Pada tahun 2002 Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, menetapkan Hari Buku Nasional saban tanggal 17 Mei. Bukan tanpa alasan –meski terkesan terlambat ketimbang Hari Buku Internasional— penetapan Hari Buku Nasional merupakan bagian dari upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Sebab, negeri ini masih memiliki kebiasaan membaca yang sangat memprihatinkan!

Berdasarkan data UNESCO dan Ranking The World’s Most Literate Nations (WMLN) pada 2016, seperti dikutip dari beritagar.id, kebiasaan membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Angka itu sebenarnya berbanding terbalik dengan peringkat ketersediaan perpustakaan di Indonesia, yang menempati posisi ke-36 –berdasarkan data dan sumber yang sama. Artinya, jumlah perpustakaan di Indonesia tergolong mumpuni.

Rendahnya minat baca negara kita, secara langsung ataupun tidak, dapat berdampak pada sektor penjualan buku. Jepang misalnya, penjualan buku per tahun bisa mencapai angka 40 ribu judul buku, atau, di Tiongkok bisa mencapai 140 ribu judul buku per tahun di tahun 2016. Angka ini tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia yang rata-rata hanya 18 ribu judul dicetak tiap tahunnya.

Padahal, di luar itu, terdapat manfaat dalam membaca buku. Menstimulai mental, misalnya. Beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa dengan membaca buku dapat merangsang mental, bahkan mencegah penyakit Alzheimer dan demensia.

Membaca buku juga dapat mencegah penurunan fungsi kognitif. Hal tersebut berdasarkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Rush University Medical Center yang menyatakan, seseorang yang menghabiskan waktu mereka untuk melakukan kegiatan kreatif atau intelektual seperti membaca mengalami tingkat penurunan kognitif hingga 32 persen, ketimbang yang tidak membaca dikemudian harinya.

Turunan lainnya, dengan membaca buku, secara sahih dapat meningkatkan kualitas memori. Itu yang diaktakan seorang Presiden Direktur dari Riset Haskins Laboratories bernama Ken Pugh yang menjelaskan, kebiasaan membaca buku dapat memacu otak untuk berpikir dan berkonsentrasi.

Manfaat lainnya, selain melatih menulis dengan baik, adalah berguna untuk menambah kosakata dan bermanfaat untuk mengartikulasikan, membantu menyampaikan pendapat dengan bahasa yang lugas, dan menambah rasa percaya diri pada saat berbicara dengan orang lain.

Sebenarnya masih banyak manfaat lain dari membaca buku –juga yang teruji secara ilmiah– yang tak mungkin dipaparkan semua di sini. Akan tetapi, terpenting adalah dengan membaca buku 15 menit per hari saja, kita sudah dapat merasakan manfaat yang sudah dijelaskan tadi, serta bisa mningkatkan angka minat membaca negara kita sekaligus menghargai para penghasil karya.

Untuk itu, mari kita baca buku mulai sekarang. Selamat Hari Buku Nasional Anak Muda Indonesia!