Begitu banyak penelitian menyebutkan, yang intinya, bahwa rokok sama dengan sumber penyakit. Namun, di sisi lain banyak pula penelitian yang mengatakan konsumsi rokok di kalangan anak muda meningkat.

Penelitian The Tobacco Atlas 2015 yang mengatakan Indonesia meraih peringkat satu dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun dengan 66 persen pria di Indonesia merokok.

Hal itu juga diperkuat lewat data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dipublikasi tahun 2016 dengan menunjukkan prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat: 7,1 persen di tahun 1995 menjadi 20,5 persen pada tahun 2014.

Semakin mengkawatirkan lagi, usia mulai merokok semakin muda atau dini di Indonesia. Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100 persen dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun. Iya kurang dari 20 tahun!

Sementara itu data Rumah Sakit Persahabatan tahun 2013 memperlihatkan, tingkat kecanduan atau adiksi anak SMA yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8 persen. Artinya 1 dari setiap 5 orang remaja yang merokok, telah mengalami kencaduan.

Data-data tersebut menunjukan fakta bahwa merokok jelas berakibat pada buruk pada kesehatan masyarakat Indonesia. Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya.

“Penyakit tidak menular ini telah menjadi penyebab utama kematian di Indonesia,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Lily Sulistyowati, seperti dikutip dari Kompas.com.

Kemudian Survei Transisi Penduduk Dewasa Muda di Jakarta dan Sekitarnya 2010 (20-34 tahun ke atas) menunjukkan bahwa jenis kelamin dan pendidikan merupakan faktor penting terhadap kebiasaan merokok.