Setelah berkeliling ke berbagai festival di dunia, akhirnya sebuah karya film berjudul Istirahatlah Kata-kata besutan Yosep Anggi Noen bisa dinikmati penonton di Indonesia. Film ini terinspirasi dari puisi dan hidup penyair Widji Thukul.

Istirahatlah Kata-kata menceritakan kehidupan Widji (diperankan Gunawan Maryanto) yang sepi dan sunyi sebagai buronan politik masa Orde Baru (Orba) saat singgah di Pontianak. Film ini menggambarkan bagaimana pria kelahiran 1966 itu menjadi seorang yang begitu traumatis, bila melihat orang lain. Kekhawatiran selalu muncul, bahkan dia tidak pernah tidur selama beberapa hari di tempat persembunyian, karena kerap mengawasi lalu-lalang orang-orang sekitar. Cenderung paranoid.

Widji baru berani keluar rumah ketika malam hari, itu pun di atas jam 10 malam, bersama rekan yang membantunya, Thomas Daliman, selama di Pontianak.

Selain itu, film ini juga menggambarkan Sipon (Marissa Anita), istri Widji, yang harus menahan beban lantaran ditinggal Widji bersembunyi. Selama itu juga Sipon ditekan, rumahnya diawasi, dan beberapa kali digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi.

Sipon juga sempat dituduh sebagai “wanita penghibur” oleh tetangganya sendiri yang melihat dirinya masuk ke dalam sebuah penginapan saat menemui Widji secara sembunyi-sembunyi.

“Aku bingung, Mas, mau senang saja susah. Aku enggak ingin kamu pergi, aku juga enggak ingin kamu pulang. Tetapi aku ingin kamu ada,” kata Sipon dalam percakapannya bersama sang suami.

Sebagai sutradara, Anggi mengaku sudah menanti-nanti film ini tayang di Indonesia. Baginya, film ini memang didedikasikan untuk masyarakat Indonesia.

“Saya sangat menanti hari-hari ini. Film ini terlebih dahulu tayang di festival dunia, tapi yang paling penting dan sejatinya film ini didedikasikan untuk penonton Indonesia,” kata Anggi dalam jumpa pers di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (16/01/2017).

“Lebih jauh lagi, film ini mengenai tentang sejarah kemerdekaan, bahwa kebebesan berpendapat, demokrasi tidak datang secara tiba-tiba. Banyak korban, banyak yang hilang, dan hingga hari ini kasusnya masih belum selesai,” ujar Anggi.

Senada dengan Anggi, Melanie Subono yang juga pemeran dalam film tersebut mengatakan film ini menjadi upaya untuk mengingat Widji Thukul dan 12 teman lainnya yang belum kembali hingga saat ini.

“Film ini upaya untuk mengingat kebebasan. (Kebebasan) yang kita hirup ini adalah perjuangan berat. Widji Thukul belum kembali. 12 temannya yang lain juga belum kembali. Ini implementasi dari kita anak-anak muda. Demokrasi diraih melalui jalan yang panjang,” tuturnya.

Kemudian, Marissa Anita yang memerankan istri Widji Thukul mengaku, Sipon adalah perempuan tangguh dan seorang istri yang akan terus mendukung suaminya untuk selama-lamanya.

“Bagi sebagian orang mereka bisa saja dengan mudah meninggalkan, enggak bisa, karena dia cinta dan dia akan selamanya sama Widji, dan tiba-tiba hilang,” ucap Marissa.

Istirahatlah Kata-kata sendiri merupakan film produksi Muar Foundation, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films, dan KawanKawan Film yang diperankan oleh Gunawan Maryanto, Masrissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Manalu, Arswendi Nasution, Dhafi Yunan, dan Joned Suryatmoko.

“Film istirahatlah Kata-kata akan hadir di 18 layar bioskop yang tersebar di 14 kota di Indonesia melalui jaringan Cinema 21, Cinemaxx, dan CGV. Semoga daftar pertama layar-layar di bioskop ini diminati oleh penonton. Ada permintaan dari penonton di kota-kota lain, dan antusiasme itu hanya dapat terwujud jika penonton di 12 kota ini baik jumlahnya,” ujar sang Produser, Yulia Evina Bhara.

Karya sendiri juga ini sudah mendapatkan penghargaan Film, Sutradara, Aktor, dan Aktris terbaik majalah Tempo 2006, meraih Piala Dewantara dalam Apresiasi Film Indonesia, memenangkan  Golden Hanoman Award dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival Jogjakarta, mendapat nominasi Sutradara dan Penulis Naskah terbaik dalam Festival Film Indonesia.

Selain di Indonesia, film Istirahatlah Kata-kata telah berpartisipasi dalam berbagai festival film internasional seperti: Festival del Film Locarno, Swiss; The Pacific Meridian International Film Festival, Vladivostok, Rusia; Filmfest Hamburg, Jerman; Quezon City International Film Festival, Filipina; Festival Des 3 Contines, Competition, Nantes, Prancis; International Film Festival Rotterdam, Belanda.