Semua boleh setuju: Pidi Baiq adalah sosok eksentrik yang selalu punya cara membangkitkan gairah hidup. Semangatnya ia tuangkan lewat band paling absurd yang pernah saya tahu, The Panas Dalam. Kekonyolan penuh makna ia goreskan melalui Bajingan yang Bergerak Bersama Waktu. Atau ke-nyelenehan-nya mampu membuat kita yang kadung di titik nadir ingin tertawa, yang mati rasa ingin bercinta.

Kalau tak percaya coba tengok sedikit bukunya dalam empat seri Drunken. Anda akan menemukan obat gembira paling mujarab dan tertawa adalah satu-satunya efek yang muncul dari buku itu.

Ada juga trilogi kisah Dilan. Cerita percintaan remaja berlatar belakang 90-an yang sukses membuat kita jadi super baper: yang enggak punya pacar ingin punya, yang belum punya kriteria pacar secara khusus mendadak ada, atau paling naas, yang sudah punya pacar ingin putus karena pacarnya enggak seromantis Dilan atau secantik Milea!

Novel Dilan, bisa dibilang antitesis dari novel romansa remaja kebanyakan saat ini. Kisah Dilan ditulis dan dikemas amat begitu ringan dan lepas, tak ada tendensi apapun. Sampai-sampai, norma-norma penulisan ditabraknya dengan santai. Kadang bikin lemas, kadang bikin gemas.

Kang Pidi dengan lihai merangkai kata-kata sederhana sehingga memiliki kedekatan dan dengan mudah membuat pembacanya merasuk ke dalam cerita, seakan kita adalah protagonisnya.

Belakangan kisah Dilan kembali ramai diperbincangkan. Ada dua yang bikin ramai dibicarakan netizen –maaf, belum biasa menggunakan warganet, akan dicoba selanjutnya. Pertama, tentang diangkatnya cerita ini ke layar lebar. Kedua, pemeran Dilan sendiri.

Untuk alasan kedua, warganet ramai-ramai protes kalau aktor utamanya –si Iqbal CJR– tidak cocok memerankan Dilan. Mereka muntab, beragam argumennya: terlalu ganteng, terlalu polos, kurang bad boy, tidak kucel, dan macam umpatan-umpatan lainnya.

Sebenarnya usul para warganet ini lumayan, mulai dari Reza Rahardian, Junot, Vino Sebastian, hingga Adipati Dolken. Khusus nama pertama, memangnya enggak bosan gitu?

Ada juga usul yang cukup absurd. Misalnya, Entis Sutisna alias Sule atau Epy Kusnandar didapuk menjadi sosok paling pas untuk memerankan Dilan. Alasannya, hanya karena sama-sama berasal dari Jawa Barat. Bener-bener asbun.

Pembaca yang baik hatinya, jangan pernah lupakan bagaimana dulu Daniel Radcliffe dihujat babak belur karena dinilai tidak pantas memerankan Harry Potter. Tapi lihat sekarang, pecinta Hary Potter enggak bisa move on: Daniel Radcliffe ya Harry Potter, dan Harry Potter ya Daniel Radcliffe. Masih banyak cerita sejenis yang bisa didapatkan tentang bagaimana para pemeran selalu dianggap sebelah mata sebelum diizinkan memainkan perannya.

Lagipula, mengangkat film berdasarkan novel itu tidaklah mudah. Setidak mudah meyakini kamu agar mau dimadu. Memerankan sebagai tokoh yang diangkat dari kisah fiksi tidak juga gampang, apalagi harus memenuhi bayangan pembaca. Yang sialnya, tidaklah sama satu dengan lainnya.

Misalnya beigni, karakter Dilan yang saya bayangkan belum tentu sama dengan apa yang Anda bayangkan. Gambaran saya, Dilan itu warna rambutnya alay, kulitnya sawo matang, mandinya jarang, dan sikat giginya seminggu sekali. Pasti bayangan Anda berbeda bukan? Kalau pun ada kesamaan, mungkin hanya Dilan yang hobi mengendarai motor dengan jaket ala gangster-nya.

Begitu juga dengan Oom Fajar Bustomi sang sutradara yang tidak mungkin memenuhi semua imajinasi sampeyan. Pak sutradara pasti sudah memiliki penafsiran serta perhitungan yang meliputi pasar, segmentasi penonton, cost produksi, dan cuan-nya sendiri, sehingga mantap pilihannya kepada Iqbal CJR.

Lagipula saya juga yakin sang sutradara ingin memberi warna berbeda dengan apa yang sudah terkandung dalam buku. Kalau sama saja dengan bukunya, percuma rasanya difilmkan. Untuk itu mari kita coba kritisi film sebagai film, buku sebagai buku.

“Membuat film dari buku sebaiknya jangan ditujukan untuk memuaskan pembaca,”¬†kata Dewi Lestari yang bukunya sudah sering difilmkan. “Kalau tujuannya sekadar itu saja, jelas tidak mungkin dilakukan. Tugas utama pembuat film adalah bikin film bagus. Itu saja. Setiap karya, mau itu film atau buku, pasti akhirnya akan ada yang suka dan tidak.”

Teruntuk Dilan Lovers, Maka, biarkanlah Iqbal CJR memerankan Dilan.