserah, Bung! Puisi tetap tak lepas dari nama Chairil Anwar.

sumber: dihimpuna dari berbagai sumber.