Tingkat tuna aksara atau buta huruf di Indonesia tiap tahunnya mengalami penurunan, bisa dibilang signifikan. Sesuatu yang patut kita sukuri bersama. Meski pekerjaan ini bukan berarti sudah selesai.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2005 tingkat tuna aksara di Indonesia mencapai 9,55 persen atau berkisar 14,9 juta orang secara nasional.

10 tahun berselang, angka itu turun menjadi 5,96 juta orang. Dan di tahun lalu kembali turun menjadi 3,4 juta orang.

“Peringatan HAI yang dirayakan seluruh warga dunia merupakan kesempatan bagi pemerintah dan seluruh masyarakat untuk menyoroti peningkatan tingkat melek huruf di dunia, dan merenungkan tantangan keaksaraan yang tersisa di dunia,” tutur Dirjen PAUD dan Dikmas) Kemdikbud Harris Iskandar, mengutip Republika.

kredit: Rouzel Waworuntu

Kemudian, BPS mencatat, berdasarkan gender ternyata perempuan adalah orang dengan buta aksara tertinggi yang mencapai 2.258.990 orang, sedangkan laki-laki mencapai 1.157.703 orang.

Dari data itu, bisa jadi, streotip “perempuan itu urusannya di dapur” masih melekat di beberapa daerah di Indonesia. Akan tetapi, itu masih butuh riset mendalam lagi.

Adapun angka tuna aksara usia 15-59 tahun di Indonesia di 11 provinsi:

Papua (28,75 persen)
NTB (7,91 persen)
NTT (5,15 persen)
Sulawesi Barat (4,58 persen)
Kalimantan Barat (4,50 peren)
Sulawesi Selatan (4,49 persen)
Bali (3,57 persen)
Jawa Timur (3,47 persen)
Kalimantan Utara (2,90 persen)
Sulawesi Tenggara (2,74 persen)
Jawa Tengah (2,20 persen)

Tahun ini, dunia memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Tema HAI tahun ini yang diusung oleh UNESCO adalah “Literacy in a Digital World”.