Raden Ajeng Kartini dikenal karena perjuangan emansipasinya. Kegigihannya mengedepankan hak-hak perempuan di zaman penjajahan Belanda perlu kita apresiasi dan tiru semangatnya. Tetapi, apakah hanya semata seorang Kartini yang diagung-agungkan?

Sementara, Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali dalam tulisannya menyebut, Kartini sebagai sosok perempuan pejuang memang berlatar belakang politis. Dan dipilihnya Kartini, melalui Keputusan Presiden (Kepres) Tahun 1964 yang ditandatangani Presiden Soekarno, sebagai Pahlawan Nasional Perempuan memiliki unsur politik etis.

“Kartini itu sosok yang dimunculkan oleh Pemerintah Belanda. Di awal tahun 1900-an, figur itu diciptakan Pemerintah Belanda untuk mengendalikan kaum perempuan,” kata Asep Kambali seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Kalau begitu, selain Kartini, perempuan mana lagi yang enggak kalah luar biasanya?

Dewi Sartika

Sebelum Kartini mendirikan Sekolah Kartini, rupanya sudah ada Sakola Istri atau Sekolah Perempuan yang sudah berdiri lebih dulu. Sekolah itu didirikan oleh perempuan Sunda bernama Dewi Sartika.

Dewi Sartika sangat peduli terhadap pendidikan. 16 Januari 1904 atau ketika Dewi Sartika baru menginjak usia 20 tahun ia sudah mendirikan Sakola Istri. Sebuah sekolah yang bertujuan memerdekakan perempuan dari ketidakmandirian dan kebodohan, serta mengajarkan bahasa Belanda.

Pada tahun 1912, sudah berdiri sembilan Sakola Istri di hampir seluruh kota-kota Kabupaten Pasundan. Tahun 1914, Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Tjoet Nyak Dhien

Cerita lain datang dari perempuan bernama Tjoet Nyak Dhien di tanah Aceh. Agak berbeda dengan perempuan lainnya, Tjoet Nyak Dhien dikenal cukup garang dalam melawan penjajah. Bahkan, kegarangannya terdengar seperti laki-laki.

Bersama sang suami, Teuku Umar, Tjoet Nyak Dhien ikut berperang dan menghunuskan rencongnya demi mengusir Belanda. Walaupun sang suami gugur di medan perang, Tjoet Nyak Dhien hanya berujar “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”

Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 18 September 1910 dan tumbuh dewasa di tengah bersemainya gerakan nasionalis, marxisme, dan islam modernis di sana. Tetapi tidak membuat Rasuna Said ciut untuk membuat Belanda angkat kaki dari Tanah Air.

Melalui Partai Muslimin Indonesia (Permi) ia berjuang. Dari situ juga Kak Una, panggilan akrab Rasuna Said, mulai dekat dengan koran dan orasi politik. Semangat perjuangannya begitu dahsyat, bahkan mengalir dalam darahnya yang terbawa dalam pidato-pidatonya saban orasi. Pidato Rasuna dikenal begitu menyulut semangat kemerdekaan. Belanda tidak senang. Dirinya dipenjarakan di Semarang, Jawa Tengah.

Seusai mendekam di jeruji besi,  ia justru mendirikan koran bernama Raya. Belanda terancam. Ruang gerang gerak Raya dipersempit, Permi tak bisa berbuat banyak. Rasuna kecewa.

Rasuna kembali ke Sumatera dan mendirikan majalah mingguan bernama Menara Poeteri. Bedanya, di sini Rasuna kerap menggunakan nama samaran. Tema majalahnya tentu menantang penjajah, tulisan Rasuna begitu tajam, analisanya tepat sasaran. Kuping Belanda panas.

Sebuah koran di Surabaya pernah menulis perihal Menara Poetri ini: “Di Medan ada sebuah surat kabar bernama Menara Poetri, isinya dimaksudkan untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional.”

Wan Moy dan Auw Tjoei Lan

Terakhir, ada yang perlu kamu tahu nih, Han Wan Moy. Ia juga punya andil besar dalam perjuangan Indonesia. Wanita asal Jawa Tengah ini telah aktif berjuang sejak usia 13 tahun. Bedanya, ia berjuang dengan cara merawat para prajurit yang terluka. Sebab, Wan Moy aktif di Palang Merah Indonesia.

“Waktu itu ia jadi mata-mata tentara Siliwangi untuk memata-matai Belanda,” kata sejarawan dari Yayasan Nabil, Didi Kwartanada, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Sedangkan Auw Tjoei Lan, ia berjuang melindungi para gadis-gadis asal Macau dan Tiongkok Selatan yang menjadi korban penyelundupan ke Batavia untuk dijadikan pelacur, yang kemudian ditampung di Roemah Piatoe Ati Soetji, sebuah badan usaha sosial yang diyakini didirikan pada 27 Oktober 1914 oleh Dokter Zigman di Batavia.

Atas ketulusan hatinya, ia pernah diberi penghargaan kehormatan Ridder in de Orde van Oranje Nassau pada 24 Agustus 1925.